by

Ini Pilpres Tiga Zaman di Indonesia

Ket. Foto: Soekarno lakukan pencoblosan di pemilu/Ist

Smartcitymakassar.com – Jakarta. Setelah Gerakan 30 September 1965, Soeharto kemudian mengambil alih kekuasaan dari Soekarno (era orde lama), dan resmi menjadi presiden pada tahun 1968.

Adapun masa jabatan Soeharto sebagai presiden yaitu 12 Maret 1967 menjadi pejabat Presiden, sampai dilantik pada 27 Maret 1968. Soeharto kembali dipilih oleh MPR  pada tahun 1973,1978, 1983, 1988,  1993, dan 1998, dimana wakil Presidennya antara lain: Hamengkubuwana IX (1973–78),Adam Malik (1978–83), Umar W. (1983–88), Sudharmono (1988–93), Try Sutrisno  (1993–98), dan B.J.Habibie (1998).

‘FooterBanner’


Pada tanggal 21 Mei 1998, Soeharto akhirnya mengundurkan diri, menyusul terjadinya kerusuhan Mei 1998 dan  pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa. Soeharto digantikan oleh B.J. Habibie.

GOLKAR

Dilansir dari laman resmi partai Golkar, http://www.golkar.or.id/sejarah-partai-golkar, sejarah Partai Golkar bermula pada tahun 1964 dengan berdirinya Sekber Golkar di masa akhir pemerintahan Presiden Soekarno. Sekber Golkar didirikan oleh golongan militer, khususnya perwira Angkatan Darat ( seperti Letkol Suhardiman dari SOKSI) menghimpun berpuluh-puluh organisasi pemuda, wanita, sarjana, buruh, tani, dan nelayan dalam Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar).

Sekber Golkar didirikan pada tanggal 20 Oktober 1964. Terpilih sebagai Ketua Pertama Sekber Golkar adalah Brigadir Jenderal (Brigjen) Djuhartono sebelum digantikan Mayor Jenderal (Mayjen) Suprapto Sukowati lewat Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) I, Desember 1965.

Organisasi-organisasi yang terhimpun ke dalam Sekber GOLKAR ini kemudian dikelompokkan berdasarkan kekaryaannya ke dalam 7 (tujuh) Kelompok Induk Organisasi (KINO), yaitu: 1. Koperasi Serbaguna Gotong Royong (KOSGORO) 2. Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) 3. Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) 4. Organisasi Profesi 5. Ormas Pertahanan Keamanan (HANKAM) 6. Gerakan Karya Rakyat Indonesia (GAKARI) 7. Gerakan Pembangunan

Namun, Presiden Sukarno, menurut David Reeve penulis buku Golkar: Sejarah yang Hilang, Akar Pemikiran dan Dinamika (2013), justru merupakan penggagas pertama dari wadah semua golongan bernama Golongan Karya, sekitar tahun 1957. Waktu itu, Golongan Karya versi Sukarno ini tak diproyeksikan sebagai sebuah partai, karena Sukarno sendiri hendak menganulir partai-partai yang tak berjalan sebagaimana mestinya di masa Demokrasi Liberal.

PEMILU PERTAMA ERA SOEHARTO

Golkar, dalam Pemilu 1971 (Pemilu pertama dalam pemerintahan Orde Baru Presiden Soeharto), akhirnya menjadi salah satu peserta dan langsung tampil sebagai pemenang.  Pemilu legislatif ini, tepatnya diselenggarakan secara serentak pada tanggal 5 Juli 1971 untuk memilih anggota DPR serta anggota DPRD Provinsi maupun Kabupaten/Kotamadya se-Indonesia.

Dari 10 partai peserta yang memperebutkan total 360 kursi, Golkar bahkan secara melejit meraih 236 kursi, atau jauh selisihnya dari peringkat kedua yaitu Partai Nahdatul Ulama (58 kursi).

Baca Juga:  Disebut Petinggi Gerindra sebagai Calon Menteri, Ini Kata Sandiaga Uno

Setelah 1993, Golkar baru punya Ketua nonmiliter, yaitu Harmoko. Dalam kurun waktu tersebut, Golkar menjadi partai yang semakin jaya.

Dalam sejarah, Golkar masih dikenang sebagai kendaraan politik Orde Baru dan tentu saja Soeharto. 

PERJALANAN PEMILIHAN PRESIDEN DARI MASA KE MASA

Tanggal 18 Agustus 1945 atau sehari setelah pembacaan Proklamasi Indonesia, Sukarno terpilih sebagai Presiden RI ke – 1. Sukarno dipilih melalui sidang musyawarah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Saat itu PPKI tak memberikan batas waktu untuk Sukarno menjabat. Dia pun sempat diangkat sebagai presiden seumur hidup. 

Hingga akhirnya pada tahun 1968, Soeharto menjadi Presiden RI ke-2. Pengangkatan Soeharto disahkan melalui sidang paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Sejak itu pemilihan presiden dilakukan melalui sidang umum MPR melalui mekanisme pemungutan suara.

‘Hak memilih presiden ada di tangan anggota MPR yang mayoritas anggota Fraksi Golongan Karya dan Fraksi ABRI’

Fraksi Golkar dan Fraksi ABRI adalah dua kekuatan penyokong Soeharto, sehinga dia selalu terpilih sebagai presiden selama hampir tujuh periode. 

Hingga akhirnya pada 1998 Soeharto mundur, dan Bacharuddin Jusuf Habibie menjadi presiden RI ke-3. Adapun Habibie menjabat sampai tahun 1999 saat digelarnya pemilihan umum, dan pemilihan presiden pertama setelah zaman reformasi.  Saat itu pemilihan presiden masih dilakukan melalui pemungutan suara di sidang paripurna MPR. Bedanya, Golkar dan ABRI tak lagi mendominasi. Hasilnya, terpilihlah paket Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai presiden RI ke -4, dan Megawati Soekarnoputri sebagai wakil presiden. 

Pergolakan politik yang terjadi selama tahun 2000 hingga 2001 memaksa Gus Dur meletakkan jabatannya. Selanjutnya Megawati menjabat presiden RI ke-5. Di masa Megawatilah kemudian dirintis pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung.

Tahun 2004 untuk pertama kalinya Indonesia menggelar pilpres secara langsung. Hasilnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpilih sebagai presiden RI ke-6 pertama yang dipilih secara langsung. SBY kembali terpilih sebagai presiden dalam pilpres secara langsung tahun 2009. 

Selanjutnya, di tahun 2014, Joko Widodo (Jokowi) terpilih menjadi Presiden RI ke-7. Hingga saat ini tahun 2019, dimana masih berlangsungnya sidang gugatan pemilu, setelah KPU secara resmi telah menentukan Jokowi sebagai pemenang Pilpres 2019. (Aan/IP)

‘PostBanner’

Comment