by

Semen Tonasa, Riwayatmu Kini

Ket. Foto: Semen Tonasa/Ist

Smartcitymakassar.com – Makassar. Dilansir dari laporan tahunan semen Tonasa 2017, http://www.sementonasa.co.id/annreport.php, sejarah pabrik semen Sulawesi Selatan (Sulsel) ini bermula melalui Ketetapan MPRS No.II/MPRS/1960 tanggal 3 Desember 1960 tentang Garis-garis Besar Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana Tahapan Pertama Tahun 1961 – 1969, khusus dalam ketentuan Bab II Pasal 5 (2), dimana Presiden Republik Indonesia berkomitmen untuk mengembangkan perekonomian di Sulsel, yang ditindaklanjuti dengan menerbitkan Kepres RI No. 260 Tahun 1960 Tanggal 14 Oktober 1960 (era Presiden RI ke 1,Sukarno), dimana pemerintah menyetujui untuk segera melaksanakan proyek-proyek industry dasar atas Beban Negara, kemudian diikuti dengan diterbitkannya Kepres RI No. 225 Tahun 1963 tanggal 04 Nopember 1963 yang menetapkan ‘Proyek Semen Tonasa (termasuk dalam Direktorat Penyelenggaraan Pelaksanaan Proyek, dengan status Perusahaan Negara. Sejak penetapan proyek Semen Tonasa, dimulailah proses penyiapan dan pembebasan lahan oleh pemerintah Republik Indonesia melalui departemen Perindustrian Pusat pada tahun 1960 hingga tahun 1968.

Pembanguan Proyek Semen Tonasa selesai dan beroperasi (Pabrik Tonasa I) dengan Kapasitas 120.000 Ton / tahun dan diresmikan pada tanggal 02 November 1968, oleh Jendral M. Jusuf, selaku Menteri Perindustrian saat itu.

Pada tanggal 01 Agustus 1969 Presiden Republik Indonesia (era Soeharto) mengesahkan Undang-Undang RI No.9 Tahun 1969 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No.1 Tahun 1969 tentang Bentuk-bentuk Usaha Negara menjadi Undang-Undang dimana usaha Negara berbentuk perusahaan dibedakan dalam 3 bentuk yaitu Perjan, Perum dan Persero. Berdasarkan hal tersebut, pada tanggal 08 September 1971, melalui Peraturan Presiden RI No. 54 Tahun 1971, Presiden Republik Indonesia Bapak Soeharto menetapkan Pendirian Perusahaan Umum (Perum) Semen Tonasa, sekaligus menjadi titik awal berdirinya usaha negara di Sulawesi Selatan, yang berlokasi di Kelurahan Tonasa Kecamatan Minasa Tene, kabupaten Pangkajene dan kepulauan (Pangkep).

Selanjutnya, seiring dengan perkembangan dan kebutuhan bisnis, Pemerintah Republik Indonesia menerbitkan Peraturan Pemerintah RI No. 1 Tahun 1975 Tanggal 9 Januari 1975 Tentang Pengalihan Bentuk Perum Semen Tonasa menjadi Perusahaan Perseroan (Persero). Sejak terbentuknya PT Semen Tonasa (Persero), pada tanggal 9 Januari 1976, dimana pemegang saham dikuasai penuh oleh negara, dan menunjuk Andi Ahmad Rifai (Gubernur Sulsel 1960-1966) sebagai Presiden Direktur, serta

Ir. Sutowo dan Drs. Abdullah Hasan sebagai Direktur.

Seiring dengan semakin tingginya kebutuhan semen, pada pada tanggal 02 September 1976, Pabrik semen tonasa Unit II dibangun dengan bekerjasama antara Pemerintah RI bersama Pemerintah Kanada dan beroperasi pada tahun 1980 dengan Kapasitas terpasang 510.000 ton pertahun kemudian dioptimalisasi sehingga Kapasitas terpasang menjadi 590.000 ton semen pertahun (1991). Pada masa ini pula pemerintah Republik Indonesia Menteri Perindustrian menghibahkan kepada Semen Tonasa berupa sertifikat dengan luas lahan 5.762.016 M2

Selanjutnya pada tanggal 03 April 1985 Pabrik semen tonasa Unit III mulai beroperasi dengan kapasitas terpasang 590.000 ton semen pertahun yang merupakan kerjasama antara Pemerintah RI dengan Permerintah Jerman Barat.

Sedangkan pada tahun 1990 dibangun Pabrik Semen Tonasa IV Kapasitas 2.300.000 ton semen pertahun dan Pembangkit listrik dengan kapasitas 2 X 25 MW diarea pelabuhan Biringkassi.

