by

Dari Sakit Hati Kahar Muzakkar, Hingga Akhirnya Dirikan Negara Islam

Ket. Foto: Kahar Muzakkar/Ist

Smartcitymakassar.com – Makassar. “GEROMBOLAN” atau pemberontakan Abdul Kahar Muzakkar, terus membekas hingga masih menjadi bahan perbincangan dari generasi ke generasi, khususnya di wilayah Sulawesi Selatan. Berbagai pendapat baik yang pro dan kontra terhadap Kahar Muzakkar tentunya tak terelakkan dari pemahaman generasi muda saat ini. Bahkan mati tidaknya Kahar Muzakkar juga termasuk dalam pro- kontra perbincangan tersebut. Apalagi seperti diketahui, letak makam dari Kahar Muzakkar hingga saat ini masih menjadi misteri.

Adapun pemberontakan Abdul Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan ( 1950-1965), dilatarbelakangi dengan kekecewaan terhadap kebijakan pemerintahan pusat. Kekecewaan tersebut membuat Kahar melakukan pemberontakan yang berlangsung kurang lebih selama 15 tahun. (Gonggong, 2014). Semula Kahar Muzakkar berontak karena banyak mantan anggota pejuang dalam Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) yang dipimpinnya tidak diterima masuk ke Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sementara itu banyak eks KNIL dengan mudahnya masuk TNI.

Anhar Gonggong dalam Abdul Qohhar Mudzakar: Dari Patriot Hingga Pemberontak (1992) menggambarkan pemberontakan Kahar Muzakkar terhadap pemerintah ada dua tahap. Antara 1951 hingga 1953 adalah tahap pertama, penggalangan dan peralihan. Di tahap berikutnya, antara 1953 hingga 1965, disebut Kahar Muzakkar sebagai masa-masa Revolusi Islam (hlm. 137).

Negara Islam yang dibangun Kahar Muzakkar hanya eksis di hutan-hutan sekitar Gunung Latimojong, Enrekang, Sulawesi Selatan. Sulit bagi mereka untuk berjaya di daerah sekeliling kota Makassar. Di kawasan Enrekang itu, meski tak memakai istilah presiden, negara ala Kahar tersebut dinamai Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII). Seperti dicatat Anhar Gonggong, RPII berdiri dalam sebuah pertemuan tanggal 14 Mei 1962, di mana Kahar Muzakkar diangkat menjadi Pejabat, sementara itu Kartosoewirjo lebih diakui sebagai Imam dari NII yang dipimpinnya. Konstitusi RPII  diumumkan juga dalam pembentukannya (hlm. 197). Sebelum ada RPII, Kahar Muzakkar bersekutu dengan Permesta di Sulawesi Utara dan PRRI di Sumatra, dalam Republik Persatuan Indonesia (RPI) yang tidak lama umurnya. Bersekutu dengan sesama pemberontak adalah hal biasa sebelum 1965.

ABDUL KAHAR MUZAKKAR bukan nama pemberian orangtuanya. Sebelum beranjak dewasa, ia dipanggil La Domeng. Waktu kecil ia suka main (kartu) domino. Tak jelas benar nama sesungguhnya. Menurut Barbara Sillars Harvey dalam Pemberontakan Kahar Muzakkar: dari Tradisi ke DI/ TII (1989), namanya menjadi Abdul Kahar Muzakkar setelah sekolah di Solo. Nama itu digubahnya dari nama seorang guru kesayangannya, seorang pemimpin muda Muhammadiyah,  Abdul Kahar Muzakkir.Muzakkir adalah salah satu wakil Islam dalam Panitia Sembilan yang merumuskan Pembukaan UUD 1945. Seperti  Panglima Besar Sudirman, Kahar menimba ilmu sejak muda di sekolah Muhammadiyah. Seperti Sudirman  pula, Kahar sempat menjalani hidup sebagai guru. 

Dari koleksi arsip Sekretaris Kabinet Perdana Menteri 1950-1959 nomor 939 di Arsip Nasional Republik Indonesia, setelah melalui Sekolah Rakyat selama tiga tahun, Kahar lanjut belajar selama empat tahun di Standarschool milik Muhammadiyah dan lulus pada 1935. Setelahnya ia lanjut ke Muallimin Solo, sekolah guru milik Muhammadiyah. 

