by

Ancaman Virus Corona ke Pariwisata Indonesia Tidak Perlu Dikhawatirkan Berlebih

Bandara Ngurah Rai Bali. (Foto: VOA/ Nurhadi)

Smartcitymakassar.com – Jakarta. Keputusan Pemerintah Indonesia menutup arus turis dari China dinilai tepat. Dampak negatif akan timbul, tetapi dapat diminimalkan dengan strategi tepat.

Indonesia mampu mengundang lebih dari 2 juta wisatawan China tahun lalu. Karena itu, ketika virus corona merebak, salah satu sektor yang paling dikhawatirkan terdampak adalah pariwisata. Apalagi, pemerintah Indonesia telah menutup akses dari dan ke China daratan sejak Rabu. Di laman media sosialnya, Presiden Jokowi menyatakan itu untuk melindungi masyarakat.

‘FooterBanner’


“Indonesia menunda seluruh penerbangan dari dan ke China, dan tidak mengizinkan semua pendatang dari RRT, untuk sementara. Tentu kebijakan ini berdampak pada perekonomian Indonesia. Kebijakan itu harus diambil untuk melindungi seluruh rakyat Indonesia di Tanah Air,” tulis Jokowi.

Bagi pelaku pariwisata, keputusan pemerintah kali ini dinilai tepat. Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yogyakarta, Herman Tony kepada VOA mengatakan, penutupan akses penting untuk menjaga persepsi wisatawan dari negara lain.

“Karena kalau pemerintah lamban untuk menutup, itu bisa jadi bumerang bagi turis dari negara lain. Karena mereka punya persepsi Indonesia tidak steril untuk dikunjungi.

Langkah itu positif, supaya jangan membuat turis dari negara lain berpikir bahwa Indonesia tidak aman dikunjungi karena wisatawan asal China masih kesini. Ini juga yang dilakukan negara-negara lain seperti Malaysia dan Singapura. Takutnya ini tertular ke wisatawan dari negara lain,” ujar Herman Tony.

Jumlah Besar, Belanja Kecil

Tony mengakui, komunitas pariwisata sudah mengalami pembatalan rencana perjalanan. Jumlahnya belum diketahui sampai saat ini karena masih dihitung dan berkembang. Bali, kata Tony, menjadi daerah yang sangat terdampak karena wisatawan China menjadi salah satu tamu terbesar. Apalagi di periode pertama Jokowi, yang ditetapkan sebagai target adalah jumlah wisatawan.

Yogyakarta sendiri, kata Tony, sejak awal tidak begitu antusias untuk mengikuti program pemerintah mengejar wisatawan asal China sebanyak-banyaknya. Justru penyedia jasa relatif berhati-hati menerima rombongan dari negara tersebut. Langkah itu dinilai tepat, lanjut Tony, karena pengalaman Bali menunjukkan bahwa dari sisi jumlah memang besar, tetapi dari sisi penerimaan relatif kecil. Karena itu, menurut Tony, turunnya jumlah kunjungan wisatawan China tidak menimbulkan kekhawatiran berlebih.

“Kita pelaku usaha, sebenarnya mengkritisi kebijakan Menteri Pariwisata yang mendorong wisatawan China sebanyak-banyaknya. Pemerintah yang lalu itu mengejar target supaya 20 juta sampai tahun 2019. Jadi volume yang mereka kejar. Khawatirnya kita punya pasar Eropa, yang sudah lama kita kelola itu bisa tersingkir karena wisatawan Eropa dan wisatawan China itu attitude mereka berbeda. Wisatawan Eropa itu revenue-nya tinggi,” kata Tony.

Tony mengaku, dalam beberapa saat, wisatawan dari manapun akan menunggu dan melihat perkembangan yang terjadi. Jika penyebaran virus corona sulit dikendalikan, kemungkinan besar mereka akan menunda lebih jauh rencana perjalanan wisata.

Pemerintah, lanjut Tony, harus mengambil langkah strategi di masa wait and see ini. Salah satunya, dengan memberikan informasi jelas dan terbuka, mengenai apa yang dilakukan untuk mencegah penyebarannya.

