by

Sejarah Kerajaan Binamu dan Bangkala, Jeneponto

Ket. Foto: Balla Lompoa Karaeng Binamu/ist

Smartcitymakassar.com – Makassar. Berdasarkan tulisan dari Ian Caldwell dan Wayne A. Bougas, esai ini menyelidiki asal-usul dan perkembangan kerajaan Bangkala dan Binamu, pada kisaran tahun 1300 hingga 1600.

Binamu dan Bangkala adalah kerajaan kecil di sudut barat daya provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di Kabupaten Jeneponto (antara Kabupaten Takalar dan Bantaeng). Wilayah ini mengalami musim kering yang panjang, sejak April hingga November (Whitten dkk. 1987:21). Rakyat Jeneponto kebanyakan adalah petani kecil, meskipun di sebagian daerah pesisir berlangsung aktifitas tambak, pembuatan garam dan nelayan.

‘FooterBanner’


Hanya sedikit yang diketahui tentang sejarah Bangkala maupun Binamu, keduanya belum tersentuh survei arkeologi yang layak. Kendati demikian, kita dapat merekonstruksi sebagian asal-usul dan perkembangan kedua daerah ini dari empat sumber yaitu, pertama lontara′ (teks, B., M.) tertulis (kini dalam bentuk kertas) dalam aksara asli menggunakan bahasa Bugis dan Makassar. Kedua kunjungan penulis ke tempat-tempat yang namanya tertera dalam teks-teks lontara′. Ketiga tradisi lisan masa kini di Jeneponto. Dan keempat informasi dari penjarah kuburan yang memburu keramik-keramik Tiongkok dan Asia Tenggara yang dikuburkan bersama dengan jenazah di makam-makam pra-Islam (ini tak dijelaskan redaksi).

Dari bukti yang diperlihatkan sumber-sumber tersebut, kita dapat menarik kesimpulan bahwa pada abad ke 14, permukiman pertanian yang tersebar di lembah-lembah empat sungai utama Jeneponto dari barat ke timur, Topa, Allu, Tamanroya dan Jeneponto, telah menyatu untuk membentuk unit-unit pemerintahan kecil. Berdirinya unit-unit pemerintahan ini berkaitan dengan menyebarnya pertanian padi basah secara terorganisir dan terintensifikasi, sebuah kaitan yang juga terlihat di banyak dataran rendah Sulawesi Selatan pada abad ke 14 (Macknight 1983; Caldwell 1988).

Pada abad ke 15, unit pemerintahan yang berpusat di Sungai Topa dan Allu telah bersatu membentuk Kerajaan Bangkala, dan unit pemerintahan yang terkonsentrasi di Sungai Tamanroya dan Jeneponto bergabung menjadi Kerajaan Binamu.

Sejak awal, Jeneponto bersentuhan dengan rute perdagangan antar-pulau yang melewati pantai selatan Sulawesi selama, dan sebelum, milenium pertama (Reid 1983:123-4; Pelras 1996:26). Bukti perdagangan ini (mungkin kebanyakan dengan Jawa Timur tetapi kemungkinan juga dengan Filipina) ditemukan di sepanjang pantai selatan. Sebuah gendang Dong Son berbahan perunggu berusia 2000 tahun ditemukan dari penggalian di Selayar pada sekitar abad 17 (Reid 1990a:101) dan tiga buah patung Buddha dari perunggu, yang melihat gayanya berasal dari abad ke 7 atau 8 Masehi, ditemukan di Bantaeng pada awal abad 20 (Scheurleer dan Klokke 1988:111-3).

Dua patung kecil anjing berbahan perunggu, ditemukan kira-kira 50 kilometer di selatan Makassar, diketahui berasal dari sekitar tahun 155 SM-330 M dan 230 SM-580 M berdasarkan uji karbon di bagian tengah kedua benda ini (Glover 1997:218-9).

Sejumlah 21 manik-manik bersudut delapan dari bahan carnelian, yang ditemukan dalam satu tempat, kemungkinan berasal dari akhir milenium pertama, juga ditemukan dalam penggalian di Bantaeng pada tahun 1998 (Fadillah 1999:28; Bulbeck and Fadillah 2000:47).

