by

RUU Izinkan Pelaku Kejahatan Dikirim ke Cina untuk Diadili, Puluhan Ribu Warga Hongkong Unjuk Protes

Ket. Foto: Unjukrasa warga hongkong/Ist

Smartcitymakassar.com – Hongkong. Puluhan ribu warga Hong Kong melakukan aksi demo memprotes RUU ekstradisi pada Rabu (12/6/2019) kemarin. Bahkan, untuk mendukung aksi ini, pemilik toko di Hong Kong juga rela menutup tokonya. Salah satu pemilik Toko, Alan Li mengatakan aksi demo yang dilakukan lebih penting dibandingkan membuka usahanya di hari itu. Sebab, bila tak dilakukan dikhawatirkan pemerintah bisa merusak kebebasan dan kepercayaan pada komersial.

“Meskipun kita tidak dapat melakukan bisnis selama sehari, bagi saya tidak ada yang lebih penting daripada mempertahankan kebebasan berbicara dan kebebasan berpikir,” ucap pemilik toko Alca & Co di Tsim Sha Tsui, dikutip dari Reuters, Kamis (13/6/2019).

Dari puluhan ribu demonstran, hampir 100 pemilik toko ikut turun ke jalanan. Mereka berpakaian hitam, dan mengepung badan legislatif Hong Kong.

Tindakan yang dilakukan oleh para pengusaha dan pekerja karena RUU ekstradisi telah menyerang banyak orang. Masyarakat menjadi semakin waspada terhadap campur tangan Beijing.

Tak hanya pengusaha, pengacara, mahasiswa pun telah prihatin terhadap terkikisnya hak asasi manusia dan otonomi sistem hukumnya yang merupakan salah satu keunggulan kompetitif terpenting Hong Kong.

Li yang menjual gaun pernikahan dan pakaian resmi sejak tahun 2015 sendiri mengatakan tak pernah menutup tokonya kecuali saat Tahun Baru Imlek. Ia juga mengaku tak nyaman melibatkan bisnisnya dalam politik. Namun, tindakan protes tetap harus dilakukan sesuai pendirian. Pasalnya hal ini juga bisa memengaruhi perekonomian di dalam negeri.

“Jika undang-undang ekstradisi disahkan, ketakutan yang kita perlu hadapi akan semakin mengerikan. Alasan mengapa begitu banyak orang berinvestasi di Hong Kong adalah karena kita diatur oleh aturan hukum dan memiliki catatan hak asasi manusia yang baik. Jika undang-undang ekstradisi berlaku, saya yakin para investor akan pergi,” ungkapnya.

Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam sendiri mengatakan, pemerintahannya mengubah RUU tersebut untuk memasukkan perlindungan bagi hak asasi manusia.

Sekretaris pendidikan Konfederasi Serikat Buruh Hong Kong Stanley Ho, mengatakan serikatnya telah mendorong anggotanya yang berjumlah 190 ribu orang untuk mogok pada hari Rabu.

“RUU ekstradisi sangat berbahaya bagi orang-orang Hong Kong, terutama pekerja Hong Kong,” kata Ho.

Tanggapan Trump

Presiden Amerika Serikat Donald Trump angkat bicara soal situasi di Hong Kong yang tengah diwarnai aksi unjuk rasa warga.

Baca Juga:  Ratusan Warga Ikuti Lomba HUT RI di Posko Relawan Calon Walikota Makassar UQ Sukriansyah

Menurut Trump, dirinya memahami alasan warga Hong Kong yang menentang rencana UU Ekstradisi. Tetapi Trump juga berharap mereka dapat menyelesaikan permasalahan ini dengan Beijing.

“Saya berharap mereka akan dapat menyelesaikan masalah ini dengan China,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Rabu (12/6/2019).

“Saya dapat mengerti alasan demonstrasi itu. Saya berharap semuanya dapat berhasil untuk China dan juga Hong Kong,” lanjut Trump, dikutip seperti AFP.

Cina Dukung Hong Kong Soal RUU Ekstradisi

Pemerintah Cina mendukung pemerintah Hong Kong untuk melanjutkan amandemen Undang-Undang Ekstradisi, yang menjadi kontroversi di masyarakat. Cina mengatakan menolak upaya pihak luar untuk mengintervensi kebijakan di wilayah Hong Kong, yang semi-otonomi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Geng Shuang, mengatakan Beijing akan melanjutkan dukungan kuat kepada pemimpin Hong Kong yaitu Kepala Eksekutif Carrie Lam.

“Kedua, kami secara kukuh menolak setiap gangguan dalam urusan legislasi di Hong Kong,” kata Shuang kepada media, dilansir dari Aljazeera pada Senin, 10 Juni 2019.

72 Orang Terluka

Sekitar 72 orang demonstran yang menolak pembahasan Rancangan Undang-Undang Ekstradisi di Hong Kong terluka dalam bentrokan yang terjadi kemarin. Bahkan dua di antaranya dilaporkan mengalami luka serius.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (13/6), bentrokan kembali terjadi ketika polisi berusaha membubarkan unjuk rasa damai yang digelar pada Rabu (12/6) pagi hingga petang. Para demonstran saat itu mengepung sejumlah jalan di sekitar gedung Dewan Legislatif menolak pembahasan RUU Ekstradisi.

Menurut catatan Otoritas Rumah Sakit Hong Kong, 72 orang terluka dirawat di sejumlah rumah sakit. Sebagian karena terpapar gas air mata dan semprotan merica, serta beberapa lainnya dilaporkan tertembak peluru karet.

Bentrokan kemarin menjadi salah satu yang terburuk sejak mereka lepas dari kekuasaan Inggris pada 1997 dan kembali ke Cina. Sejak itu Hong Kong selalu bergolak. Padahal, Inggris mensyaratkan China harus menjamin otonomi dan kebebasan penuh terhadap Hong Kong, termasuk pemisahan sistem hukum dan kebebasan berpendapat.

Sebagai informasi, Rancangan Undang-undang (RUU) Ekstradisi Hong Kong yang mengizinkan pelaku kejahatan dikirim ke Cina untuk diadili. The Strait Times melansir, pemimpin Hong Kong, Carrie Lam menyatakan pada Selasa (11/6/2019) bahwa pemerintah akan memperjuangkan RUU tersebut. (Aan/IP)

‘PostBanner’/

Comment