by

Pinjaman Online Kembali Telan Korban, Karyawan Mini Market Tewas Gantung Diri

Ket. Foto: Ilustrasi gantung diri/ist

Smartcitymakassar.com – Jakarta. Pinjaman online kembali menelan korban. Jeratan utang online yang membekak membuat Slamet Khudori (21), nekat mengakhiri hidupnya.

Slamet ditemukan tewas gantung diri di kamar kontrakannya Jalan H. Muchtar RT 04/03, Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat.

‘FooterBanner’


Kapolsek Cengkareng, Kompol Khoiri mengatakan, jenazah Slamet ditemukan pertama kali oleh teman kerjanya yakni, Dian Wahim, Selasa (26/11/2019) sore.

Kala itu Dian penasaran dengan kondisi Slamet yang tak kunjung mengangkat teleponnya dan tak masuk kerja.

Saat tiba di kontrakan Slamet, Dian justru menemukan rekan kerjanya itu sudah dalam kondisi tergantung pada sebuah tali tambang.

“Usia jenazah sudah 40 jam yang lalulah saat ditemukan,” kata Khoiri saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (29/11/2019).

Khoiri pun membenarkan dugaan Slamet mengakhir hidup karena terlilit pinjaman online. Sebab, jelas Khoiri, tidak jauh dari jasad Slamet ditemukan surat yang berisi peringatan agar tidak melakukan pinjaman online.

“Kita temukan surat tulisan yang intinya berpisah kepada keluarga dan berpesan kepada siapapun untuk tidak meminjam uang melalui online,  gitulah,” ungkap Khoiri.

Namun, sambung Khoiri, belum diketahui berapa jumlah utang yang dimiliki Slamet. Lantaran pihak keluarganya juga tidak mengetahui jika pria tersebut terlilit utang. Jasad Slamet pun telah dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati untuk dilakukan visum.

Sebagai informasi, sebelumnya, pada Senin (11/2/2019) ditemukan sopir taksi yang tewas gantung diri di kamar kos-kosan di Jalan Mampang Prapatan VII, Tegal Parang, Jakarta Selatan. Sopir taksi dengan inisial Z (35) tersebut ditemukan sempat menulis surat yang berisi permohonan kepada pihak berwajib untuk memberantas pihak-pihak yang memberikan pinjaman online.

BACA JUGA:  PT Indonesia Paradise Tbk Hadirkan Hunian Mewah 31 Sudirman Suites dan Hotel Berbintang Hyatt Place

“Kepada OJK dan pihak berwajib tolong berantas pinjaman online yang telah membuat jebakan setan,” tulis Z dalam surat tersebut.

Menanggapi kasus supir taksi tersebut, pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Satgas Waspada Investasi menyatakan saat ini tengah melakukan pendalaman kasus dengan mengumpulkan berbagai informasi terkait kasus tersebut.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta sendiri baru saja melakukan konferensi pers mengenai korban jeratan pinjaman online dengan modus pelanggaran berupa bunga berlipat dan penagihan yang tak beretika.

“Nah, melihat berbagai kondisi ini kami dari OJK dan asosiasi melakukan pendalaman, dalam hal ini sedang proses pengumpulan informasi,” ujar Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing di Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Tongam mengatakan, jika nantinya fintech ilegal atau yang terdaftar di OJK yang terbukti melakukan pelanggaran dengan memberikan tekanan pada korban, pihak OJK dan asosiasi akan menindak pinjaman online yang bersangkutan.

Namun, dia meyakini kasus bunuh diri tersebut disebabkan oleh fintech ilegal.

“Dugaan kami besar bahwa tindakan itu dilakukan oleh fintech ilegal,” ujar Tongam.

Tongam mengatakan fintech legal yang terdaftar di OJK dan berada di bawah asosiasi telah memiliki ketentuan berupa kode etik yang harus dipatuhi. Sehingga, sangat kecil kemungkinan para pelaku fintech legal melakukan proses bisnis terutama penagihan yang melanggar etika.

“Pertama, fintech legal dilarang meng-copy semua kontak yang ada di HP, hanya kontak darurat yang boleh dikontak (penagih), kedua mereka tidak bisa akses file atau gambar dalam handphone,” ujar dia. (Aan/Ip)

‘PostBanner’

Comment