Apa yang dipertukarkan dengan barang-barang mewah ini tidak diketahui: kemungkinannya antara lain, barang-barang kebutuhan kapal, penggunaan pelabuhan yang terlindung, produk-produk hutan dan emas dari dataran tinggi di pedalaman baratdaya dan tengah Pulau Sulawesi, dan rempah-rempah yang dipindah kapalkan dari Maluku. Sifat temuan-temuan ini, yang bersebar dan beragam, menunjukkan bahwa pola perdagangan selama milenium pertama Masehi berukuran kecil dan sporadis, sebuah pola yang sesuai dengan kurangnya bukti organisasi politik yang rumit di Jeneponto pada masa itu.

Pada tahap awal perkembangan kerajaan kecil yang terletak di lembah sungai, mereka masing-masing berdiri sendiri, dan kemudian bergabung membentuk Kerajaan Binamu dan Bangkala. Masyarakat Jeneponto mengisahkan bagaimana keluarga penguasa Binamu dan Bangkala diawali oleh tumanurung (mahluk yang turun dari langit berjenis kelamin pria atau wanita) yang dipilih sebagai penguasa dan menikah dengan kalangan elit lokal. Setelah membentuk institusi jabatan untuk penguasa (pakkaraengang).

Kini, lontara′ sulit ditemukan di Jeneponto. Tradisi historis mengenai Binamu dan Bangkala dapat ditemukan pada naskah mikrofilm berbahasa Bugis dan Makassar dari kabupaten lain yang tersimpan pada Badan Arsip ini. Tradisi lisan yang masih hidup hingga kini juga dapat digunakan untuk mempelajari masa lalu Jeneponto (bandingkan, Vansina 1995). Para informan di Jeneponto sering mengklaim bahwa tradisi lisan ini dituliskan pada lontara′ yang telah dihancurkan. Klaim ini sependapat dengan dekatnya hubungan antara naskah tulis dan lisan, yang dianalisis oleh Pelras (1979).

Kerajaan Binamu

Kita mulai pada kerajaan yang secara historis lebih penting, Kerajaan Binamu, atau Turatea, yang melingkupi belahan timur Jeneponto.Di Binamu mengalir dua sungai utama, Sungai Jeneponto di timur dan Tamanroya di barat. Kedua sungai ini mengalir ke selatan dari pegunungan rendah di pedalaman menuju pantai. Di tepi lembah sungai ini terdapat dataran pesisir sungai yang sempit. Padi basah ditanam pada dataran pesisir ini dan pada bagian lembah di hilir, yang terletak antara 12 hingga 20 kilometer dari laut, di bukit-bukit di selanya, serta di kantong-kantong dataran pantai di sela-sela lembah sungai.

Tradisi Lisan Binamu

Dua tradisi lisan mengenai asal-usul Binamu yang diketahui oleh penulis, masing-masing mengandung beberapa elemen dari cerita lain. Kedua cerita tradisional ini menyatakan bahwa Kerajaan Binamu berawal di lembah Tamanroya.

Cerita yang pertama adalah sebagai berikut: Pada masa dahulu kala, seorang wanita cantik turun dari surga di Layu, di Sungai Tamanroya. Dia dikenal sebagai Tumanurunga ri Layu (‘Yang turun di Layu’). Melihat pemunculannya, para pemimpin kaum dari empat daerah bersatu membentuk Kerajaan Binamu. Keempat pemimpin itu membentuk sebuah dewan yang disebut To′do′ Appaka (‘empat pilar/tonggak/penjamin’) mewakili daerah masing-masing: Bangkala, Loe, Layu dan Lentu. Dewan ini bertemu dan meminta Tumanurunga ri Layu untuk menjadi penguasa pertama Binamu. Dia menerima dan menjadi penguasa pertama Binamu. Tak lama berselang, dia menikah dengan pemuda setempat dan melahirkan tiga anak: Punta ri Ulua, Punta ri Tangnga dan Punta ri Bongko.

Setelah Tumanurunga ri Layu raib secara misterius, dewan To′do′ Appaka memutuskan bahwa putra kedualah, Punta ri Tangnga yang berarti ‘Tuan kita (yang dimakamkan di Tangnga), yang menjadi karaeng (raja) Binamu (Kaluppa dkk. 1995-96:9, ringkasan oleh penulis).

