by

74 Tahun Lalu, Inilah Sejarah Singkat Perlawanan Rakyat Luwu

Patung sumbol perlawanan rakyat Luwu (ist)

Smartcitymakassar.com – Luwu. Andi Djemma adalah seorang Pahlawan Nasional dari Luwu, Sulawesi Selatan. Ia dilahirkan di Palopo, Sulawesi Selatan, pada tanggal 15 Januari 1901. Pada waktu itu, Palopo merupakan ibu kota kerajaan Luwu, sedangkan yang menjadi raja (datu) ialah Andi Kambo sang ibunda. Pada tahun 1935 Datu Luwu, Andi Kambo, meninggal dunia, dan oleh Dewan Adat yang disebut Ade Sappulu Dua akhirnya Andi Djemma menjadi Raja (Datu) Luwu.

Dibawah kepemimpinan Andi Djemma, Kedatuan Luwu adalah kerajaan pertama di Sulawesi Selatan yang menyatakan bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) begitu kemerdekaan dikumandangkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta.

‘FooterBanner’


Andi Djemma kemudian mendirikan “Gerakan Soekarno Muda” dan memimpin Perlawanan Semesta Rakyat Luwu.

Berita tentang Proklamasi Kemerdekaan diketahui Andi Djemma dari anaknya, Andi Ahmad, pada tanggal 19 Agustus 1945. Sementara itu Andi Ahmad mengetahui berita itu dari seorang perwira Jepang yang ditempatkan di Palopo. Andi Djemma segera memerintahkan agar berita itu disebarluaskan di kalangan masyarakat. Beberapa orang pemuda, termasuk anak Andi Djemma, Andi Makkalau, diperintahkan berangkat ke Makassar untuk menghubungi Dr. Ratulangi yang sudah diangkat Pemerintah RI sebagai Gubernur Sulawesi. Tujuannya ialah, untuk memperoleh informasi lebih lengkap mengenai perkembangan yang terjadi.

Sementara itu, untuk menggerakkan pemuda dalam rangka mendukung kemerdekaan, Andi Djemma memprakarsai pembentukan organisasi Soekarno Muda (SM).

Pada tanggal 2 September 1945, di bawah pimpinan Andi Ahmad, anggota Soekarno Muda melakukan gerakan merebut senjata Jepang di Palopo.

Di kemudian hari, Soekarno Muda berganti nama menjadi Pemuda Nasional Indonesia (PNI) dipimpin oleh Andi Makkalau dan akhirnya menjadi organisasi kelaskaran dengan nama Pemuda Republik Indonesia (PRI).

Bersama dengan mertuanya, Andi Mappanyukki (raja Bone), Andi Djemma memprakarsai pertemuan raja-raja Sulawesi Selatan pada pertengahan Oktober 1945. Dalam pertemuan ini, raja-raja tersebut menyatakan tekad berdiri di belakang Pemerintah RI. Pulang dari pertemuan ini, dalam rapat umum yang diadakan di depan Istana Luwu, Andi Djemma menyatakan bahwa daerah Luwu adalah bagian dari Negara Republik Indonesia dan para pegawai di Luwu adalah pegawai Republik Indonesia. Ia juga menegaskan bahwa Pemerintah Luwu menolak kerja sama dengan aparat Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Sikap tegas ini disampaikannya kepada para Pemangku Hadat. Beberapa anggota Pemangku Hadat yang tidak setuju dengan pendirian Andi Djemma, mengundurkan diri. Mereka diganti dengan bangsawan muda yang progresif.

Menjelang akhir September 1945, pasukan Australia yang mewakili sekutu tiba di Sulawesi Selatan. Mereka bertugas melucuti pasukan Jepang dan membebaskan para tawanan perang. Bersama mereka ikut pula pasukan dan aparat NICA/Belanda. Satu kontingen pasukan Australia tiba di Palopo bulan November 1945. Antara komandan pasukan ini dan Andi Djemma dicapai kesepakatan bahwa pasukan ini hanya bertugas melucuti pasukan Jepang, sedangkan pemerintahan sipil di Luwu tetap dipimpin oleh Andi Djemma.

