by

Soal Menteri Nadiem, Ini Tanggapan Pakar UGM serta Guru Besar UGM

Ket. Foto: Nadiem Makarin/ist

Smartcitymakassar.com – Jakarta. Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin telah mengumumkan susunan kabinet barunya, Rabu pagi (23/10/2019) di Istana Negara. Diketahui, ada 38 nama yang masuk dalam Kabinet Indonesia Maju ini. Dari 38 nama tersebut ada yang berwajah baru dan ada juga wajah lama.

Adapun dari sejumlah nama dari kalangan profesional sempat viral dan menjadi pembicaraan publik. Salah satunya adalah ditunjuknya Nadiem Makarim menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

‘FooterBanner’


Menanggapinya, Pakar Kebijakan Publik UGM, Prof.Dr. Erwan Agus Purwanto menilai, dipilihnya bos Gojek ini menjadi menteri merupakan sebuah terobosan baru.

“Dipilihnya Nadiem ini diharapkan bisa membawa angin segar dengan memberi terobosan baru dalam dunia pendidikan dan kebudayaan menghadapi era digital, disrupsi, dan revolusi industri,” terangnya.

Lanjut Erwan mengatakan, dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi tanah air, saat ini kurang merespons perkembangan dunia. Sementara dunia terus berubah, bahkan saat ini dihadapkan dengan berbagai tantangan revolusi industri 4.0 yang tentu sangat berpengaruh pada dunia pendidikan.

“Ini belum banyak direspons. Sementara Nadiem ini muda dan banyak berkecimpung di industri digital, bukan dari lingkungan perguruan tinggi jadi harapannya bisa berpikir dari perspektif lain untuk membangun dunia pendidikan Indonesia,” pungkas Erwan.

Sementara itu, terkait dengan penunjukan Nadiem menjadi Mendikbud, Ketua Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 2018-2021, Prof Koentjoro, menaruh kekhawatiran dan tak yakin Nadiem memahami persoalan perguruan tinggi saat ini.

“Kalau untuk (mengurusi) pendidikan dasar, menengah, SMK, itu barangkali tidak akan ada banyak masalah. Tapi kalau yang pendidikan tinggi itu saya yang agak khawatir, karena beliau bukan berasal dari dunia perguruan tinggi,” ujar Koentjoro, Kamis (24/10/2019).

BACA JUGA:  Makassar Bakal Jadi Tuan Rumah Konferensi Internasional “Smart City”

Koentjoro Kemudian mempertanyakan apakah Nadiem mengerti persoalan yang sedang dihadapi perguruan tinggi. Apalagi, lanjutnya, banyak persoalan pendidikan tinggi tanah air yang selama ini belum berhasil diselesaikan bahkan oleh menteri-menteri terdahulu.

“Misalnya ribut-ribut tentang penelitian, dana penelitian dan kemudian juga (jurnal terindex) scopus, kegurubesaran, dan sebagainya itu kan persoalan yang sedang ribet,” jelas Guru Besar Fakuktas Psikologi UGM itu.

Terkait jurnal terindex scopus, Koentjoro juga mempertanyakan apakah Kemendikbud era Nadiem masih akan menggunakan scopus sebagai patokan atau tidak.

“(Atau) apakah kita akan menggunakan rezim yang nonscopus seperti di Jerman?” tanyanya.

Selain itu, Koentjoro juga khawatir Nadiem akan diperalat oleh pembantunya mengingat pengalamannya mengurusi pendidikan tinggi sangat minim. Untuk itu Koentjoro mengingatkan supaya Nadiem tak salah memilih bawahan-bawahannya.

“Sekarang yang menjadi persoalan adalah kalau orang yang di bawahnya itu lebih mengandalkan pemikirannya dia, bukan pemikirannya Pak Nadiem, itu yang sangat berbahaya. Karena justru Pak Nadiem yang diperalat, itu yang saya takutkan,” tuturnya.

Agar hal itu tak terjadi, Koentjoro menyarankan supaya Nadiem sering berkomunikasi langsung dengan perguruan tinggi – perguruan tinggi di Indonesia. Cara itu diyakini efektif bagi Nadiem untuk menyerap dan mengetahui problem di akar rumput.

“Pak Nadiem juga (harus) lebih sering berkomunikasi ke bawah dalam artian sering berkomunikasi dengan forum-forum, seperti forum guru besar, forum senat. Sehingga bisa mendengarkan (mengetahui) persoalan-persoalan di bawah itu seperti apa,” pungkasnya. (Ute/ Ip)

‘PostBanner’

Comment