Menurut Mattulada dalam Kahar Muzakkar: Profil Patriot Pemberontak  di jurnal Prisma dan buku Manusia dalam Kemelut Sejarah (1977), Kahar tidak tamat dari sekolah itu. Di Muhammadiyah, ia aktif di Hizbul Wathan (HW). Ketika sudah mengajar di Palopo, Sulawesi Selatan, Kahar memimpin Pasukan HW di sana. 

REVOLUSI KAHAR DI KAMPUNGNYA

Sekembali dari Jawa, selain pernah mengajar, Kahar Muzakkar melanjutkan usaha dagang orangtuanya, ekspor kulit kayu bakko ke negeri Jepang, yang mengakibatkan namanya masuk blacklist pemerintah Belanda.

Namun ketika Jepang berkuasa, menurut Mattulada, Kahar Muzakkar mendapat kepercayaan dari pemerintah Dai Nippon dan ditempatkan di afdeling Luwu (Palopo).”Karena caranya bekerja revolusioner, yakni mengubah pemerintahan adat feodal menjadi pemerintahan demokratis yang disukai oleh rakyat, “Kahar mendapat tentangan dari segolongan Hadat Luwu (Tomarilalang, Andi Baso Lanrang cs).” 

Tentu saja apa yang dilakukan Kahar itu gila. Di mata kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan, Kedatuan Luwu yang berpusat di Palopo dihormati secara kultural.

Kahar dijatuhkan, dan pemerintah Jepang memenjarakannya selama 1 bulan 11 hari di Palopo. Di dalam penjara, ia dihadiahi “pukulan tiga kali sehari, yaitu pagi, tengah hari, dan sore. Setelah dibebaskan, ia masih dihukum lagi oleh Hadat: harus meninggalkan Tanah Luwu paling lambat 24 jam setelah hukuman dikeluarkan.” 

Akhirnya Kahar Muzakkar meninggalkan Palopo dan menuju Makassar pada akhir tahun 1942. “Selama berada di Makassar, Kahar Muzakkar bekerja di Kantor Perdagangan Jepang Ogata Shoten kurang lebih 6 bulan lamanya.” 

Pertengahan tahun 1943, ia berangkat ke Jawa (Solo) bersama keluarganya. Selama di Jawa, pekerjaannya berdagang dan mendirikan perusahaan Usaha Muda di Solo, sampai Jepang menyerah. 

KAHAR SANG PEJUANG

Dalam literatur “Tragedi Patriot dan Pemberontak Kahar Muzakkar”, Kahar satu-satunya pengawal Soekarno dan Mohammad Hatta dengan bersenjatakan golok, ketika dikelilingi hunusan bayonet tentara Jepang usai rapat raksasa Ikada di Jakarta, 19 September 1945 dibubarkan.

Sejak saat itu, Kahar jadi pengawal “kesayangan” Bung Karno yang tergabung dalam Batalyon Kesatuan Indonesia (BKI). Dikatakan Presiden RI pertama itu, situasinya takkan melulu tenteram jika tak ada Kahar di sisinya.

Menurut Bernard Wilhelm Lapian, nasionalis dari Minahasa dan ayah dari sejarawan Adrian B. Lapian, Kahar Muzakkar turun aktif untuk menyusun kekuatan pemuda Sulawesi Utara dan mendirikan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS). Kahar terjun ke front Surabaya. Di Yogyakarta, ia bekerja sama dengan Kolonel Zulkifli Lubis.

Kendati sempat keberatan lantaran KRIS terlalu “dikuasai” golongan bekas KNIL asal Minahasa-Manado, seperti Joop F. Warouw, Alex Evert Kawilarang dan Lembong, Kahar pada bulan yang sama masih di bawah komando KRIS, ikut membebaskan 800 tahanan politik di Nusakambangan (termasuk pemuda Sulsel), Cilacap, Jawa Tengah. 800 tahanan ikut akhirnya dimasukkan ke dalam pasukannya dan diperbantukan di Markas Besar Tentara.