Empat komunitas yang disebutkan dalam cerita lisan ini letaknya berdekatan di sepanjang Sungai Tamanroya dan cabang-cabangnya. Layu terletak di pertemuan Sungai Bontoramba dan Pangkaje′ne, yang berjumpa dan membentuk Sungai Tamanroya. Posisi Layu strategis untuk mengendalikan pergerakan barang ke pantai di hulu dan hilir kedua sungai ini, serta menguasai lahan pertanian di sekelilingnya. Lentu berada setengah kilometer di utara Layu di Sungai Bontoramba, sementara Batujala terletak lima kilometer di baratlaut Layu, yakni di Sungai Maero, anak Sungai Tamanroya. Terakhir, Bangkala Loe berjarak lima kilometer di hulu Layu, di Sungai Pangkaje′ne.

Tradisi lisan merekam penyatuan politik keempat pemukiman ini, fungsinya adalah untuk menerangkan keutamaan Layu di antara pemukiman tetangga dan memberi legitimasi kekuasaan bagi para penguasa Binamu, yang mengklaim diri sebagai keturunan Tumanurunga ri Layu.

Tradisi lisan kedua mengaitkan munculnya tujuh tumanurung di Layu dengan sejumlah permukiman di hilir Sungai Jeneponto, sebelah timur lembah Tamanroya. Pada masa dahulu kala, tujuh tumanurung turun dari surga dan menampakkan diri di daerah Layu, dekat Sungai Tamanroya. Tujuh tumanurung itu bersaudara, seorang wanita muda dan enam kakak laki-laki. Setelah tumanurung muncul, dewan To′do′ Appaka memutuskan bahwa wanita ini harus menjadi penguasa Binamu. Dewan menyampaikan perihal ini kepada penguasa Balang, dan atas persetujuannya wanita itu diangkat menjadi karaeng Binamu. Selama memimpin, dia membangun jembatan

BACA JUGA:  Pj Wali Kota Makassar Copot Dirut RS Daya dengan Alasan Lalai, Ini Kata Humas RS Daya

bambu yang amat besar melintasi Sungai Jeneponto di Sapanang untuk menuju ke istananya di puncak bukit Sapanang. Dia dan karaeng Binamu setelahnya memerintah dari tempat itu. Dia juga melanjutkan tradisi, yang ditetapkan oleh To′do′ Appaka, untuk meminta nasihat dan persetujuan dari penguasa Balang tentang masalah seputar negara. Seiring berjalannya waktu, penguasa Binamu pindah, turun dari bukit Sapanang, lalu menetap di seberang sungai di dataran rendah Sapanang (Laporan Suaka 1983: ringkasan oleh penulis).

Sumber-sumber Tekstual Binamu

Tradisi sejarah tulis terpenting yang diketahui oleh penulis adalah Daftar Daerah Bawahan dan Domain Binamu. Daftar ini, yang memuat keterangan rinci mengenai struktur politik Binamu, ditemukan dalam dua naskah Bugis yang saling berhubungan dan disalin dari naskah aslinya pada abad 19. Kedua naskah itu kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Penetapan masa bagi daftar ini menyimpan masalah; sebagai teks tertulis kemungkinan naskah ini dibuat setelah abad 17, namun sebagai tradisi lisan tentu saja jauh lebih tua.

Daerah Bawahan Binamu adalah Sidenre, Balang, Jeneponto,Sapanang, Ci’nong dan Tonrokassi′. Binamu memerintah langsung Ujung Loe, Kalumpang, Palajau, Bulobulo, Pattalassang, Jombe, Paiatana, Arungkeke, Bontorapo, Pao, Taroang, Tino, Tonra, Rumbia dan Tolo′.

