by

(Opini) Kursi Andalan; Refleksi Kerja Satu Tahun Pemerintahan Sulsel

Ket. Foto: Andi Sudirman Sulaiman/ist

Oleh Baharuddin Iskandar*

Smartcitymakassar.com – AGAK lama juga baru mau memulai kembali menulis. Semua seperti hanyut dalam arus sehingga tuts-tuts laptop tidak bekerja oleh kesibukan-kesibukan. Begitulah adanya. Kesibukan selalu menjadi alasan paling utama untuk membenarkan kesalahan demi kesalahan ketika dimintai untuk menulis.

‘FooterBanner’


Baiklah. Terlepas dari semua itu, tidak apalah jika penulis kembali memulai belantara literasi lagi. Apatah lagi, tepatnya 5 September 2019 akan datang, kita patut mencermati perjalanan setahun pemerintahan Prof Andalan di Sulawesi Selatan. Mengapa? Pertanyaan simpel ini, jawaban seolah menagih janji dan janji yang pernah ditebarkan di masa-masa di perhelatan pilgub tahun lalu.

Kiranya, penulis cenderung untuk mengasah pisau bedah ke sosok wakil gubernur Sulawesi Selatan. Ada banyak pertimbangan. Paling utama, Andi Sudirman Sulaiman, atau biasa dikenal dengan nama Andalan seolah mengusik untuk dikisahi.

Ketergelitikan penulis, tiada lain, dia adalah sosok baru dalam belantara pemerintah Sulawesi Selatan. Tidak ada, seumpaman malam ‘sunyi senyap’ tiba-tiba gegap gempita oleh kehadiran satu tokoh dalam percaturan di mata khalayak. Siapa menduga, ia tidak pernah dikenal kemudian tampil menjadi orang nomor dua di provinsi lumbung pangan ini.

Dinasti atau Pamor

Tak elok apabila Wagub Sulawesi Selatan disebut sebagai bagian dari dinasti politik. Ia bukan lahir dari politik kekerabatan yang menunjukkan kehadiran kerabat atau keluarga untuk membentuk kekuatan yang kuat dan melekat. Ada banyak, petinggi-petinggi negeri ini yang lahir dari hubungan anak-orang tua, anak dengan saudara, sepupu, paman, tante, dan seterusnya. Namun tidak salah. Sah-sah saja, dinasti politik tersebut dilakukan dalam rel yang tepat juga regulasi yang tak ada dilabrak. Sekali lagi sah-sah saja.

Jika hal ini diungkap, berarti Wagub Sulawesi Selatan yang merupakan adik Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaeman, termasuk dalam masalah ini. Bisa saja muncul sebuah hipotesis, sukses Prof Andalan disebabkan suksesi politik dinasti.

Dua jawaban. Jika ‘ya’ maka patutlah dicermati kinerja dan prestasi setelahnya. Apakah Andi Sudirman Sulaiman bisa menjadi atap dari hawa panas, atau atap dari hujan yang menerpa? Apakah ia bisa menjadi tiang penyangga yang kuat untuk roda pemerintahan Sulawesi Selatan? Patut kita cermati saja. The right man on the right place.

Pertanyaan lain, kedekatan dengan orang nomor satu pertanian di Indonesia tersebur, langsung atau tidak langsung menyebabkan hasil pilgub yang diumumkan di salah satu hotel di Jalan Pettarani, Makassar, terdapat hasil angka1 sebesar .867.303 suara berhasil diraih.

Atau sama sekali tidak ada. “Tidak”. Ya, Wagub Sulsel yang masih ‘belia’ yaitu lahir 25 September 1983, atau masih berusia 36 tahun, tidak ada hubungan dengan dinasti politik. Andi Sudirman Sulaiman lahir dari kedigdayaan dari pamor gubernur. Ia seolah menerima durian runtuh dari kesuksesan Nurdin Abdullah dalam mengelola Kabupaten Bantaeng selama dua periode. Semua serbahipotesis.

Apa Kerja Andalan?

Jika seperti itu, cara terbaik untuk melepaskan dogma dinasti dari kekerabatan dari Sang Kakak. Atau, bukan karena pamor digsaya dari pasangan, Sang Gubernur, tidak lain dan tidak bukan adalah kinerja. Apa saja hasil-hasil yang bisa dinikmati setelah Andi Sudirman Sulaeman menjabat, dan menerima amanah yang dipercayakan oleh masyarakat Sulawesi Selatan?

Pertama, kurang lebih dari sebulan setelah menjabat, surat edaran yang masih berupa konsep beredar luas di masyarakat. Isi surat edaran tersebut diawali dengan kalimat, “Berkaca pada fenomena bencana alam yang banyak terjadi akhir-akhir ini dan desakan/masukan beberapa kelompok masyarakat…,” dan seterusnya, sepertinya menunjukkan identitas bahwa wagub mengarahkan kehidupan ke bagian pembentukan karakter. Dalam surat yang beredar luas, dan viral tersebut menghimbau agar dihimbau agar setiap kegiatan pemerintah provinsi/kabupaten kota tetap memperhatikan rundown acara yang berpotensi berbau kesyirikan, asusila, dan tidak sesuai dengan norma budaya agama masyarakat setempat.