Kahar juga membentuk Batalyon Kemajuan Indonesia (BKI), di bawah komando Tentara Keamanan Rakyat yang dipimpin oleh Jenderal Sudirman. Menurut Cornelis van Dijk dalam Darul Islam: Sebuah Pemberontakan (1995), ide pembentukan Batalyon Kemajuan Indonesia (BKI) berasal dari kontak  Sukarno dengan Andi Mattalata,anak bangsawan Barru, Sulawesi Selatan yang ikut berjuang di Jawa. Kahar menjadi komandan di BKI, sementara Mattalata menjadi wakil komandan. Adapun Salah Lahade juga dari Barru menjadi kepala staf. 

Dalam pembentukan Brigade XVI KRIS yang terdiri dari kesatuan-kesatuan luar Pulau Jawa, Kahar hanya jadi orang nomor dua. Kahar yang kecewa, menolak pengakuan pimpinan Brigade XVI, mulai ketika dijabat Warouw sampai Lembong, olehnya Kahar melepaskan diri dari Brigade XVI.

Untuk tetap mengontrol dirinya, pemerintah memberinya tugas membentuk Komando Grup Seberang. Panglima Besar Jenderal Soedirman menugaskannya membangun komando di seberang Pulau Jawa, Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi (TRIPS) pada 24 Maret 1946. Kahar mengumpulkan para personelnya dari mantan anggota BKI berjumlah 1.200 personel.

Pasca-Perjanjian Linggarjati, TRIPS diubah menjadi Lasjkar Sulawesi dan Kahar tercatat membentuk satuan kecabangan Barisan Berani Mati (BBM) dari para pejuang Sulawesi di Madiun, Jawa Timur. Perannya terus dibutuhkan tentara revolusi yang kemudian sudah berubah nama menjadi TNI, untuk membangun satuan militer di Makassar pada periode 1946-1947.

Sayang, upayanya membentuk satuan-satuan gerilya dengan membina kader-kader muda, gagal akibat terjadinya kekacauan atas ulah aksi polisionil Kapten Raymond Westerling – “Most Wanted” pimpinan Korps Speciale Troepen, pasukan elite Belanda.

Di bawah komando Kapten Raymond Paul Pierre Westerling, yang membawa sekompi pasukan khusus Belanda Depot Speciale Troepen (DST), mengakibatkan ribuan orang sipil terbunuh. Versi Kahar Muzakkar, yang diperolehnya dari pejuang-pejuang Sulawesi Selatan, jumlah korban Westerling sekitar 40.000 orang. Kebanyakan orang-orang kampung yang dituduh tentara Belanda sebagai gerilyawan atau yang melindungi gerilyawan.Aksi Westerling itu bikin para gerilyawan pro-Republik di sana menyeberang ke Jawa untuk sementara waktu. 

PEMBERONTAKAN KAHAR YOGYAKARTA

Di mata Herman Nicolas Ventje Sumual, salah seorang pencetus  Permesta pada 1957, Kahar di masa revolusi adalah kawan seperjuangan yang baik, cerdas, dan luar biasa berani. Di sisi lain, Kahar adalah sosok yang keras kepala dan berdarah panas. “Saya teman lama dia, kenal sekali wataknya, keras seperti batu!” ujar Sumual Ventje dalam Memoar Ventje H.N. Sumual (2011). Menurut Sumual Ventje, ketika satuan bernama Resimen Hasanuddin diubah menjadi batalion, Kahar marah dan bikin darah panasnya naik. Ia bahkan menyerang markas Brigade XVI dan perintahkan orang-orangnya merampas senjata. 

Menurut Barbara Harvey, sekitar September 1948, Kahar Muzakkar memerintahkan sekompi pimpinan Masud untuk menangkap Komandan Brigade XVI, Letnan Kolonel Adolf Gustav Lembong di Markas Brigade di sekitar Sayidan, Yogyakarta. Lembong dan stafnya dibawa penculik ke Klaten, daerah perbatasan Yogya-Solo. Kapten Sumual pun bergerak membebaskan komandannya. Berkat campur tangan Presiden Sukarno, ketegangan mereda. Lembong akhirnya bebas. 

ALEX KAWILARANG

Di tahun yang sama, pada bulan Agustus 1948 Alex Vincent Kawilarang dikirim ke Sumatera untuk ikut mengadakan reorganisasi ketentaraan di sana.

Setelah penyerahan kedaulatan, pada 28 Desember 1949, Alex Kawilarang menjabat sebagai Gubernur Militer wilayah  Aceh dan Sumatra Utara.

