by

(Opini) Sukriansyah S Latief, Sosok Rendah Hati, Saya Nyaman Memanggilnya Bos UQ

Ket. Foto: Sukriansyah S Latief/ist

Oleh: Abdi Satria*

Smartcitymakassar.com – SAYA dan Sukriansyah S. Latief pertama kali berkenalan pada 1991 di Harian Fajar. Bos UQ, begitu saya memanggilnya sampai saat ini, dimata saya adalah sosok rendah hati, pekerja keras dan visioner. Terus terang, kami tidak sering berinteraksi langsung. Jarak, waktu dan kesibukan masing-masing kerap ‘memisahkan’ kami. Meski begitu, bagi saya, Bos UQ selalu dihati dan termasuk bagian penting dalam kehidupan saya. Bukan semata di dunia jurnalis tapi juga perjalanan saya membina rumah tangga sampai saat ini.

‘FooterBanner’


Ada tiga ‘periode’ penting yang menjawab ‘arti’ pentingnya sosok Bos UQ dalam kehidupan saya.

Periode pertama, ketika sama-sama meniti karir sebagai jurnalis dari bawah. Saya hanya beberapa bulan di Harian Fajar karena memilih fokus menjadi Koresponden Tabloid BOLA di Makassar pada 1992. Status saya yang baru itu justu membuat saya dan Bos UQ lebih sering berinteraksi karena selain di FAJAR, Bos UQ juga menjadi Koresponden Majalah Forum Keadilan Jakarta.

Sebagai Koresponden BOLA, kerja saya lebih santai dibandingkan Bos UQ. Saya kerap mencandainya, karena dia harus membuat laporan berlembar-lembar kertas untuk Forum Keadilan yang terbit Dwi Mingguan, sedang saya paling banter dua lembar untuk BOLA yang terbit Mingguan. Sementara honor yang kami terima nyaris sama. Kami mengirim berita ke media masing-masing lewat sebuat wartel di kawasan Pantai Losari. Itu yang kami jalani bersama sebelum saya memutuskan hijrah ke Jakarta dan menjadi bagian dari Redaksi BOLA di Palmerah pada akhir 1993.

Pada periode ini, saya secara alamiah belajar dari Bos UQ soal ketekunan dan kerja keras. Yang berbekas dalam benak saya, setiap Forum Keadilan mau terbit, Bos UQ sudah mengetok jendela kamar saya selepas shalat subuh. Untuk menemaninya berkeliling memotret spanduk promosi Forum Keadilan pada sejumlah titik utama di Makassar. Itu karena saya sudah punya kamera sendiri saat itu. Karena faktor kamera itu pula, Bos UQ pernah mendadak dan setengah ‘memaksa’ saya menemaninya tugas liputan ke Kajang, Bulukumba. Kami berangkat naik mobil sewa di pagi buta menuju Kajang, Bulukumba.

Meski saat itu, ada larangan memotret sosok Ammatowa, tapi liputan tujuh halaman Bos UQ soal Kajang di Forum Keadilan mendapat pujian dari Jakarta. Mungkin karena foto hasil jepretan saya yang mewarnai laporannya. (ha..ha..ha).

Pada periode pertama ini, saya mendapat momen istimewa. Saat itu, kami terpaksa meminggirkan sepeda motor di emperan toko di jalan Veteran karena hujan deras mendadak mengguyur. Saya masih ingat nada lirih tapi optimis yang terlontar dari mulut Bos UQ. “Abdi, suatu saat nanti, kita tidak perlu lagi berteduh karena sudah memiliki mobil’. Dan dikemudian hari Bos UQ membuktikannya dengan sederet mobil yang dimilikinya sejalan dengan lompatan besar kariernya. Baik sebagai petinggi FAJAR dan kini menjadi staf khusus Menteri Pertanian serta Komisaris Pupuk Indonesia.

Periode II

Di periode ini, pertemuan saya dan Bos UQ praktis bisa dihitung dengan jari. Saya yang memutuskan hijrah dan belasan tahun hidup di Jakarta sementara Bos UQ memilih fokus meniti karier jurnalis di Makassar. Padahal, saya tahu Bos UQ juga pernah mendapat tawaran dari Pak Karni Ilyas (Pemred Forum Keadilan, kini di TV One) untuk berkarier di Redaksi Forum Keadilan Jakarta.

