by

Coretan Redaksi: Kota yang Dirindukan

Ket. Foto: ilustrasi

Smartcitymakassar.com – ADA kota yang ketika kita kunjungi senantiasa menyimpan rindu saat kita sudah meninggalkannya. Kota semacam ini seperti selalu ‘berbunyi’ dalam ingatan. Suasananya, detak napasnya, ruang-ruang kekariban yang dihadirkannya seperti terus berdenyut dalam nadi kita.

Terus terang, saya tak tahu pasti, apa yang menjadi daya tarik sebuah kota sehingga kita selalu memupuk harapan untuk kembali menyapanya. Tapi saya pernah membaca sebuah buku bagus berjudul “Tempat-Tempat Imajiner” karya Michael Pearson. 

‘FooterBanner’


Buku ini bercerita tentang tempat yang mengabadi dalam waktu. Kota tempat seorang penulis besar (sastrawan, penyair, seniman) membekukannya dalam imajinasi, baik itu dalam bentuk roman, novel atau puisi. 

Sebuah kota kemudian menjadi terus berdenyut di sana. Dalam bayang-bayang imajinasi yang dihidupkan oleh sang penulis, seperti kota Mississipi-nya Faulkner, kota Florida-nya Hemingway,  Kalifornia-nya Steinbeck atau Missouri-nya Mark Twain.

BACA JUGA:  Semarak Peringatan Maudu Ada'ka Ri Gowa, Kanre Maudu Padati Ruang Tengah Istana Balla Lompoa

Memang, buku ini berangkat dari sebuah cita rasa bahwa setiap karya sastra senantiasa memiliki sebuah konteks. Sebuah tempat. Sebuah kota.  Inilah yang menjadikan sebuah kota terus menerus melekatkan diri dalam imajinasi seorang penulis. Yang terus menerus menghidupi kota tersebut dengan siraman imajinasi, cinta dan kerinduan dan menebar ke pembacanya.

Inilah yang menjadikan sebuah kota memiliki pengucapan. Sebuah cara khas berucap yang kemudian melekat pada seseorang yang mengunjunginya. (MG)

‘PostBanner’

Comment