Bahkan karir Alex Kawilarang selanjutnya menjadi panglima teritorial di dua komando daerah penting lainnya: Tentara dan Territorium VII/Indonesia Timur (sekarang Kodam XIV/Hasanuddin) pada bulan 15 April 1950 dan Tentara dan Territorium III/Siliwangi (sekarang Kodam III/Siliwangi) pada bulan 10 November 1951 hingga 1956.

Alex Kawilarang juga ditugaskan untuk menumpas pemberontakan militer Andi Azis di Sulawesi Selatan.Setelah pemberontakan tersebut berhasil ditumpas, Alex kembali ditugaskan untuk mengatasi pemberontakan RMS di Maluku.

Meski akhirnya, pada bulan Agustus 1956, Mayjen Nasution sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat menunjuk Kawilarang sebagai Atase Militer Indonesia di Amerika Serikat dengan pangkat  brigadir jenderal.

Dilansir dari laman Wikipedia https://id.wikipedia.org/wiki/Alex_Kawilarang Pada tahun 1958, Alex Kawilarang mengundurkan diri dari jabatannya sebagai atase militer di Amerika Serikat, untuk bergabung dengan pemberontakan Permesta  hingga 1961, di mana ia harus melawan pasukan Kopassus yang ia bentuk sebelumnya. Keterlibatannya dalam Permesta menghentikan karier militernya dengan TNI.

Namun dilansir dari laman resmi Kopassus http://kopassus.mil.id/tokoh Kawilarang mengajukan pengunduran diri karena tidak setuju dengan kebijaksanaan pemerintah pusat dalam menangani kasus Permesta. Sejak saat itu namanya sering dicantumkan sebagai Kepala Staf Angkatan Perang PRRI/Permesta (Sumatera/Sulawesi).

KAHAR SANG PEJUANG

Lepas dari masalah-masalahnya di Jawa, setidaknya Kahar berjasa menggerakkan perlawanan di Sulawesi Selatan khususnya melawan agresi militer Belanda. “Sejak Batalyon Kemajuan Indonesia berdiri (akhir 1945) sampai Komando Grup Seberang (awal 1950), Kahar aktif menyelenggarakan pengiriman rombongan-rombongan bersenjata ekspedisi ke Sulawesi dengan perahu-perahu liar,” terang BW Lapian. 

PEMBERONTAKAN KAHAR TERHADAP PENOLAKAN ALEX KAWILARANG

Selanjutnya, sejak penyerahan kedaulatan Republik Indonesia dari Belanda pada 27 Desember 1949, Kahar ditempatkan di Jakarta. Di sana ia membantu Wakil Kepala Staf Umum Angkatan Darat Jakarta. Kehidupan militernya di Jakarta tampaknya tidak menarik. Pada Mei tahun 1950 ia hendak mengundurkan diri, pangkatnya kala sudah itu letnan kolonel. 

“Mengingat perjuangan kita dewasa ini telah berubah sifatnya (perjuangan dengan senjata menjelma menjadi perjuangan membangun dan menyusun), dan mengingat pula kesehatan kami yang (…) akhir-akhir ini tidak mengizinkan untuk meneruskan perjuangan di lapangan ketentaraan (…) kami mohon kepada Paduka Tuan supaya kami diperkenankan meletakan jabatan sebagai Pa DPB Wakil Kepala Staf Umum Angkatan Darat dan keluar dari ketentaraan,” mohon Kahar Muzakkar dalam surat pengunduran dirinya (Koleksi ANRI: Letnan Kolonel Kahar Muzakkar kepada Kepala Staf Angkatan Darat: Surat tanggal 20 Mei tentang Permohonan Mengundurkan Diri di Dinas Ketentaraan). 

Jika mundur dari tentara, hal paling mungkin bagi Kahar adalah berdagang. Namun, pengunduran diri itu tak terjadi. 

Setelah masalah bekas gerilyawan di Sulawesi Selatan tidak jua rampung, Kahar pun dikirim ke Makassar. Bersama Letnan Kolonel Mursito, ia tiba di ibu kota Provinsi Sulawesi itu pada 22 Juni 1950. Kahar menemui gerilyawan yang kebanyakan ingin bergabung sebagai Tentara Nasional Indonesia. Kahar berusaha mengakomodir para gerilyawan yang dikenal sebagai Komando Gerilya Sulawesi Selatan tersebut. 