Sepengetahuan penulis, Binamu tidak mempunyai kronik atau naskah daftar penguasa. Menggunakan sumber-sumber lisan, Ibrahim dan Husain (1980:38-9) dan Makkulasse (1984:34) menyebutkan 11 penguasa termasuk pendiri, seorang tumanurung. Sementara Rachman (1997:29-30) menyebutkan 20 nama penguasa Binamu, dimulai dengan Gaukeng Daeng Riolo dan berakir pada I Mattewakkang Daeng Raja, penguasa yang ditunjuk Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1929. Sedangkan sebuah bagan silsilah milik Haji Abdurrahim dari Balumbungang memaparkan 13 generasi penguasa dari I Gaukang Daeng Riolo hingga I Mattewakkang Daeng Raja. Bagan ini memuat 23 nama, 20 di antaranya terdapat di dalam daftar Rachman. Berdasarkan bukti ini, terlihat adanya tradisi lisan yang mapan paling tidak untuk 20 nama yang berkaitan dengan posisi penguasa Binamu. Dengan menghitung mundur daftar Rachman, mulai dari I Mattewakkang Daeng Raja (1929-1954), menggunakan standar panjang masa pemerintahan 25 tahun (bandingkan Caldwell 1988:171; Bulbeck 1992:32, 473). Penguasa Muslim pertama Binamu kemungkinan besar adalah Pa′dewakkang Daeng Rangka (diperkirakan memerintah dari tahun 1604 hingga 1629). Daftar Rachman menyebutkan tujuh penguasa awal,yang lewat perhitungan serupa, menempatkan penguasa awal kerajaan, disimbolkan lewat I Gaukang Daeng Riolo (‘Pusaka Raja Kuno’),pada awal abad 15.

Layu tidak disebutkan dalam Sejarah Gowa (Wolhoff dan Abdurrahim tanpa tahun) atau Sejarah Tallo′ (Rahim dan Ridwan 1975), meski buku ke dua ini menyebutkan bahwa penguasa Tallo′ Tumenanga ri Makkoayang (berkuasa tahun 1547-1577) mengalahkan Binamu (Rahim dan Ridwan 1975:10). Pada abad 17, Binamu muncul dalam sumber Belanda sebagai kerajaan yang bersatu (Turatea) yang diperintah oleh Karaeng Layu, yang bersekutu dengan Gowa (Andaya 1981).Seusai kekalahan Gowa oleh Belanda, pusat istana Binamu pindah ke Bangkala Loe, lalu ke Bontramba pada abad 18, dan ke Mairo di abad 19. Perkembangan ini dibangun ulang lewat tradisi lisan di tiga tempat ini dan lewat pekuburan yang bernisan indah di Bangkala Loe dan Bontoramba, serta di Gandi, di lembah Jeneponto.

Kerajaan Bangkala

Sekarang kita beralih ke Kerajaan Bangkala yang menempati belahan barat Jeneponto. Sebagaimana Kerajaan Binamu di timur, wilayah ini mempunyai dua sungai besar, Allu dan Topa, mengalir dari timurlaut ke baratdaya dan lembah hilirnya cocok untu pengolahan sawah basah. Sungai Allu di timur dan Topa di barat.

Tradisi Lisan Bangkala

Sebuah tradisi lisan Bangkala yang terkenal menempatkan asal-muasal kerajaan ini di wilayah hilir lembah Sungai Allu. Garis keturunan raja-raja Bangkala lahir dari perkawinan seorang tumanurung wanita dan putra penguasa Tanatoa. Dahulu kala, jannang (kepala kampung) Panaikang menemukan tumanurung wanita, Banrimanurung, di dalam bambu. Dia membawanya pulang dan merawatnya. Suatu hari, ketika putra penguasa Tanatoa, Karaeng Parurang, keluar berburu dengan anjingnya, dia melihat sebuah mata air dekat rumah Jannang Panaikang. Ketika dia diundang ke dalam rumah, dia melihat sehelai rambut tersembul dari sebilah bambu. Dia menarik rambut itu dan bambu itu pecah, tampaklah Banrimanurung. Sang Pangeran terpikat oleh kecantikannya lalu menikahinya. Ketika dia pulang ke orangtuanya di Tanatoa dengan isteri baru, ayahnya juga jatuh hati pada Banrimanurung dan berkehendak menikahinya. Karaeng Parurang lari dari Tanatoa bersama isterinya menuju Panaikang dan bersiap untuk perang. Pertempuran ini berlangsung di Kalimporo. Banrimanurung menang dengan menyihir tunas bambu menjadi serdadu. Raja Tanatoa kalah. Banrimanurung dan Karaeng Parurang menetap di kampung Bangkala, di mana Banrimanurung melahirkan seorang putra, Karaeng Ujung Moncong. Banrimanurung lalu menghilang, sama misteriusnya ketika dia muncul. Putranya, Karaeng Ujung Moncong, menjadi raja pertama Bangkala dan dilantik di kampung Bangkala. Selanjutnya, dia digantikan oleh putranya, Karaeng La′bua Talibannanna.

