by

(Opini) UQ Sahabat Terbaik

Oleh: Tomi Lebang*

Ket. Foto: Sukriansyah S Latief/ist

Smartcitymakassar.com – SAYA berkawan dengan tak terbilang orang, di setiap jenjang hidup, setiap kelompok, setiap kegiatan, atau setiap perjalanan. Mereka datang dan pergi, masih teringat atau sudah terlupakan, dikenang baik atau pahit, masih berkabar atau sudah saling berpunggungan …. semua ada.

‘FooterBanner’


Tapi satu kawan karib yang anteng dan tak lekang oleh waktu adalah satu nama ini: Sukriansyah S. Latief. Saya memanggilnya Uki — atau Uq — sahaja. Karena usianya terpaut tiga tahun, saya memanggilnya Kak Uq.

Kami berkawan lebih dari separuh umur saya, semenjak zaman mahasiswa dan mengelola penerbitan kampus di Universitas Hasanuddin di Makassar di tahun 90-an, sampai hari ini. Saya mengenal mendiang ayah dan ibunya, kakaknya, keluarganya. Saya kerap datang ke rumahnya kawasan kota lama Makassar.

Perjalanan hidup saya — atau kalau boleh dibilang karir — benar-benar beririsan dan bertaut dengan perjalanan Uq.

Ia kuliah di Fakultas Hukum, saya di Fakultas Teknik. Selisih empat angkatan. Hanya itu perbedaannya.

Selebihnya, saya jadi pengikutnya — meski karirnya jauh lebih moncer. Ia mengelola Surat Kabar Kampus Identitas, saya pun menyusul. Ia jadi wartawan media massa Harian FAJAR. Saya pun jadi wartawan meski tidak di FAJAR.

Nama Uq kemudian kian berkibar di dunia jurnalisme tanah air ketika ia menjadi Koresponden Majalah FORUM Keadilan — adik Majalah TEMPO yang dipimpin Karni Ilyas — untuk liputan kawasan timur dan sekitarnya. Liputan-liputannya menjadi acuan teknik laporan investigasi bagi wartawan-wartawan muda kota Makassar, termasuk saya.

Setahun setelah TEMPO dibredel pada 21 Juni 1994, sebagian wartawannya mengelola edisi Minggu, harian Media Indonesia. Koran milik Surya Paloh tersebut bersalin rupa menjadi media politik: Majalah TEMPO berbentuk koran. Nah, untuk liputan Makassar, Uq diminta jadi koresponden dengan nama inisial.

Baru satu dua edisi, Uq sepertinya kewalahan. Saya kemudian menggantikannya — tepatnya, ia merekrut saya untuk menjadi koresponden Media Indonesia Minggu. Dan itulah awalnya saya bergaul dan mengenal langsung para jurnalis eks Majalah TEMPO, dan kemudian membawa saya ke media ini setelah terbit kembali.

Lalu zaman berganti. Tahun 1998, Orde Baru tumbang. Reformasi datang dengan gegap gempita. Kebebasan pers yang lama terkungkung, kembali terbuka lebar. Tabloid-tabloid berita menjamur. Saya ingat benar suatu hari Uq dan Aidir Amin Daud mengajak saya untuk membangun sebuah tabloid. Namanya FOKUS, berkantor di kawasan Panakkukang Mas.

Di Tabloid FOKUS saya jadi Pemimpin Redaksi, Uq dan Aidir di jajaran penasehat. Sejumlah kawan lain yang masih mahasiswa bergabung pula mengelola redaksi: Abdul Haerah HR, Suparno, Muannas, dan lain-lain nama-nama yang kini bertebaran di berbagai media.

Usia FOKUS tak lama, tak sampai dua tahun, dihempas oleh badai kian menjamurnya media sejenis di mana-mana.

FOKUS mati tapi kami punya “mainan” baru, sebuah lembaga pendidikan media bernama eLSIM — Lembaga Studi Informasi dan Media Massa. Pendiri lembaga ini adalah Uq, Aidir Amin Daud, Prof. A. Muis (alm), Hamid Awaludin, dan saya. Empat sarjana hukum dan satu sarjana teknik hehe.

Pada mulanya eLSIM mengelola beasiswa dari sebuah lembaga internasional untuk pendidikan liputan investigasi bagi wartawan-wartawan muda Sulawesi Selatan. Belakangan eLSIM juga punya radio komunitas, mengelola analisis media, juga penyelenggara acara. Sampai sekarang eLSIM masih berdiri, bahkan punya gedung kecil di Jalan Abdullah Daeng Sirua. Saya dan Uq begitu aktif di eLSIM.

Begitulah. Tahun 2000 saya akhirnya pindah ke ibu kota. Uq tetap di Makassar. Ia jadi Pemimpin Redaksi Harian FAJAR lalu jadi direktur perusahaan itu, sambil tetap bersekolah. Ia meraih doktor ilmu hukum dari Unhas. Kami berbeda kota, tapi Uq tak pernah benar-benar jauh. Kami tetap bertemu dan saling berkabar.

Tahun 2014, Uq muncul di Jakarta. Ia datang sebagai pejabat: Koordinator Staf Khusus Menteri Pertanian. Ia juga jadi Komisaris BUMN besar, PT Pupuk Indonesia Holding Company, perusahaan yang membawahi sejumlah BUMN lain seperti Petrokimia Gresik, Rekayasa Industri, dll. Ia begitu sibuk.

Tapi Uq ternyata masih yang dulu. Ia masih dengan mudah datang bertemu kawan-kawan di warung kopi. Sampai kemarin, menjelang Ramadan, saya masih bertemu dengannya di satu warung pojok mal Kota Kasablanka.

Dalam rentang waktu yang panjang berkawan dengan Uq itu, saya tak melihat perubahan padanya — kecuali bahwa ia kian menanjak dalam karir. Uq memang pekerja keras dan selalu menemukan jalan keluar di setiap kebuntuan. Karena itulah, ia juga berhasil nyaris di semua bidang yang ditekuninya.

Dan inilah yang saya lihat pada dirinya: Uq tak punya musuh, dan pada dirinya tak pernah terdengar ujaran kebencian kepada siapa pun. Ia berkata baik dan positif tentang semua orang. Ia mendengar lebih banyak dari pada bicara. Ia tak pernah terlihat susah, dan saya menduga karena ia memendam kesusahannya sendiri. Ia hanya membagi kegembiraan ke semua orang.

Uq mengentaskan hidup banyak orang di sekelilingnya. Ia tak bertumbuh dan membesar sendirian.

Bisa jadi, karena itulah, Uq bisa berkawan begitu lama tanpa jeda dengan banyak orang lain pula. Bersahabat dengan saya selama seperempat abad lamanya, lebih dari separuh hidup saya.

Saya beruntung mengenal Uq sebagai sahabat, kakak — juga kerap jadi penolong di saat susah. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan melimpahkan berkah atas hidup kak Uq.

(*Penulis adalah Mantan Wartawan Tempo)

‘PostBanner’

Comment