Baca Juga:  Isu Ada Oknum Ingin Gagalkan Paripurna DPRD Sulsel, Bakdo HMI: Kami Akan Kawal dan Dukung Hak Angket

Sebelum bergabung dengan DI/TII tahun 1952, Kahar selaku komandan dari Komando Grup Seberang (KGS) dengan pangkat Letnan Kolonel meminta Saleh Syahban untuk menghimpun para kelaskaran Sulawesi Selatan dalam Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS). Pembentukan kesatuan tersebut bertujuan untuk menghimpun semua gerilyawan yang ada di Sulawesi Selatan dalam KGSS. KGSS dibentuk pada Agustus 1949 di Maros (Poelinggomang, 2005). KGGS yang berkekuatan 10 batalion diharapkan menjadi cikal bakal Divisi Hasanuddin dengan Kahar sebagai pemimpinnya.(Gonggong, 2014)

Pada tanggal 1 Juli 1950, atas nama kaum gerilyawan Kahar Muzakkar menemui Kolonel Alexander Kawilarang (pendiri Kesko TT yang kemudian menjadi Kopassus) selaku Panglima TT VII/Wirabuana, demi menyampaikan permohonan agar 15.000 gerilyawan Sulawesi Selatan diterima menjadi bagian dari Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI). Akan tetapi permintaan tersebut ditolak oleh Panglima TT VII/Wirabuana, sehingga dengan emosi Kahar menyatakan memutuskan hubungannya dengan TNI. Kemudian pada tanggal 5 Juli 1950, Kahar Muzakkar lari kedalam hutan dan membangkang. (Mattalioe, 1994)

Akibat dari perbuatan Kahar, Panglima mengeluarkan suatu dekrit yang menyatakan pembubaran KGSS sebagai organisasi kelaskaran gerilya. Dalam dektrit yang dikenal dengan nama “ Dekrit Kawilarang “ intinya menyebutkan bahwa “ KGSS dari organisasi gerilya di luar APRIS dianggap telah bubar dan segala usaha untuk melanjutkan dan menghidupkan organisasi tersebut termasuk larangan tentara. (Gonggong, 2014).

Mendengar dekrit Kawilarang tersebut, Kahar marah dan memberi reaksi sangat keras dengan mencabut tanda pangkatnya lalu mencampakkan dihadapan panglima TT VII dengan diiringi kata – kata ini tidak ada gunanya (Harvey, 1989). Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Kahar tidak setuju dengan sikap Kawilarang untuk membubarkan KGSS. Sejak peristiwa itu Kahar dengan anggota lainya memutuskan untuk masuk ke hutan Sulawesi untuk bergerilya.

Masalah gerilya di Sulawesi Selatan pun kian semakin rumit. Banyaknya perbedaan pendapat antara pemerintah dengan para gerilyawan sehingga tidak memungkinkan untuk menempuh jalan perundingan. Hal itu memaksa Panglima TT VII Kolonel Alex Kawilarang mengeluarkan perintah gerakan dengan tindakan kekerasan untuk menumpas pembangkang CTN yang dianggap sebagai pengacau – pengacau negara pada 17 Agustus 1951.

Namun Alex Kawilarang sebagai panglima tentara Indonesia Timur ditarik dari Sulawesi Selatan.

PEMBERONTAKAN KAHAR DAN MENDIRIKAN NEGARA ISLAM

Pada tanggal 20 Januari 1952. kemudian Kahar memutuskan untuk bergabung dengan DI/TII dan memproklamasikan Sulawesi Selatan dan daerah sekitarnya menjadi bagian dari Negara Islam Indonesia pada 7 Agustus 1953 (Arsip Nasional RI Ujung Pandang, Arsip Muhammad Saleh Lahade, 1937-1973, No. Reg. 191) yang berlokasi di Buntu Susu (Baraka) yang terletak di Kabupaten Enrekang, dan sekaligus menjadi markas DI/TII di Sulawesi Selatan.

“Usman Ballo dan Hamid Ali bersikap dingin terhadap gagasan satu negara Islam,” tulis Harvey.