Tidak pernah lagi berinteraksi langsung, komunikasi kami tetap baik. Saya kerap menyempatkan diri untuk menelponnya. Terutama bila bertugas liputan di negara yang perbedaan waktunya beda jauh dari Indonesia. (ha..ha..ha). Kami tetap saling memberi semangat. Dari Jakarta, saya terus ‘memantau’ lompatan demi lompatan yang dilakukan Bos UQ dan kemudian menjadi pucuk pimpinan di redaksi Fajar sebagai Pemred.

Meski tidak lagi berinteraksi langsung, periode ini menjadi bagian penting dalam hidup saya. Berkat sosok Bos UQ, pembicaraan saya dengan wanita yang kemudian menjadi istri saya jadi “nyambung’. Maklum, sebelumnya, istri saya adalah sekretaris redaksi di Forum Keadilan. Otomatis, Bos UQ justru lebih dulu mengenalnya dibandingkan saya.

Pada periode ini, saya hanya sekali interaksi langsung dengan Bos UQ. Saat itu, saya dan keluarga berlibur ke Makassar. Dan Bos UQ mengundang saya makan malam sekaligus memperkenalkan wanita yang kemudian menjadi pendamping setianya sampai saat ini. Selebihnya, kami terjebak dengan kesibukan masing-masing.

Periode III

Belasan tahun menetap di Jakarta, saya memutuskan memboyong anak dan istri untuk menetap di Makassar pada 2005. Kembali ke Makassar, tidak otomatis membuat saya dan Bos UQ kerap bertemu. Saya hanya sesekali ke Graha Pena. Itu pun kami jarang bertemu. Pun, ketika saya sempat bergabung di Harian Upeks. Berada dalam satu gedung, tidak berarti kami sering berinteraksi. Tapi, kami tetap dekat. Dan saya tahu, Bos UQ terus ‘memantau’ saya. Saya juga tahu, Bos UQ ‘marah’ ketika saya keluar dari Upeks. Mungkin Bos UQ tidak tahu, sebelumnya saya sudah berkomitmen untuk tidak lama di Upeks. Komitmen itu saya lontarkan di rapat redaksi Upeks pada hari pertama saya bergabung.

Selepas dari Upeks, saya lebih lebih banyak ‘bertapa’ di rumah dan fokus menemani anak-anak bertumbuh. Rutinitas yang saya tak pernah dapatkan ketika berkarier sebagai jurnalis di Jakarta. Kehidupan saya dan keluarga datar saja, malah pernah di titik terendah. Saya beruntung memiliki istri dan anak-anak yang tetap mengikuti apa pun’hasil’ keputusan saya.

Hingga suatu saat, naluri saya sebagai jurnalis ‘muncul’ kembali. Saya menerima tawaran Pemred BOLA, Bang Ian Sitomurang untuk menjadi kontributor di Makassar pada 2010. Kemudian pada 2017, saya menerima pinangan portal Bola.com.

Di titik ini, pada suatu hari, Bos UQ menelpon saya dan meminta bertemu di rumahnya di kawasan Boulevard. Dengan gaya khasnya, saya merasa seperti ‘di interogasi’. Dengan muka serius, Bos UQ dia bilang akan berkomitmen membantu saya ‘menutupi’ selisih kekurangan finansial saya setiap bulan. Tentu saya langsung menolak. Karena itu bukan tipe saya, mendapatkan sesuatu tanpa kerja. Ternyata, Bos UQ menawarkan menjadi salah satu pengelola nusakini.com, portal yang kemudian membuat kehidupan saya dan keluarga lebih dinamis. Saya tetap meneruskan naluri sebagai jurnalis tapi tetap lebih banyak menemani istri dan anak-anak. Karena, saya mengelola portal itu di salah satu kamar di rumah sendiri.

Setelah melakoni tiga periode ini, feeling saya mengatakan akan ‘diperhadapkan’ pada periode lain dan berkaitan dengan Bos UQ. Secara alami, sadar atau tidak, saya pasti akan larut dengan keputusan Bos UQ masuk bursa calon walikota Makassar. Sebab Bos UQ adalah teman, sahabat dan kakak bagi saya. Bos UQ adalah orang baik. Saya dan semua orang yang pernah berinteraksi dengan Bos UQ tentu menginginkannya membuat Makassar menjadi lebih baik. **

(*Penulis adalah jurnalis Bola.com)

‘PostBanner’

Comment