by

Coretan Redaksi: Jasmerah, Catatan Singkat Pergerakan Mahasiswa

Keterangan Foto: Aksi mahasiswa di Yogyakarta denga tagar Gejayan Memanggil

Sontak, jagat negeri gemah ripah loh jinawi tersentak saat Koesno Sosrodihardjo alias Soekarno berpekik kencang dengan suara parau: “JASMERAH, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!”

Sejarah selalu mengingatkan kita apa yang terjadi di masa lalu dan menuntun kita bergerak maju untuk raih masa depan.

‘FooterBanner’


Sejarah bercerita bagaimana kaum muda terpelajar selalu tampil membawa panji pergerakan moral untuk sebuah koreksi dari permasalahan yang terjadi.

Tahun 1908, Boedi Oetomo tampil akibat keresahan intelektual dan sikap kritis dari pemuda, pelajar, dan mahasiswa.

Tanggal 28 Oktober 1928, kaum terpelajar, mahasiswa, intelektual, dan aktivis pemuda bersatu dalam sebuah ikrar Sumpah Pemuda.

Tahun 1945, angkatan muda yang dipimpin oleh Chairul Saleh dan Soekani, menculik dan mendesak Soekarno dan Hatta secepatnya memproklamirkan kemerdekan. Peristiwa yang motornya angkatan muda itu kita kenal dengan peristiwa Rengasdengklok.

Begitu juga tahun 1966 atau “Angkatan 66” sebagai momentum kelahiran gerakan mahasiswa secara nasional.

Tahun 1974, akibat kenaikan BBM dan maraknya korupsi, dimotori oleh Arif Budiman lahir sebuah gerakan “Mahasiswa Menggugat.”

Pada tahun itu juga tanggal 15 Januari yang kita kenal dengan peristiwa MALARI (Malapetaka 15 Januari) adalah gerakan mahasiswa berujung kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan.

Pemerintah (Ali Moertopo) menuduh bahwa gerakan mahasiswa ditunggangi. Setelah memeriksa dan mengadili tokoh pemuda Syahrir dan Hariman Siregar, tudingan itu tidak terbukti.

Tahun 1977-1978, aksi mahasiswa lebih banyak berkonsentrasi dalam kampus dan tidak terpancing keluar kampus untuk menghindari terjadinya kembali peristiwa Malari.

Akibatnya, rezim orde baru menggunakan kekuatan milter menyerbu secara brutal dan masuk menduduki kampus. Dewan Mahasiswa dihapus dan digantikan NKK/BKK di seluruh Indonesia.

Tahun itu mahasiswa berada dalam awan kelabu. Aktivis ditangkap tanpa sebab dan diinterogasi. Aparat militer dan intelejen berada dalam kampus dengan leluasanya.

Bahkan rezim pemerintah menggunakan tangan Rektor untuk menghukum aktivis mahasiswa itu. Tak sungkan-sungkan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mencopot sang Rektor yang tidak sejalan dengan pemerintah.

Meski kondisi suram dialami mahasiswa, perlawanan tetap bergelora dengan cara senyap agar tidak terendus oleh pihak aparat.

Saat itu, sebuah tonggak sejarah terpancang, bahwa mahasiswa tetap tampil dan punya keberanian menyatakan sikap secara terbuka menolak kepepimpinan nasional era Soeharto.

Tahun 1990, dibawah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hasan, kebijakan NKK/BKK dicabut dan muncullah Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT), Senat Mahasiswa Fakultas (SMF), dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Tentu saja kehadira SMPT dan SMF memunculkan pro dan kontra di kalangan mahasiswa. Menurut mahasiswa, itu hanyalah hidden agenda pemerintah untuk menarik mahasiswa ke kampus dan memotong aliansi mahasiswa dengan kekuatan di luar kampus.

Dalam perkembangannya, konsep SMPT ini banyak menimbulkan kekecewaan. Mahasiswa menuntut organisasi kampus yang mandiri, bebas dari pengaruh negara.

BACA JUGA:  Hingga Akhir 2019, XL Axiata Akan Salurkan Donasi Kuota Data ke 579 Madrasah Aliyah seluruh Indonesia

Tak heran, tahun 1994 di UGM berdiri kembali Dewan Mahasiswa dan diikuti oleh berbagai perguruan tinggi di tanah air.

Meski tidak persis sama dengan Dewan Mahasiswa yang pernah berjaya sebelumnya, upaya perjuangan mahasiswa menjadi awal kebangkitan kembali mahasiswa di tahun 1990-an.

Tahun 1998, mahasiswa di berbagai penjuru negeri bersatu melawan rezim pemerintah. Hingga di Jakarta, ribuan mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR dan memaksa Soeharto lengser dari jabatannya.

Namun kejadian itu menimbulkan tindakan represif aparat. Sederet tindakan aparat meredam aksi mahasiswa, hingga menewaskan beberapa aktivis mahasiswa dan korban luka.

Misalnya peristiwa Gejayan (Tragedi Yogyakarta 1 meninggal, ratusan korban luka), Tragedi Trisakti (4 mahasiswa Trisaksi meninggal tertembak, puluhan luka), Tragedi Cimanggis (21 mahasiswa terluka dan 2 tertembak), Tragedi Semanggi I dan II (1 mahasiswa meninggal tertembak dan puluhan warga sipil meninggal) dan peristiwa lainnya yang terjadi di negeri ini.

Memiriskan. Mahasiswa menjadi korban luka-luka hingga korban jiwa ketika terjadi perbuatan ketidak-adilan yang menari-nari angkuh dan congkak di depan mata rakyat.

Sejarah sudah menuntun kita semua, bahwa di dalam tubuh mahasiswa telah mengalir darah Agent of Change (agen perubahan), Social Control (kontrol sosial), Iron Stock (generasi penerus), dan Moral Force (gerakan mora).

***

Beberapa hari yang lalu, mahasiswa di berbagai kota melakukan demonstrasi. Mereka menolak pengesahan RUU KUHP, Revisi UU KPK, RUU Pertanahan, RUU Minerba, RUU Ketenagakerjaan, serta RUU Sumber Daya Air. Mereka menilai isi revisi UU KPK, RUU KUHP dan rancangan beleid lainnya, mencederai demokrasi.

Mereka bergerak secara serentak, tentu saja ada yang salah dalam negeri ini. Tak elok jika menuduh mereka ditunggangi oleh penumpang gelap yang ingin mengail di air keruh.

Seperti yang selalu berulang, pergerakan mahasiswa kembali menelan korban. Catatan yang diperoleh hingga kemarin (25/9) ada 232 orang menjadi korban di sejumlah daerah, mulai dari Jakarta, Sumatera Selatan, Bandung, hingga Sulsel. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, namun tiga orang diantaranya alami kondisi kritis.

Seyogyanya, aparat hukum bertindak bijaksana terhadap aksi tersebut. Kita tidak ingin terjadi lagi korban jiwa seperti pergerakan mahasiswa yang dulu-dulu.

STOP perlakukan represif terhadap mahasiswa, karena mereka adalah anak-anak kita. Mereka bergerak secara moral membawa panji kebenaran. Merekalah yang di masa datang, memangku segala kepentingan di negeri ini.

Benarlah kata tokoh pergerakan di Mesir, Hasan Al Banna bahwa, di setiap kebangkitan, pemudalah pilarnya. Di setiap pemikiran, pemudalah pengibar panji-panjinya. Pun, Soekarno berseru: “Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia!” **(Rafa)

‘PostBanner’

Comment