Komandan lain, seperti Bahar Mattalioe, tampak tertarik dengan gagasan itu. Hubungan Kahar dengan komandan-komandan yang tersisa itu tak selamanya baik. Di mata Kahar, anak buah Usman Ballo terlibat perampokan dan dikenal kejam. Ketidakakuran itu membuat Usman dan Hamid berusaha mengontak pemerintah dan ingin bergabung dengan TNI. Usman menyerah pada 1956. Sementara Mattalioe berseteru dengan Kahar pada 1959. Ia berharap sama seperti Usman dan Hamid masuk TNI.

Hingga akhirnya, Kahar Muzakkar dikabarkan terbunuh pada Februari 1965, dan Jan Willem Gerungan, salah satu orang kepercayaan Kahar yang ‘tersisa’ terus bergerilya, dan terus dikejar tentara Siliwangi.

Menurut catatan Siliwangi dari Masa ke Masa (1979), Gerungan ditangkap pada 19 Juli 1965 setelah pengikutnya yang mencari rokok untuknya ditangkap aparat terlebih dulu. Setelah itu Gerungan dieksekusi

Tulisan ini telah dimuat sebelumnya, baca selengkapnya https://smartcitymakassar.com/2019/06/07/kisah-kahar-muzakkar-dan-gerungan-yang-tersisa

SEJAK KAHAR BERGABUNG KARTOSOEWIRJO TAHUN 1952

Keberadaan gerakan Kahar Muzakkar, entah itu bernama DI/TII, NII, RPI, RPII atau apapun namanya, tidaklah membawa kedamaian bagi rakyat sipil yang buta politik. Para pemberontak yang biasa disebut sebagai gerombolan kerap melintasi ladang-ladang atau perkampungan tempat rakyat sipil hidup. Rakyat sipil itu tidak hanya berpotensi kena peluru nyasar jika meletus baku tembak antara tentara pemerintah dengan gerombolan. Masa-masa itu adalah periode yang tidak ingin diulangi lagi oleh orang-orang di daerah tersebut.

Dilansir dari https://historia.id/politik/articles/beberapa-kesaksian-tentang-kahar-muzakkar-6kRE1 pada sebuah siang di tahun 2008, Boet Philippe Manuel Romphas atau biasa disingkatnya B.Ph.M Romphas, mengenang peristiwa bersejarahnya. Dia bertemu Kahar Muzakkar dalam sebuah perundingan bersama Panglima Kodam XIV/Hasanuddin (1960–1964) M. Jusuf secara langsung di sebuah pantai Bone Pute di Kecamatan Larompong Selatan, Kabupaten Luwu, tahun 1962.

Romphas yang diikutkan dalam tim delegasi bersama Panglima Jusuf, juga menggunakan pakaian tentara. “Saya ditugaskan mengabadikan pertemuan itu melalui foto,” kata Romphas yang saat itu menjabat kepala kantor IPPHOS (Indonesia Press Phote Service) di Makassar untuk Indonesia Timur, cikal bakal ‘Antara’.

Namun, sebelum melakukan kunjungan, sebagai seorang Nasrani, Romphas belajar mengucapkan salam. Segala macam tetek bengek dan atribut mengenai profesi kewartawanannya ditutup. Namun, setelah pertemuan dan perbincangan antara Kahar dan Panglima Jusuf selesai, rombongan delegasi berjalan-jalan menyisir pantai. “Pak Jusuf, sudah ingatkan kalau jangan sampai ketahuan sebagai wartawan. Karena Kahar tidak suka wartawan,” kata Romphas.

Beberapa jam semua berjalan lancar. Namun, Romphas lupa menutup sebuah sticker kecil dibelakang badan kamera Besa II yang digunakan, tertulis IPPHOS. Kahar melihatnya. “Hey, kau dari IPPHOS,” tegur Kahar. Semua tiba-tiba hening. Mata Jusuf menatap tajam pada Romphas.

“Apa kabar Franz Mendur,” lanjut Kahar.

Suasana mereda. Menurut Romphas, rupanya Kahar semasa di Jawa bersahabat dengan beragam kalangan, termasuk Franz Mendur, kepala kantor IPPHOS di Yogyakarta. “Kahar bilang, Franz Mendur adalah teman diskusinya. Dan dia sering berkunjung ke kantor IPPHOS di Yogya masa itu,” katanya.