Dikuasai Semen Gresik

Pada tahun 1995, PT. Semen Gresik melakukan right issue dan saat itu, pemerintah tidak mempunyai dana untuk membeli saham yang menjadi haknya di Semen Gresik. Namun, pemerintah tetap menginginkan kepemilikan saham mayoritas. Akhirnya, pemerintah kemudian menjual 100 persen sahamnya di PT Semen Padang dan PT Semen Tonasa kepada Semen Gresik, untuk membayar saham yang menjadi haknya di PT Semen Gresik.

Baca Juga:  Kepala BKD Sulsel: Mutasi 193 Pejabat Tanggungjawab Saya

Selanjutnya sesuai Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Semen Tonasa sebagaimana termuat dalam akta No. 192 Tanggal 30 Mei 1995, Saham Perseroan sebesar Rp304.000.000.000,- yang dimiliki oleh Pemerintah RI beralih, sehingga status PT Semen Tonasa (Persero) berubah menjadi anak perusahaan PT Semen Gresik (Persero). Adapun proses penjualan saham Pemerintah di PT Semen Tonasa kepada PT Semen Gresik (Persero) Tbk, tidak didasari oleh suatu Peraturan Pemerintah dikarenakan pemerintah tidak mengeluarkan dana baru dari APBN untuk melakukan pembelian saham tetapi hanya menukar saham yang ada di PT Semen Tonasa dan PT Semen Padang dengan saham baru di PT Semen Gresik (Persero) Tbk, dimana dana yang dikeluarkan oleh Pemerintah (APBN) pada saat penyertaan saham di PT Semen Tonasa sudah didasari oleh Peraturan Pemerintah.

Saat Krisis Ekonomi

Saat Krisis Ekonomi, PT Semen Gresik (Persero) tanggal 13 Mei 1997, lewat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, memutuskan untuk mengeluarkan saham dalam potepel sebanyak 500 saham yang diambil oleh Koperasi Keluarga besar Semen Tonasa.

Pembangunan Pabrik Tonasa V

Pada tahun 2007, berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Semen Gresik (Persero) Tbk, tanggal 10 Desember 2007, salah satunya menyetujui pembangunan pabrik semen Tonasa V dengan kapasitas terpasang 2 X 2,5 Juta ton per tahun. Tak hanya itu, juga disetujui

pembangunan Pembangkit Listrik pada Pabrik Biring Ere, Sulawesi Selatan 1 X 35 MW. Adapun proyek ini dalam masa kepengurusan HM. Sattar Taba (direktur utama), Jonathan Dollo Sanda (direktur keuangan), Erizal Bakar (direktur komersial), Ir. Soebagio (direktur produksi), dan Ir. Gatot Kustiadji (direktur litbang).

Menjadi Semen Indonesia

Selanjutnya, untuk menjawab tantangan yang ada, Industri semen terus melakukan perbaikan baik dari sisi pengelolaan perusahaan maupun dari sisi IT, sehingga Industri Semen juga melakukan transformasi disegala bidang, hingga perubahan nama Pemegang Saham PT Semen Tonasa menjadi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk yang secara resmi tertuang dalam Akta Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Semen Tonasa No. 43 tanggal 18 September 2013. Dengan demikian komposisi pemegang PT Semen Tonasa menjadi PT Semen Indonesia (99%), dan Koperasi Keluarga Besar Semen Tonasa (1%).

Semen Tonasa Kini

Pada raker bulan Januari 2019 di Hotel Gammara, Makassar, Semen Tonasa menargetkan laba bersih pada tahun 2019 sebesar Rp1.1 triliun.

Adapun penjualan tonasa tahun 2018 mendapat laba bersih 124 % atau dua kali lipat dibanding tahun 2017.

Berikut laba bersih sejak 2013 berdasarkan laporan tahunan semen Tonasa 2017 adalah sebagai berikut:

Sumber: Semen Tonasa

Sedangkan sepanjang tahun 2017, semen Tonasa mencatatkan pertumbuhan sebesar 7%. Atau dengan Laba bersih sekitar Rp. 645 milliar pada tahun 2017.

Persoalan pemotongan Bonus Tahunan Karyawan

Sejak 2018 dan 2019 ini, pemangkasan bonus karyawan semen Tonasa oleh induknya semen Indonesia terus terjadi. Berdasarkan informasi yang diterima, di tahun 2018 bonus yang diterima 1,9 kali gaji dari permintaan 4 kali gaji. Sedangkan di tahun 2019 ini bonus yang diterima 3,1 kali dari permintaan 3,7 kali, itupun setelah terjadi perundingan alot dari pihak Semen Tonasa dan semen Indonesia. Padahal menurut informasi, sebelum tahun 2018, bonus karyawan tak pernah seribet ini. Persoalan bonus ini, tentunya juga berdampak kepada anak usaha Semen Tonasa.

Apakah ini wujud dari efesiensi yang dimaksud selama ini oleh semen Indonesia? (Aan/IP)

‘PostBanner’/

Comment