by

(Opini) Prestasi di Kota Makassar Harus Berlanjut

Ket. Foto: Muh. Iqbal/ist

Oleh: Muh. Iqbal*

Smartcitymakassar.com – AKHIRNYA, gelar yang dirindukan telah tiba di kota ini, setelah penantian panjang selama hampir dua dekade. Gelar ini tiba dengan kondisi fisik yang pastinya lelah, juga tampak lebam di punggungnya. Karena memang, 19 Tahun dalam perjalanan bukan hanya masalah waktu yang panjang tapi juga tentang pengorbanan materil dan moril.

Entah apa yang membuatnya -gelar, selambat ini, mungkin saja ia pernah mengalami disorientasi medan, berjalan di bebatuan cadas tanpa alas, keluar dan masuk hutan, atau mungkin juga pernah kehabisan bekal dalam perjalanan yang membuat ia mesti menetap di tempat tertentu, kembali mengumpulkan bekal agar dapat melanjutkan perjalanan.

Tentu masih segar dalam ingatan bagaimana tim kebanggan ini tertatih-tatih, berjalan seperti tanpa tujuan dan kehilangan arah. Sebagaimana beberapa tahun lalu, saat banyak dari punggawa tim yang dengan terpaksa bermain di liga tarkam. Hingga yang paling menyayat hati secara kolektif, 2 musim menjadi runner-up secara berturut-turut pada liga yang sama. Parahnya yang terakhir “gelar” menunda kedatangannya dengan desas-desus adanya pengaturan skor oleh para mafia bola.

Tapi, Kemenangan dengan aggregat 2 – 1 atas Persija pada laga Final leg ke dua menjadikan semua pedih itu telah terbayar. Tuntas!. Dapat dirasakan bagaimana masyarakat Sulawesi berbangga diri, dan larut dalam uforia kemenangan. Khususnya di Makassar, anthem “Berjuanglah PSM-Ku” dan nyanyian-nyanyian penyemangat untuk tim kebanggan terdengar dimana-mana. Oleh kelompok yang merayakan kemudian mengadakan konvoi, anak-anak yang main kelereng di lorong, hingga penjual Apang Bambang. Semua merayakan, semua gembira, dan semua berbangga. Namun, selarut bagaimanapun kita dalam uforia kemenangan, hal yang mesti tertanam adalah bahwa juara ini adalah bagian dari pencapaian, dan akan di ikuti oleh banyak hal serupa di masa mendatang. Olehnya itu, manajemen perlu sedikit flash back untuk melihat siapa yang menjadi bagian dari pencapaian ini.

Suporter Bukan Sebatas Konsumen

Seperti kutipan sebelumnya, manajemen PSM Makassar perlu kembali melihat kebelakang untuk menemukan kemudian mengapresiasi siapa saja yang turut andil dalam pencapaian ini. Dan salah satunya adalah kelompok suporter. Ada kelompok suporter yang konsisten tetap gagah, berdiri, melompat, bersorak dan bernyanyi di tribun demi menyemangati kebanggaan. Bagi mereka, datang di tribun bukan sekedar hiburan. Disana ada doa dan harapan yang mengalir lewat genderang yang ditabuh, sorakan dan lompatan seirama. Manajemen dan tim pun pasti mengiyakan bahwa betapa garingnya sebuah pertandingan tanpa karya dan semangat mereka.

Baca Juga:  Ditahan Imbang Tottenham Hotspur, Manchester City Harus Rela Berbagi Poin

Bentuk apresiasi yang dimaksud bukan berarti manajemen harus membayar karya mereka dengan materi. Karena mereka hadir dengan ikhlas dan niatan semoga kehadirannya itu dapat memotivasi dan membangkitkan semangat setiap pertandingan yang dilakoni oleh tim. Ada beberapa hal yang menurut penulis dapat menjadi bahan rujukan untuk manajemen kedepannya, dan sekaligus agar suporter tidak dipandang sebatas konsumen pembeli tiket untuk memperkaya manajemen.

Pertama, Manajemen harus berani berdiri di belakang dan membela para suporter saat kreatifitas mereka di batasi. Seperti kejadian beberapa hari yang lalu, setelah pengumuman penundaan laga final, pengumuman tersebut kemudian di ikuti dengan informasi pelarangan membawa spanduk dan tongkat saat pertandingan dilanjutkan. Meskipun akhirnya kembali dibolehkan dengan syarat, tapi bagaimana jika hal ini benar-benar berlaku pada saat laga final ?. Hemat penulis, adanya pelarangan-pelarangan seperti itu, adalah pelemahan terhadap suporter untuk berkreasi. Maka untuk kejadian yang sama dilain waktu, manajemen harus lebih tanggap, misalnya dengan mengajukan banding kepada penyelenggara. Bahkan jika perlu, sewaktu-waktu manajemen menfasilitasi para suporter agar lebih kreatif.

Selanjutnya, Jangan sekali-kali meragukan kecintaan dan militansi suporter terhadap tim. Tak perlu heran jika quote “PSM dulu baru kamu”, memang benar-benar berlaku bagi mereka. Atau rela dipotong gaji, menabung berbulan-bualan demi menyaksikan laga tandang tim kebanggan. Kecintaan dan militansi ini harus dimanfaatkan oleh manajemen, dengan cara membentuk komisi khusus yang independen, anggotanya diambil dari perwakilan tiap-tiap kelompok suporter yang ada. Ini akan menjadi sangat menarik dan membangun, dimana ada suara-suara dan pemikiran ikhlas pada setiap pengambilan kebijakan atau keputusan yang akan diambil oleh manajemen. Membukakan ruang yang lapang bagi mereka dalam pengambilan keputusan, atau sekedar memberi saran dan masukan pasti sangat membantu kejayaan Tim PSM Makassar, karena mereka tidak punya sangkut paut dengan saham atau pemasukan yang menurun, cukup bagi mereka tim dapat produktif dan meraih kemenangan.

Bahwasanya, sinergitas antara suporter dan manajemen PSM Makassar akan sangat dibutuhkan kedepannya. Terakhir, mari tetap menyalurkan semangat kepada PSM Makassar. Karena PSM Makassar bukan hanya sekedar olahraga dan hiburan, ia lebih dari sebuah budaya. – The Power of Ewako. (*)

(*Penulis adalah Anggota Red Gank PSM Sektor Kampus Amkop)

‘PostBanner’/

Comment