“Jika kemudian, beberapa perkara macam pembunuhan terjadi masa pemberontakan. Mungkin itu ulah bawahannya. Kahar mungkin tidak menginginkannya,” kata Romphas.

Pada 1 Januari 1955, Kahar menjadi Wakil Pertama Menteri Pertahanan NII yang meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia. Beberapa aksi dilakukan termasuk hilangkan praktik-praktik tradisional di Sulawesi Selatan atau pula menghapuskan penggunaan gelar-gelar bangsawan seperti Andi, Daeng, Puang, Bau, Opu menjadi sesuatu yang dilarang. Sebagai gantinya, sapaan yang diperbolehkan adalah menggunakan kata Bung.

“Maka tak heran, dalam Piagam Makkalua dinyatakan perang terhadap aristokrat yang tidak mau membuang gelarnya, demikian pula terhadap kelompok-kelompok mistik yang fanatik,” tulis Van Dijk dalam Darul Islam, Sebuah Pemberontakan.

Isi piagam itu benar-benar dilaksanakan Kahar. Di wilayah Pangkep dilaksanakan Operasi  Toba’ (Tobat). Pasukan DI/TII menggerebek dan memburu semua waria termasuk bissu. Para waria dan bissu yang tertangkap akan diberikan pakaian maskulin dan cangkul untuk kemudian dipaksakan mengerjakan pekerjaan yang dianggap sebagai kodrat laki-laki seperti mencangkul dan menggarap sawah.

Sementara itu, diujung timur Sulawesi Selatan, Kabupaten Luwu Timur, Thomas Lasampa seorang tokoh adat Padoe, mengenang peristiwa tahun 1952 saat upacara kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Timampu (sekarang Kecamatan Towuti). Saat itu, seorang pasukan DI/TII membacakan pidato dengan berapi-api. Pengumumannya membuat penganut agama selain Islam merinding.

“Kalau ada yang memelihara babi diberi kesempatan seminggu untuk pulang dan membantai babinya. Setelah itu semua harus Islam,” kata pengumuman yang ditirukan Lasampa.

Semua orang ketakutan. Akhirnya, untuk bertahan hidup, keluarga Lasampa, termasuk dirinya belajar membaca Alquran. Dia bahkan menghafal beberapa ayat Alquran dalam surah Al-Baqarah berserta terjemahannya. “Kalau tidak seperti itu, pasti kita sudah dibunuh,” katanya.

Pasukan DI/TII tak hanya menyerang kepercayaan lain, melainkan menyerang pula kelompok ideologi yang berbeda. Saya bertemu dengan Andi Nyiwi di Palopo, koordinator BAJAK (Barisan Anti Jawa Komunis). Bagi Nyiwi, komunis tak boleh hidup di Indonesia karena itu adalah paham tanpa agama. Apa saja yang dilakukan BAJAK. Tugasnya sederhana, kata Nyiwi, hanya menandai dan mengawasi para pendatang yang berhaluan komunis. Kalau ada yang terdeteksi, maka akan langsung dibunuh. “Jadi kalau ada yang sudah dicap komunis langsung dibunuh. Setelah itu melapor ke Kahar,” katanya.

Ketika ditanya apa pendapat Kahar tentang hal tersebut, “dia hanya bilang ‘kenapa bunuh orang?’ saya jawab komunis. Maka bung Kahar akan diam dan bilang tidak apa-apa,” kata Nyiwi.

“Berapa banyak orang yang telah dibunuh BAJAK?”

“Wah saya tidak pernah membunuh. Tapi kalau anggota saya banyak. Banyak sekali, saya nda bisa hitung,” kata Nyiwi.

“Bapak menyesal?”

“Hmmmm… menyesal. Saya selalu berdoa dan bertobat untuk itu,” kata Nyiwi.

Sejak pergolakan Kahar Muzakkar antara tahun 1910-1952, lalu berlanjut mengusung bendera Islam tahun 1952-1965, tak terhitung ada berapa banyak nyawa yang melayang. Dan bahkan ada ribuan orang menjadi yatim, terpisah dengan keluarga. Baik dari masyarakat yang memeluk Islam, Nasrani, ataupun agama leluhur.