Sebagai hasil kedurhakaan penguasa Tanatoa, hingga kini tidak ada pria dari Tanatoa yang dapat mempersunting wanita Bangkala, tetapi pemuda dari Bangkala dapat memperisteri wanita dari Tanatoa. (1997; catatan lapangan penulis).

Beberapa versi cerita ini dapat kita dengar di Bangkala hingga kini. Seluruhnya menuturkan bahwa Kerajaan Bangkala terbentuk ketika dua pemerintahan yang lebih kecil, satu berpusat di hilir Sungai Allu, dan yang lain di lembah Sungai Topa, bergabung di bawah satu penguasa. Seluruh versi menegaskan sengitnya peperangan di mana pemerintahan ‘yunior’ mengalahkan pemerintahan ‘senior’.

Sumber Tekstual tentang Bangkala

Daftar Daerah Bawahan dan Domain Bangkala dapat digambarkan sebagai saudara dari Daftar Daerah Bawahan dan Domain Binamu, berada tepat di belakangnya dalam naskah tua yang serupa, disalin di Makassar untuk ilmuan Belanda B.F. Matthes pada akhir abad 19.

Daerah bawahan Bangkala adalah Tanatoa, Pallengu′, Mallasoro, Garassikang, Nasara′, Rukuruku dan Laikang. Bangkala memerintah langsung Pattopakang, Panyalangkang, Punaga, Canraigo, Cikoang, Pangkaje′ne, Bara′na, dan Beroanging.

Dari Seluruh silsilah menyajikan tradisi adanya enam penguasa Bangkala pra-Islam.Sebagaimana kita harapkan muncul dari sebuah budaya di mana informasi leluasa bergerak antara teks lisan dan tulisan, nama-nama dan posisi generasional mereka bervariasi. Jika kita menghitung mundur tradisi enam penguasa pra-Islam ini menggunakan standar masa pemerintahan 25 tahun (Caldwell 1988:171, Bulbeck 1992:32, 437).

Bangkala, Karaeng La’bua Talibannanna adalah penguasa ke tiga Bangkala. Tetapi dia terekam sebagai penguasa ke tiga menurut Daftar Raja-Raja yang menambahkan cucunya, Karaeng Tobalia, penguasa pertama yang memeluk Islam di awal abad 17. Dengan melakukan penetapan masa ke belakang menggunakan standar 25 tahun per masa pemerintahan, kita dapat menempatkan masa pemerintahan Karaeng La’bua Talibannanna pada pertengahan abad 16. Dua dari tiga silsilah menyatakan bahwa Karaeng La′bua Talibannanna menikah dengan putri penguasa Gowa dan putri penguasa setempat. Silsilah Makassar (Bulbeck 1992:61) merinci tiga Karaeng Bangkala, dengan karaeng ke dua dijelaskan sebagai putra mantan Karaeng Bangkala dan I Daeng Mangamu, putri Karaeng Gowa Tunipalangnga (berkuasa sekitar 1547-1565) dan isterinya Karaenga Bili′ Tangaya. Karaeng Tunipalangnga diperkirakan lahir pada sekitar tahun 1511 (Bulbeck 1992:31), dan karena itu bisa memperanakkan putri yang sudah pada usia menikah pada pertengahan abad 16, ketika Karaeng La′bua Talibannanna diperkiran menduduki tahta, berdasarkan tradisi Daftar Raja. Bisa jadi, pernikahan dengan putri yang berstatus lebih rendah dari Gowa yang sedang menanjak di wilayah itu, menjadikan Karaeng La′bua Talibannanna sebagai penguasa yang sangat penting dalam tradisi sejarah Bangkala. (Ar/Ip)

‘PostBanner’

Comment