Komunitas wisata sendiri sudah membuka posko di pintu-pintu gerbang utama wisata Indonesia. Kata Tony, langkah ini sebagai peran mereka untuk memberi rasa aman bagi wisatawan. Indonesia harus memberi tanda yang jelas kepada wisatawan, bahwa langkah-langkah yang tepat telah diambil.

BACA JUGA:  Soal Pembebasan Napi Koruptor di Atas Umur 60 karena Wabah Corona, Begini Reaksi KPK

Interdependensi Indonesia-China Tinggi

Institute International Studies (IIS) Universitas Gadjah Mada (UGM) telah melakukan pengamatan mendalam dampak virus corona bagi pariwisata dan ekonomi secara umum.

Menurut Arindha Nityasari, salah satu staf peneliti IIS, keputusan pemerintah menutup akses dari dan ke China membawa sejumlah resiko.

Salah satu dampak yang telah mereka petakan, kata Arindha, adalah akan semakin menguatnya sentimen anti-China di Indonesia, yang selama ini sudah ada.

“Karena aksesnya sudah diberhentikan, tetapi masih ada wisatawan China di sini. Kemungkinan juga akan ada komentar-komentar jahat terhadap wisatawan China yang ada di Indonesia,” kata Arindha.

Pernyataan ini merujuk pada fasilitas yang diberikan kepada wisatawan yang melebihi masa tinggal (overstay). Pemerintah telah memutuskan untuk memfasilitasi kelebihan masa tinggal ini hingga satu bulan ke depan.

Sementara di Padang pekan lalu, rombongan wisatawan asal China juga menimbulkan pro-kontra dan masyarakat setempat meminta mereka dipulangkan.

Arindha menegaskan, jelas Indonesia harus menanggung kerugian di sektor pariwisata. Dari sisi jumlah, wisatawan China adalah yang terbesar kedua setelah Malaysia. Namun, kerugian semacam ini tidak hanya dialami Indonesia, tetapi dalam skala global.

Dalam skala lebih luas, ekonomi Indonesia dan China akan sama-sama terpengaruh akibat kasus ini. Indonesia dan China lanjut Arindha, memiliki interdependensi ekonomi yang cukup tinggi. China merupakan partner dagang dan juga investor yang cukup besar bagi Indonesia. Ketegasan sikap pemerintah Indonesia, apapun itu, akan menghambat hubungan ekonomi kedua negara.

“Tidak hanya karena Indonesia bergantung pada China, tapi juga karena China bergantung pada Indonesia. Indonesia sudah menjadi “pasar” yang cukup besar bagi China, melalui proyek-proyek yang akan mereka canangkan di Indonesia pada 2020 ini. Seperti pembangunan kawasan ekonomi di Kalimantan Utara, pembangunan hydropower di beberapa daerah, dan juga yang sudah berlangsung adalah kereta cepat Indonesia-China,” tambah Arindha.

Peneliti IIS yang lain, Indrawan Jatmika menggaris bawahi bahwa sektor pariwisata Indonesia harus mencari negara sumber wisatawan yang lain. Namun, itu menghadapi kendala besar.

“Tapi secara umum, hal ini akan cukup sulit karena efek corona ini secara global memang sangat berpengaruh terhadap pariwisata. Pergerakan manusia sangat dibatasi supaya virus ini tidak semakin berkembang dan semakin menyebar kemana-mana,” kata Jatmika.

Jatmika menggarisbawahi, dampak virus corona bagi sektor ekonomi mungkin akan lebih dibanding kasus SARS pada awal tahun 2000-an. Ketika itu, pertumbuhan ekonomi China mengalami penurunan dari kisaran 11 persen menjadi sembilan persen.

Tahun ini, virus corona juga merebak bertepatan dengan perayaan Tahun baru China. Periode konsumsi tinggi di sekitar tahun baru yang bisa memompa transaksi keuangan, tidak terwujud sesuai rencana. Justru berbagai pelemahan yang terjadi yang mengancam ekonomi China. Pengaruhnya akan dirasakan banyak negara karena China adalah pusat produksi untuk banyak produk terkemuka dunia. (Aan/Voa)

Advertisements
‘PostBanner’

Comment