Namun, Pasukan Australia yang bertugas di Sulawesi Selatan terjadi pergantian pimpinan. Komandan yang baru, Brigadir Jenderal Chilton, mengumumkan bahwa NICA adalah bagian dari pasukan sekutu dan rakyat Sulawesi Selatan, termasuk Luwu, wajib mentaati perintah NICA. Mulai saat  itu, situasi di Luwu mulai memanas. Dengan perlindungan pasukan Australia, pasukan NICA (Belanda) mengadakan patroli ke berbagai tempat dan memancing bentrokan dengan pihak pemuda. Pada tanggal 21 Januari 1946 mereka memasuki masjid di kampung Bua dan merobek-robek Alquran yang terdapat dalam Masjid. Tindakan ini menyulut kemarahan rakyat. Andi Djemma, atas nama Pemerintah Kerajaan Luwu, serta KH.M. Ramli (Khadi Luwu) atas nama umat Islam dan M. Yusuf Arief atas nama pemuda, mengirimkan ultimatum kepada Komandan pasukan Belanda agar dalam waktu 24 jam pasukanya harus segera meninggalkan Palopo dan menghentikan teror terhadap rakyat. Jika ultimatum itu tidak diindahkan, Pemerintah Kerajaan Luwu tidak lagi bertanggung jawab atas ketertiban dan keamanan yang terjadi. Ternyata ultimatum itu tidak diindahkan oleh pihak Belanda. Karena itu, pada tanggal 23 Januari 1946, setelah batas waktu ultimatum itu berakhir, para pemuda melancarkan serangan serentak terhadap kedudukan pasukan Belanda di kota Palopo. Dalam pertempuran ini, pihak Australia membantu pasukan Belanda dengan melepaskan tembakan-tembakan ke arah Istana. Belanda juga mendatangkan pasukan bantuan dari Makassar, sehingga mereka berhasil menguasai Palopo.

Ketika pertempuran sedang berlangsung dan tembakan-tembakan diarahkan ke Istana, para pemuda mengusulkan kepada Andi Jemma agar mengungsi. Semula, Andi Jemma menolak. Namun, berdasarkan pertimbangan untuk melanjutkan perjuangan di tempat lain, usul para pemuda itu akhirnya diterimanya. Bersama dengan istri dan kerabat istana, ia mengungsi ke kampung Lamasi. Dari sini ia berpindah-pindah ke tempat lain, seperti Cappasole, Patampanua (Kolaka), dan akhirnya, pada tanggal 28 Februari 1946, tiba di Batu Pute di hulu sungai Latou. Setelah menyeberangi Teluk Bone, tempat-tempat pengungsian itu difungsikan sebagai pusat pemerintahan. Di tempat-tempat tersebut pemerintahan tetap dijalankan dan kekuatan perjuangan semakin disempurnakan. Pada tanggal 1 Maret 1946 semua organisasi kelaskaran di Luwu disatukan menjadi Pembela Keamanan Rakyat (PKR) Luwu.

BACA JUGA:  Terkait Dugaan Adanya "Mafia Anjal", Kamil Kamaruddin : Soal Itu Bukan Ranah Kami

Tempat pengungsian di Batu Pute akhirnya diketahui juga oleh Belanda melalui mata-mata yang mereka sebar ke berbagai tempat. Oleh karena itu, malam tanggal 2 Juni 1946 Andi Djemma memutuskan untuk mencari tempat pengungsian yang baru. Namun, esok harinya, ketika pengungsian akan dimulai, ternyata pasukan Belanda sudah tiba di Batu Pute. Mereka masuk dari arah belakang yang memang tidak dijaga karena diperkirakan tidak akan mungkin dimasuki musuh sebab medannya cukup berat untuk ditembus. Andi Djemma dan istri serta semua yang berada di tempat pengungsian di Batu Pute itu ditangkap Belanda. Dari Batu Pute, Andi Djemma dibawa Belanda ke Kolaka. Dari sini dipindahkan ke Palopo, dan pada tanggal 6 Juni 1946 dibawa ke Makassar. Ia ditempatkan di tangsi polisi di Jongaya. Dari Jongaya di pindahkan lagi ke Bantaeng, kemudian ke Pulau Selayar.

