by

Pilwali Makassar 2020, Julia Putri Noor: Tujuh Puluh Tahun Silam Makassar Dipimpin Seorang Perempuan

Keterangan Foto: Julia Putri Noor Bakal Calon Wali Kota Makassar 2020

Smartcitymakassar.com – Makssar. Dari perspektif histori, berderet tokoh srikandi tampil sebagai Wali Kota di negeri ini. Ada Agustine Magdalena Waworuntu di Manado, Rohani Darus Danil di Tebing Tinggi. Setelah orde baru dan memasuki orde Reformasi, muncul Tri Rismaharini di Surabaya, Airin Rachmi Diany di Tangsel, Sylviana Murni di Jakarta Pusat, dan berderet kaum perempuan ikut hadir sebagai garda terdepan.

Pasca Proklamasi, Makassar dicaplok NICA, sejumlah pemimpin Republik ditangkap, termasuk Sam Ratulangi, Gubernur Sulawesi saat itu. Upaya membentuk pemerintahan RI di Makassar mendapat batu sandung. Republik Indonesia baru berhasil membentuk pemerintahan sendiri di Makassar tahun 1949. Saat itulah hadir Salawati Daud yang nama aslinya Charlofta Salawati ditunjuk sebagai Wali Kota Makassar.

‘FooterBanner’


Salawati Daud ikut aktif angkat senjata mengusir penjajah. Bersama Emmy Saelan bertempur melawan Belanda. Salah satu pertempuran yang terkenal adalah penyerbuan tangsi milter Belanda yang dipimpin langsung oleh Salawati. Belanda menyebut peristiwa itu “Masamba Affaire”.

Mungkin karena kegigihannya melawan penjajah dan punya pengaruh politik sehingga Salawati Daud ditunjuk sebagai Wali Kota pertama di Makassar.

Meski hanya menjabat sebagai Wali Kota tak lebih satu tahun (27 Des 1949-17 Agustus 1950), jejaknya menjadi sebuah inspirasi bagi kaum perempuan Indonesia. Namun, karena haluan politiknya yang ke kirian hingga Salawati Daud dijebloskan ke penjara Bukit Duri dan sosok perjuangannya tenggelam sejak saat itu.

***

Hari ini dalam kontestasi Pilwali 2020 kota Makassar, ada satu hal yang menarik dari seluruh kontestan Wali Kota Makassar. Jika selama ini aroma maskulin yang mendominasi kosong satu itu. Kini hadir seorang srikandi yang siap bertarung dan bisa jadi mengulang kisah Salawati Daud.

Kiprahnya sebagai profesional, organisatoris, aktifitis sosial, motivator, bahkan sebagai penulis, adalah sebuah modal paripurna – komplit, ikut bertarung sebagai bakal calon (balon) Wali Kota Makassar.

Julianti Noor yang kerap disapa Julia Putri Noor, cucu dari salah satu pendiri Golkar dan pejuang 45, alm .mayor purn Drs. H. Arifin Noor, lahir di Ujung Pandang (Makassar-Red) 45 tahun silam. Pendidikan Sarjana S1 lanjut S2 di Universitas Moestopo bidang Ilmu Administrasi dan juga sempat mengambil S2 di IIP Jakarta.

BACA JUGA:  Sulit Terbendung, Rakyat Mendukung Deklarasi Akbar Danny 22 Februari

Berbagai jejak profesional ditorehkan Julia, sebagai marketing executive Makassar City Hotel, Sekertaris Pincab Bank Bukopin Makasar, hengkang ke Jakarta dan bergabung di Gobel group menjadi sekretaris, lalu ke Perusahaan Trasportasi Pertamina.

Dalam pengalaman organisasi, kiprah Julia semakin moncer. Diantaranya Ketua Umum dan Founder Jendela Pendidikan Nusantara (JPN), Founder dan Waketum Gerakan Masyarakat Peduli Anak dan Remaja, Wasekjen Rumah Kreasi Indonesia Hebat, Ketua Dewan Ekonomi Indonesia Timur, Bendahara Umum Asosiasi Lembaga Peningkatan Kapasitas SDM Indonesia, dan Vice President di Indonesia Jordan Bussines Council. Ketua di HKTI, Wabendum Asosiasi Lembaga Pengembangan Kapasitas SDM Indonesia, Pengurus ISMI Pusat dan Pengurus LIRA Pusat .

Jejak profesional dan pengalaman organisasinya semakin menggenapkan. Aktif membawakan materi upgrade personality, trainer motivasi dengan cinta, trainer etika komunikasi. Julia juga tercatat sebagai founder Upgrade Personality, dan baru baru mendapat penghargaan TOP WOMAN profesional atas kiprahnya di wadah pendidikan melalui JPN.

Di penghujung artikel ini, SmartCity Online News bertanya tentang kiprah seorang perempuan dihubungkan dengan pencalonannya sebagai balon Wali Kota Makassar.

“Kita punya sejarah emas di Kota Makassar. Tujuh puluh tahun silam, Makassar dipimpin seorang perempuan. Salawati Daud hadir sebagai Wali Kota Makassar. Namun karena haluan politiknya yang ke kirian, menjadikan dia terhempas dalam sejarah. Terlepas dari itu semua, Salawati adalah sosok pemberani, pemikir, orator, dan pemimpin. Hari ini, kota Makassar dengan segala dinamikanya, butuh seorang pemimpin dengan kemampuan manajerial yang kuat dengan pendekatan kearifan lokal, punya analisa kuat terhadap masalah, punya jaringan internasional dan nasional. Tentu saja semua kemapuan itu terbingkai oleh sentuhan kelembutan dari seorang perempuan. Jika Allah SWT berkehendak, Inshaa Allah, Makassar punya Wali Kota seorang perempuan,” tutur penulis buku bertajuk Hakikat Rindu**(Rafa)

‘PostBanner’

Comment