Sepertinya, identitas dan jati diri Andalan kemudian terkuak di masa-masa berikut. Surat edaran wakil Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman menyebar di beberapa media sosial, berisi larangan konvoi kendaraan dan pesta kembang api di malam tahun baru 2019. Larangan tersebut adalah kepedulian sekaitan musibah tsunami yang terjadi di Provinsi Banten dan Provinsi Lampung. Dalam surat edaran dengan nomor: 338/8744/B. Surat yang ditandatangani tanggal 26 Desember 2018 yang ditujukan kepada Bupati dan Walikota se-Sulawesi selatan dan para OPD lingkup Pemprov Sulsel, antara lain melarang untuk konvoi kendaraan, menyalakan petasan atau kembang api serta panggung hiburan di malam tahun baru.

BACA JUGA:  KPI Sulsel Latih Legislator Perempuan, Andi Etti Beri Apresiasi

Masyarakat menyambut baik surat edaran tersebut. Beberapa tokoh seolah mengatakan bahwa edaran tersebut seperti oase di padang savana. Ia hanya fatamorgana karena akan sulit membendung pesta kembang api yang sudah rutin dilakukan setiap tahun. Pesta tahun baru adalah tradisi dunia yang sudah menjadi tradisi masyrakat, khususnya Sulawesi Selatan.

Akan tetapi, edaran tersebut memang tidak terlalu, diindahkan beberapa masyarakat di perkotaan. Faktanya, kabupaten-kabupaten yang manut dengan aturan tersebut seolah hingar bingar perhelatan bunyi trompet, kembang api, dan semacamnya berubah menjadi malam nan sepi. Beberapa tempat ibadah menggelar zikir bersama di tengah malam itu. Masyarakat seperti berduyung-duyung masuk ke tempat ibadah untuk mengikuti pengajian-pengajian akbar siraman-siraman rohani di tempat-tempat ibadah. Kata tokoh ulama, uang masyarakat terselamatkan beberapa ratusan juta dari perhelatan untuk kegembiraan sesaat di pesta ulang tahun baru tersebut.

Kerja Andi Sudirman Sulaeman yang banyak diragukan karena kapasitas belia, bukan berarti tertutupi dari kisah singkat di atas. Data yang dimiliki, gerakan literasi kitab suci yang kini menyebar di sekolah-sekolah menengah atas merupakan satu kerja dari kursi yang dimiliki saat ini. Dulu, kitab suci di sekolah hanya milik prerogatif guru agama. Oleh karena ia menjadi sebuah gerakan maka siapa pun guru yang mengajar di satu sekolah memiliki tanggung jawab besar. Guru ‘wajib’ menuntun siswa untuk belajar hijaiyah, tadarus, menghafal, atau menulis Alquran sesuai dengan kebutuhan. Atau di kitab-kitab lain, misalnya Injil maka guru atau siswa perlu menghayati dan menikmati untaian ayat-ayat dari kitab suci tersebut.

Untuk menghitung dampak dari gerakan ini, tentu saja masih minim fakta, angka dan data. Ia bukan sebuah kesuksesan dari instrumen-intrumen untuk menguji efektivitas dari gerakan tersebut, belum dikuat. Para pengawas pembina sekolah atau kepala sekolah belum mengumpulkan validitas dari efektivitas dari gerakan tersebut. Bagaimana fakta lapangan? Tentu menjadi sebuah PR dari pemerintah untuk gerakan mahabaik untuk membentuk karakter anak-anak didik di masa-masa datang.

Namun pesimis boleh saja, akan tetapi memasukkan program hafiz Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) baru-baru ini, bisa jadi jawaban dari keraguan di atas. Wakil Gubernur yang memberi buah pikiran untuk memberikan ‘jalan’ enteng bagi penghafal Alquran di era zonasi adalah satu kebijakan yang baik, dan terbukti. Beberapa anak berhasil berhasil masuk di sekolah-sekolah yang menjadi incaran banyak calon siswa. Lalu, ruang dari jalur hafiz menjadi alternatif PPDB yang tidak pernah dipikirkan selama ini.

Akhirnya, merekeng perjalanan Andalan dalam menjalankan roda pemerintahan tentu terlalu singkat diutaskan di dalam tulisan ini. Ruang demikian sempit untuk mengurai sisi-sisi positif, khususnya karakter Andi Sudirman Sulaiman yang sempat diragukan di masa-masa awal pemerintahan.

Apa pun itu, wagub memiliki sisi-sisi kelebihan yang patut diapresiasi banyak orang. Jadi sepatutnya, harapan itu masih tetap ada. Tentu saja, masa empat tahun pemerintahan masih panjang. Kerja-kerja untuk membentuk penyadaran masyarakat menuju masyarakat berkarakter masih terus ditunggu. Buah pikiran dan kerja nyata dari buah pikiran masih terus dibutuhkan, kini dan nanti. **

(Penulis adalah pemerhati pendidikan, sosial dan budaya)

‘PostBanner’

Comment