Pada tanggal 4 Juli 1948, Andi Djemma divonis dengan hukuman 25 tahun pengasingan di Ternate. Selain itu, sidang juga menjatuhkan hukuman terhadap dua orang putranya, yakni Andi Ahmad dan Andi Makkalau. Andi Ahmad divonis mati, tetapi kemudian diubah menjadi hukuman penjara seumur hidup, sedangkan Andi Makkalau divonis 20 tahun pengasingan di Morotai.

Dalam pengasingan di Ternate, Andi Djemma tidak ditempatkan di penjara, tetapi di sebuah rumah sewaan.

Saat Andi Djemma diasingkan, di Masamba, 29 Oktober 1949, terjadi perlawanan yang dikenal dengan ‘Masamba Affair’. Adapun Masamba Affair suatu peristiwa sejarah yang dengan kejadian itu dapat mempengaruhi keputusan yang diambil dalam Konperensi Meja Bundar yang pada waktu itu sedang berlansung di De Haag, negeri Belanda. Masamba Affair adalah suatu peristiwa sejarah yang menolak dan

tidak membenarkan laporan yang dibacakan oleh Menteri Negara Indonesia Timur. Dalam laporan itu dinyatakan bahwa pemberontakan bersenjata di seluruh daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara telah dapat diselesaikan dengan cukup memuaskan dan keadaan sekarang mulai tenang kembali.

Peristiwa Masamba Affair bermula saat Salawati Daud seorang aktivis pergerakan pemuda, tiba di Masamba. Salawati bersama beberapa pemuda Masamba, seperti Kasim Kasmad  dan Bakri Nantang, menyerang tangsi Belanda dan merebut puluhan pucuk senjata. Selanjutnya bermodalkan senjata rampasan, penyerbuan bergeser ke penjara Belanda dan melepas sejumlah tahanan politik dari Tentara Kawanan Rakyat Luwu, salah satunya adalah Andi Attas.

Setalah kejadian itu, mereka lalu bergerilya melanjutkan perjuangan dengan membagi dua pasukan. Satu pasukan dipimpim Kasim Kasmad dan satunya dipimpin Andi Attas.

Saat bergerilya, perang dengan Belanda pecah di Rompo (Desa di Kecamatan Masamba). Salah satu pemuda bernama Lesangi tewas dalam pertempuran itu.

Menurut tokoh setempat, patung yang mengenggam badik di tangan kanan dan memegang senjata api di tangan kiri pada monumen Masamba Affair adalah Lesangi.

Adanya pengakuan kedaulatan oleh Belanda terhadap Indonesia pada akhir Desember 1949 (usai konferensi meja bundar 2 November 1949), mengakhiri pengasingan Andi Djemma. Ia dibebaskan pada tanggal 2 Februari 1950 dan pada tanggal 1 Maret 1950 ia sudah tiba di Makassar. Selanjutnya, pada bulan April, atas permintaan rakyat Luwu, Andi Djemma kembali memegang jabatan sebagai Datu Luwu menggantikan Andi Jelling yang diangkat Belanda sebagai Datu Luwu pada waktu Andi Djemma bergerilya dan dalam pengasingan.

Setelah daerah Luwu dinyatakan sebagai daerah Swapraja pada tahun 1957, Andi Jemma diangkat sebagai Kepala Swapraja Luwu. Sebelum itu, ia pernah pula diangkat sebagai penasehat Gubernur Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Pada tanggal 23 Februari 1965 Andi Djemma meninggal dunia di Makassar. Almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang Makassar. (Ip dikutip dari berbagai sumber)

‘PostBanner’

Comment