by

Keluarga Mahasiswa Kendari yang Tewas Saat Demo: Kami Rasa Keadilan Sudah Mati di Negeri ini

Ket. Foto: Demonstrasi mahasiswa/ist

Smartcitymakassar.com – Kendari. Enam anggota Kepolisian Sulawesi Tenggara berinsial MA, MI, AM, H, FRS dan DK dijatuhi hukuman kurungan 21 hari kedepan. Hal itu setelah diketahui, ke enamnya terbukti melanggar SOP yakni membawa senjata api dalam penanganan aksi unjuk rasa #ReformasiDikorupsi. Adapun unjuk rasa pada 26 September 2019 didepan DPRD Sultra itu, berujung ricuh dan dua mahasiswa Universitas Halu Oleo, yaitu Immawan Randi (21 tahun) dan Muhammad Yusuf Kardawi (19) meninggal. Kedua mahasiswa peserta demonstrasi itu diduga ditembak saat aksi berlangsung.

Kasubbid Penmas Bid Humas Polda Sultra Kompol Agus Mulyadi menjelaskan, sidang penanganan kasus tersebut terbagi 2 tahap. Pertama kepada terperiksa DK yang dilaksanakan pada 18 dan 23 Oktober 2019. Kedua kepada terperiksa 5 lainnya yakni pada tanggal 17 dan 22 Oktober 2019.

‘FooterBanner’


“(Terbagi 2 penanganan) karena masing-masing beda satuan kerjanya,” jelas Agus.

Agus menjelaskan, keenam terperiksa itu masing-masing dijatuhi hukuman disiplin mulai dari teguran tertulis hingga penahanan di salah satu rutan di Sulawesi Tenggara selama 21 hari.

“Keenamnya dijatuhi hukuman masing-masing teguran tertulis, penundaan kenaikan pangkat 1 tahun, penundaan kenaikan gaji berkala selama 1 tahun, penundaan pendidikan selama 1 tahun dan penempatan ditempat khusus (ditahan di rutan) selama 21 hari,” ungkap Agus.

Lebih lanjut Agus menjelaskan, para terperiksa terbukti melanggar pasal 4 huruf d, f dan l PP RI No. 23 tajun 2003 tentang disipilin anggota polri berupa tidak mentaati perintah pimpinan yakni membawa dan menggunakan senjata api saat pengamanan aksi demo yang terjadi di Kantor DPRD Sultra pada Kamis (26/9/2019) lalu.

BACA JUGA:  Soal Latar Belakang Fadli Ananda, Ini Kata dr. Ermita

“Jadi intinya dia melanggar SOP, dalam SOP itu pengamanan unjuk rasa tidak diperbolehkan membawa senjata api apalagi berpeluru tajam,” ujarnya.

Olehnya menurut Agus, keenam anggota polisi tersebut akan menjalani sisa masa tahanan selama 14 hari. Sebab, lanjut dia, pada saat persidangan, mereka sudah menjalani masa tahanan selama 7 hari.

Menanggapinya, Keluarga Immawan Randi, salah satu mahasiswa yang meninggal saat demo, buka suara terkait enam anggota Polres Kendari yang divonis ringan. Risal Ode Sue (32), sepupu Randi, mengaku kecewa dengan vonis itu.

“Sangat kecewa dengan hukuman yang diberikan kepada enam polisi. Kami rasa keadilan sudah mati di negeri ini,” kata Risal ketika dihubungi wartawan, Selasa (29/10/2019).

Risal juga mengaku, dirinya maupun pihak keluarga korban lain juga tidak diikutsertakan dalam persidangan.

“Tidak pernah ada. Kepolisian seakan menutupi proses persidangan,” jelas Risal, sambil menjelaskan, bahwa polisi juga tidak pernah berinisiatif menemui keluarga korban untuk meminta kesaksian.

Lebih lanjut Risal mengaku pihaknya belum menempuh jalur pidana. Namun menurut Risal, pihak keluarga berencana menempuh jalur hukum sendiri.

“Kami (keluarga) masih berdiskusi,” kata Risal. (Aan/Ip)

‘PostBanner’

Comment