by

(Opini) Antara Pecahnya Suara Melawan Danny dan Munculnya Kuda Hitam None

Ilustrasi

Oleh: Muh. Saiful

Smartcitymakassar.com – MEMASUKi tahun 2020 merupakan tahun politik bagi sejumlah daerah di Indonesia. Pilkada serentak akan berlangsung September 2020 nanti. Salah satu daerah yang bertahun politik adalah Kota Makassar, yang merupakan ibu kota dari Provinsi Sulawesi Selatan.

‘FooterBanner’


Meskipun Pilkada Makassar bisa menghadirkan 5 paslon, namun berdasarkan hasil survei, untuk calon walikota ada empat nama yang disebut buat paling kuat, diantaranya Moh Ramdhan Pomanto (Danny), Syamsu Rizal (Deng Ical), Irman Yasin Limpo (None), dan Munafri Arifuddin (APPI).

Masalah Usungan Partai

Adapun Paslon yang ingin mengendarai partai, syarat wajib minimal 10 kursi atau 20 persen DPRD Makassar. Berikut kursi di DPRD Makassar: Nasdem 6 kursi, Demokrat 6 kursi, PDIP 6 kursi, Golkar 5 kursi, Gerindra 5 kursi, PAN 5 kursi, PPP 5 kursi, PKS 5 kursi, Hanura 3 kursi, Perindo 2 kursi, Berkarya 1 kursi, dan PKB 1 kursi, dengan total keseluruhan adalah 50 kursi.

Soal rekomendasi partai saat ini yang telah ada, Danny sudah mengantongi 6 kursi dari Nasdem. Begitupun dengan None sudah dapat 5 kursi dari PAN. Sedangkan Deng Ical sudah mengantongi 6 kursi dari PKB dan PKS.

Namun ketiganya belum mencukupi syarat minimum 10 kursi jika ingin maju menjadi calon walikota.

Sebagai informasi, saat ini masih tersisa 33 kursi. Olehnya peluang para calon masih terbuka lebar untuk nantinya bisa bertarung pada pilkada Makassar 2020 ini. Namun segala kemungkinan usungan partai masih bisa berubah, hingga hasil akhir pada saat pendaftaran di KPU nantinya yang menentukan resminya usungan partai tersebut.

Peluang Menang Para Calon

Berdasarkan hasil survei terkini dari Parameter Publik Indonesia yang dilakukan pada tanggal 1 sampai 6 Februari 2020, memperlihatkan ada empat calon kandidat yang memiliki elektabilitas terkuat, yaitu: Danny (34,0%), Deng Ical (23,4%), Appi (10,4%), None (10,0%), dan Rahasia/belum tahu/tidak menjawab (16,0%).

Adapun survei ini menggunakan metode multistage random sampling, dimana sebanyak 440 responden diwawancara tatap muka dengan menggunakan kuesioner. Sementara itu margin of error survei kurang lebih 4,8%.

Soal Danny, jika melihat peluang kemenangan para calon berdasarkan berbagai survei, Danny masih tertinggi. Hal ini menegaskan bahwa basis massa pemilih loyal Danny harus di akui masih yang terbanyak. Apalagi dengan kemungkinan pilkada Makassar ini akan diikuti banyak calon, akan semakin membuka lebar bagi Danny untuk terpilih kembali menjadi walikota Makassar untuk kedua kalinya, dengan terpecahnya suara bagi para pemilih yang bukan Danny. Disini pihak Danny hanya akan fokus tentunya buat swing voters. Apalagi tingkat pemilih rasional di kota kota besar termasuk Makassar tergolong tinggi.

BACA JUGA:  Kelangkaan APD di Kota Makassar, Dewan Harap Pemkot Berdayakan Penjahit

Soal Deng Ical, memang merupakan lawan terberat Danny saat ini. Adapun basis massa pemilih loyal Deng Ical adalah gabungan antara loyalis Deng Ical sendiri dan loyalis mantan walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin (Aco). Bicara soal Aco, pengalaman saat Appi-Cicu vs kotak kosong sudah bisa menjadi pelajaran besar, dimana saat itu Appi-Cicu bisa memperoleh suara yang cukup signifikan. Namun tentunya pihak Deng Ical menyadari bahwa Danny masih lebih kuat, olehnya wacana paketkan Deng Ical-Appi coba diserukan oleh pihak Deng Ical. Dan jika hal itu sulit terlaksana, maka pihak Deng Ical harus mencari wakilnya minimal hampir sama dengan Appi khususnya soal elektabilitas.

Soal Appi, hingga saat ini pihak Appi terus memperjuangkan rekomendasi partai untuk mengusung Appi menjadi calon walikota. Yang menjadi persoalan saat ini bagi APPI adalah pemilihan wakilnya yang sudah tentu bisa mendongkrak elektabilitas Appi, termasuk sama sama berjuang mendapatkan usungan partai. Dan jika Kubu Appi salah memilih wakil, maka tidak menutup kemungkinan hasil survei diatas menjadi kenyataan dimana Appi hanya berada di posisi ketiga.

Soal None, hingga saat ini None merupakan kuda hitam yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi PAN dengan hitungan politik sendirinya telah berani memberikan rekomendasi kepada None. Bahkan berdasarkan survei diatas, antara Appi dan None elektabilitas terpaut tipis. Artinya disisa waktu ini jelang pencoblosan September nanti, setelah bisa melampaui Appi, None besar peluangnya bisa menjadi kuda hitam bagi Danny dan Deng Ical, apalagi jika None memilih wakil yang sangat tepat. (*)

Penulis adalah pengamat politik dan kebijakan

Advertisements
‘PostBanner’

Comment