Mahade Tosalili (almarhum) seorang warga Sorowako, mengatakan pada saya tahun 2013, semoga peristiwa itu tak dialami generasi selanjutnya. “Sangat berat. Berat sekali. Hingga makanan semua serba kekurangan. Pakaian pun dibatasi. Beli gula pasir pun harus sembunyi-sembunyi. Tak boleh pakai arloji. Tidak boleh pakai jas,” katanya. “Itu benar-benar tersiksa orang.”

KAHAR, ANTARA TELAH MATI DAN TIDAK

Meski sudah dinyatakan tertembak pada Februari 1965, ada sebagian orang di Sulawesi Selatan masih percaya bahwa Kahar Muzakkar belum mati. Makamnya tak pernah ditemukan, atau pemerintah Indonesia sengaja menyembunyikan kuburannya demi menghindari pemujaan. 

Menurut catatan Kodam Siliwangi  dalam Siliwangi dari Masa ke Masa  (1979), Kahar tertembak pada 2 Februari 1965. Usai kawasan di sekitar Sungai Lasalo dikepung dan disisir  oleh pasukan Siliwangi, sepeleton prajurit dari Siliwangi di bawah komando Pembantu Letnan Satu Umar Sumarsana ditugaskan mencari posisi Kahar Muzakkar pada 27 Januari 1965. Usaha itu terlihat pada 2 Februari 1965.

“Dari seberang Sungai Lasalo, mereka melihat ada orang yang mandi dan membawa karaben. Peleton Umar kemudian berkesimpulan, tak jauh dari situ, terdapat perkubuan musuh (gerombolan). Tiba-tiba pada pukul 16.30 (2 Februari 1965) terdengarlah sayup-sayup lagu Terkenang Masa Lampau dari sebuah radio, yang dipancarkan dari radio Malaysia Kuala Lumpur,” menurut buku tersebut. 

Menurut pengikut Kahar, lagu tersebut adalah lagu kesukaan sang panglima.  Pasukan Umar pernah diberitahu, “satu-satunya radio di hutan itu adalah milik Kahar Muzakkar.” Hal ini ditegaskan lewat informasi tawanan bernama Ali Basya. 

Penyusupan ke sekitar pondok  gerombolan dilakukan oleh peleton dari Kompi D. Batalyon 330/Kujang Siliwangi yang dipimpin Umar. Sebelum penyergapan, semua jalur pelarian ditutup di areal posisi persembunyian Kahar. Dini hari 3 Februari 1965, Pasukan Umar mulai bergerak.

Menurut catatan Siliwangi dari Masa ke Masa, “Ketika tembakan-tembakan dilepaskan, dari gubuk ke-5 (dari utara) melompatlah Kahar Muzakkar, yang dengan jelas dapat dikenal oleh Kopral Dua Ili Sadeli (…) Kahar Muzakkar sedang menggenggam granat tangan. Kopral Dua Ili Sadeli pun tak mau mengambil risiko … Dengan jitu, ia melepaskan tembakan terarah ke dada Kahar yang kemudian tewas seketika.”

Kabar kematian Kahar sampai ke Jakarta agak telat karena lokasi baku tembak sulit dijangkau. Jenazahnya kemudian dibawa ke Makassar. 

Panglima militer di Makassar, Kolonel M. Jusuf, memberi kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk menyaksikan jenazah itu, dan memastikan sendiri bahwa yang mati benar-benar adalah Kahar Muzakkar,” tulis Atmadji Sumarkidjo dalam  Jenderal M Jusuf: Panglima Para Prajurit (2006).

Meski begitu, isu Kahar masih hidup tetap ada. Toh, masyarakat tak melihat ada kuburan Kahar Muzakkar sampai sekarang. 

Setelah satu hari dibaringkan di rumah sakit, kemudian jenazah dikuburkan, hanya sedikit pejabat militer yang mengetahuinya. Baik M. Jusuf dan perwira lain seperti Solichin GP juga enggan memberi tahu letak pasti kuburan Kahar. 

Selain pengikut Kahar banyak yang lari Ke Malaysia pasca 1965, menurut beberapa kesaksian yang meyakini Kahar Muzakkar masih hidup, mayoritas mengatakan Kahar juga ikut lari ke Malaysia. (Aan/IP)

‘PostBanner’/

Comment