by

Kasus Siswi SMPN 147 Bunuh Diri, Julianti Noor: Deteksi Sejak Dini Masalah Psikologis dan Mental Anak Didik

Keterangan Foto: Julianti Noor saat menyampaikan program Cegah, Didik, dan Dampingi dihadapan anak SMP di kota makassar

Smartcitymakassar.com – Makassar. Peristiwa yang terjadi tanggal 14 Januari lalu di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 147, Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur, yang berakibat siswinya meninggal karena lompat dari lantai empat sekolah. Motifnya sementara ini masih ditelisik secara cermat dan hati-hati oleh tim Polrestro Jakarta Timur.

Tentu saja, kejadian tersebut menjadi perhatian beberapa pihak. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melalui Komisionernya Retno Listiyarti mengatakan pada Senin (20/01) lalu, dia akan menemui langsung pihak sekolah.

‘FooterBanner’


Salah satu pemerhati pendidikan dan pendiri sekaligus Ketua Umum Jendela Pendidikan Nusantara (JPN) – Julianti Noor, angkat bicara.

“Saya sangat menyesal hal tersebut terjadi,” urai Julia, sapaan akrabnya membuka perbincangan.

Menurut Julia, seyogianya pihak sekolah bisa mendeteksi potensi masalah yang bisa mempengaruhi anak didiknya. Bukan hanya masalah pelajaran, tapi juga masalah yang timbul dari interaksi antar anak didik, termasuk juga masalah yang dihadapi dalam keluarganya.

Julia menyadari bahwa dibutuhkan kerja ekstra para pendidik, agar bisa mendeteksi sejak awal kondisi psikologis dan mental anak didiknya. Utamanya masalah yang bisa berakibat fatal, seperti pertikaian antar mereka atau masalah perceraian orang tuanya.

Deteksi dini bisa ditahap wawancara saat masuk pertama sekolah dan selanjutnnya dilakukan secara berkala minimal 1 kali dalam 6 bulan.

BACA JUGA:  Tahapan Penyerahan Berkas Dukungan Tinggal 2 hari, Gunawan Mashar: Tidak Ada Tambahan Waktu

Jika sudah terdeteksi sejak awal potensi masalah, menurut Julia ada tahapan selanjutnya, yaitu: Pertama, Intervensi berupa konseling (oleh guru dan teman sebaya).

Kedua, Pembinaan dan konseling kepada keluarga agar ikut berperan aktif dalam memberikan bimbingan, meningkatkan kemampuan anak didik serta meningkatkan kesehatan mental dan psikologi.

Ketiga, Bila permasalahan tidak dapat ditangani di sekolah dapat meminta pihak ketiga, psikolog atau konseling pribadi dengan membaca catatan pengamatan kepribadian anak.

Julia sebagai Ketua Umum JPN menjelaskan juga bahwa, JPN punya kepedulian dan secara aktif memberikan perhatian besar kepada pendidikan anak-anak milineal.

“Program JPN cegah, didik, dampingi adalah salah satu program yang bertujuan memberikan kesadaran kepada pihak pendidik bahwa, mereka generasi yang perlu dididik dengan cinta terhadap mental dan karakternya. Sebab mereka adalah anak anak mileneal terlahir dengan kepintaran yang melesat jauh karena teknologi. Mereka butuh satu sisi yang hilang yakni perhatian dan cinta dengan cara berbeda oleh para pendidik dan pemerhati anak maupun generasi penerus lainnya,” tutup Julia**(Rafa)

‘PostBanner’

Comment