by

Nantikan, Lariz Wthree Hotel Siap Bikin Kejutan di Makassar

Keterangan Foto: General Manager (GM) Lariz Wthree Hotel Lagaligo Makassar

Smartcitymakassar.com – Makassar. Pelayanan, kebersihan, dan promo adalah contoh hal yang sudah pasti ada di industri perhotelan. Bagi Nanto General Manager (GM) Lariz Wthree Hotel Lagaligo Makassar, setiap tamu memiliki minimal tiga pilihan hotel sebelum memilih menginap atau menyelenggarakan acara.

Maka dari itu perlu seringnya ada inovasi dan perubahan, Nanto berencana membuat kejutan di Makassar dengan menghadirkan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. .Apa itu?

‘FooterBanner’


Baru tiga bulan di Makassar, Nanto sedang meraba-raba market disini. Dirinya juga berencana menjalin relasi dengan hotel bintang empat atau lima untuk berkolaborasi.

Nanto ingin menghapus kesan kalau hotel merupakan tempat yang esklusif, dengan membuat promo dan paket yang mudah dijangkau.

Menariknya lagi, bukan hanya sisi bisnis, bersama Lariz Nanto juga ingin ikut ambil bagian menjaga kebudayaan Indonesia.

Berikut adalah petikan wawancara smartcitymakassar.com dengan Nanto Senin (17/2) siang.

Hay Pak Nanto lokasi hotel Anda termasuk strategis karena dekat dengan pusat kota. Tapi dekat juga dengan banyak hotel. Menurut Anda?

Makassar adalah kota besar dan itu hal yang wajar. Pelayanan, kebersihan, dan promo adalah hal yang pasti. Semua hotel miliki untuk ditawarkan. Biasanya tamu memiliki tiga pilihan hotel sebelum menginap atau menyelenggarakan acara. Itulah yang membuat Kami harus punya sesuatu yang beda agar dapat dipilih. Kami siap bikin kejutan dengan mengahadirkan hal yang mungkin baru pertama kali disini. Apa itu? Tunggu tanggal mainnya, saya tidak mau membocorkannya sekarang.

Anda baru tiga bulan bekerja di Makassar, apa Anda yakin kejutan yang dibuat nanti cocok di Makassar?

Memang saya masih meraba-raba market disini, Tapi saya optimis kejutan itu bakal menarik perhatian dan cocok di Makassar. Dukungan Direksi dan Staf sangat saya perlukan, saya terbuka menerima masukan dari mereka.

BACA JUGA:  Dikabarkan PDP Corona, Mantan Dosen UIN Alauddin Makassar Meninggal di Rumah Sakit

Misalnya, di bulan Ramadan nanti saya berencana membuat event bergengsi untuk menunggu waktu berbuka. Masih wacana tapi layak dipertimbangkan.

Kami juga mencoba menjalin relasi dengan hotel bintang empat atau lima untuk berkolaborasi. Karena Mereka punya akses langsung ke pusat, soal informasi setiap event.

Itu saja?

Saya juga mau menghapus kesan hotel merupakan tempat yang esklusif dengan memberikan penawaran yang mudah dijangkau. Disini, hanya dengan Rp. 35ribu sudah bisa makan kenyang ditambah pelayanan khas hospitality.

Selain itu apa lagi?

Lewat Lariz saya mau ikut ambil bagian menjaga kebudayaan Indonesia. Pekan lalu bersama Forum Komuitas Paguyuban Masyarakat Jawa (FKMJ), kami menggelar silaturrahmi di Rooftop lantai 8 hotel.

Ada hiburan seperti tarian dan musik campursari di mainkan, Ini juga merupakan bentuk pelestarian budaya. Kemarin itu belum semua yang datang baru beberapa. Meraka merespon postif tempat kami, banyak dari mereka yang baru tahu. Kami berencana membuat event yang lebih besar lagi.

Anda tidak berniat mengangkat budaya Makassar?

Justru saya bersama tim sedang mencari seniman lokal untuk ikut berpartisipasi melestarikan kebudayaan. Contoh pada acara bersama FKMJ kemarin, bukan berarti semuanya harus orang Jawa. Sales kami Maya yang berasal dari Manado menjadi Master of Ceremony (MC) pada acara tersebut padahal dia tidak bisa sama sekali bahasa Jawa.

Alat musik seperti gamelan, angklung atau tarian, pakaian adat dan makanan khas itu bukan menjadi milik suku tertentu. Itu adalah milik bangsa Indonesia yang harus kita jaga bersama, jangan sampai di klaim negara lain**(Jen)

Advertisements
‘PostBanner’