by

Viral! Komunitas Pria Berhijab, Ini Tanggapan MUI dan Psikolog

Ket. Foto: Majelis Ulama Indonesia/ist

Smartcitymakassar.com – Jakarta. Belakangan ini, jagat sosial dunia maya diramaikan dengan fenomena ‘crosshijaber’ atau laki-laki yang gemar memakai hijab atau pakaian wanita muslim.

Secara umum, aksi dari para pelaku cross hijaber ini tak kelihatan karena kebanyakan dari mereka memakai cadar, niqab dan kadang masker untuk menutupi wajahnya.

‘FooterBanner’


Adapun fenomena cross hijaber ini ternyata tak hanya dilakukan oleh satu dua orang saja. Mereka bahkan mempunyai komunitas tersendiri.

Viral di Medsos

Dalam postingan yang diunggah akun @Infinityslut, terlihat seorang lelaki yang terciduk melakukan “crossdressing” dengan kaum perempuan. Dari keterangan yang diunggah, sang lelaki gemar melakukan crosshijaber dengan sengaja memakai pakaian dan menyerupai kaum perempuan berhijab. Setelah postingan @Infinityslut viral dan mendapatkan 17 ribu retweet, muncul banyak pertanyaan dari para netizen, apakah lelaki yang gemar berpakaian perempuan ini bisa disebut “banci” atau masih lelaki sepenuhnya

Diketahui, para crosshijaber tersebut bahkan memiliki komunitas di sejumlah media sosial seperti Facebook dan Instagram. Bahkan, mereka seolah ingin mengukuhkan keberadaannya dengan membuat tanda tagar crosshijaber  meski kini banyak unggahan yang dihapus. Dari sejumlah tangkapan layar Instastory, terpampang wajah pria yang mengenakan gamis, hijab panjang, dan ada yang memakai cadar. Diungkapkan bahwa beberapa dari crosshijaber  tersebut bahkan berani masuk ke tempat yang dilarang bagi pria seperti tempat wudu, area tempat salat wanita di masjid, bahkan toilet perempuan.

Tanggapan MUI

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel mengingatkan bahwa adanya larangan laki laki yang hendak menyerupai perempuan.

“Kan sudah jelas dalilnya laki-laki tidak boleh menyerupai perempuan. Perempuan tidak boleh menyerupai laki laki,” kata Wakil Ketua MUI Sulsel, HM Renreng, Senin (14/10/2019).

Khusus untuk wilayah Sulsel, Renreng mengaku belum mendapatkan adanya laporan komunitas crosshijaber yang melakukan aktivitas. Meski begitu, Renreng mengimbau agar masyarakat, khususnya laki-laki agar tidak ikut dengan gaya yang dilakukan oleh komunitas ini, sempat viral di media sosial.

“Imbauannya jangan laki-laki pakai hijab toh. Jadi tidak boleh,” tegas dia.

Selanjutnya, Renreng mengaku akan mengomunikasikan soal fenomena ini dengan organisasi-organisasi Islam yang ada di Sulsel.

“Insyaallah kami komunikasikan soal adanya fenomena ini, supaya kita imbau kepada masyarakat dan kami sampaikan ke teman-teman supaya ada kejelasan,” terangnya.

Sementara itu MUI pusat mengingatkan bahwa fenomena cross-hijaber perlu diwaspadai.

“Fenomena cross-hijaber perlu diwaspadai, apa motif gerakan ini, apakah sekadar mode saja ataukah ada motif lain, misalnya kriminal, teror atau ingin merusak citra hijab itu sendiri,” kata Wakil Ketua Umum MUI KH Zainut tauhid Sa’adi, Senin (14/10/2019).

KH Zainut menegaskan, apa pun alasannya, bila pria berdandan menyerupai wanita, hukumnya haram. Sebab, ajaran Islam melarang keras pria menyerupai wanita dan wanita menyerupai pria. Secara takdir dan syariat pria dan wanita adalah berbeda. Ia mengatakan, ada hadis yang melarang pria berdandan menyerupai wanita dan wanita berdandan seperti pria.

BACA JUGA:  Soal Pemberhentian Dirut Garuda Indonesia, Ini Kata Jokowi

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR Imam Bukhari).

“Bahkan, larangan (pria menyerupai wanita dan wanita menyerupai pria) tersebut ada sejak pada zaman Rasulullah SAW,” pungkasnya.

Tanggapan Psikolog

Menurut psikologi “Perilaku ini kalau dalam istilah medis dikenal dengan sebutan transvestisisme, yakni perilaku yang sering kali dianggap sebagai suatu penyimpangan yang merupakan gangguan kejiwaan karena adanya keinginan dari seorang laki-laki atau perempuan yang mengenakan pakaian yang biasa dikenakan oleh jenis kelamin sebaliknya,” kata psikolog klinis dari RSUD Wangaya, Denpasar, Bali, Nena Mawar Sari.

Biasanya, perilaku transvestisisme berawal dari riwayat seseorang merasa tidak nyaman dengan identitas seksual yang dia miliki akibat adanya trauma di masa lalu.

“Bisa jadi dia dulu mengalami pelecehan seksual sehingga merasa kalau memakai baju sebaliknya akan merasa nyaman,” jelasnya.

Istilah crossdressing tak sama dengan kondisi transgender. Seseorang yang melakukan crossdressing disebut Nena bisa saja memiliki tujuan beragam, mulai dari penyamaran untuk melakukan tindakan kriminal, hiburan atau ekspresi diri hingga mendapat kepuasan seksual.

“Transvestisisme orientasi seksualnya sama dengan jenis kelamin yang dia miliki. Kalau transgender orientasi seksual dia berbeda dari jenis kelaminnya, dan biasanya benar-benar tak mau kembali ke jenis kelamin yang dulu sampai dia melakukan transformasi, misalnya dengan terapi hormon atau operasi kelamin,” katanya.

Jika bertemu dengan orang dengan perilaku transvestisisme, Nena menyarankan agar tidak panik karena bisa saja orang yang mengenakan pakaian layaknya wanita atau pria tersebut memiliki niat jahat yang bisa membahayakan.

“Kita tidak pernah tahu orang itu niatnya apa, apakah gangguan jiwa murni atau kenapa. Kalau bertemu jangan panik. Tenang saja. Segera pergi dari lokasi itu pelan-pelan dan langsung lapor pada yang berwajib,” sarannya.

“Masalahnya, kita tidak pernah tahu apa motif mereka. Bisa saja mereka punya niat kriminal, kalau kita panik teriak-teriak, dia bisa kalap, yang tadinya cuma mau ambil dompet bisa saja membacok atau apa. Atau orang itu adalah eksibisionis, di mana kalau kita bereaksi dengan perilakunya, dia justru akan terpuaskan,” kata Nena.

Sementara, jika transvestisisme masih di ranah yang tepat, misalnya dalam dunia fashion, di mana dikenal dengan jenis fashion androginus, maka hal tersebut masih bisa diterima. (Aan/Ip)

‘PostBanner’

Comment