by

Kisah Kahar Muzakkar dan Gerungan yang Tersisa

Ket. Foto: Lukisan Kahar Muzakkar/Ist

Smartcitymakassar.com – Makassar. Negara Islam Indonesai (NII), Tentara Islam Indonesia (TII) atau biasa disebut dengan Darul Islam (DI) adalah sebuah gerakan politik yang didirikan pada tanggal 7 Agustus 1949 (12 Syawal 1368). (Van Dijk, 1983) oleh politisi muslim yang radikal yaitu Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawilgar, Kawedaan Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat. Adapun Kartosoewirjo merupakan sekertaris dari partai MIAI yang dirubah menjadi Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) pada Oktober 1947. (Ruslan, 2008).

Gerakan ini bertujuan menjadikan Republik Indonesia sebagai sebuah negara yang menerapkan dasar Agama Islam sebagai dasar negara. Demi menopang NII yang dibentuknya S. M. Kartosoewirjo membentuk sebuah gerakan yang disebut Darul Islam (DI) dan para tentaranya diberi julukan Tentara Islam Indonesia (TII) yang dibentuk pada saat provinsi Jawa Barat ditinggalkan oleh Pasukan Siliwangi yang sedang behijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta dalam rangka melaksanakan Perundingan Renville. ( Gonggong, 2014)

Dalam perkembangannya, Negara Islam Indonesia ini menyebar sampai ke beberapa wilayah yang berada di Negara Indonesia. Gerakan ini telah menghasilkan pecahan diberbagai wilayah di Nusantara seperti pemberontakan Amir Patah (Brebes, Tegal) dan Kyai Somolagu (Kebumen) di Jawa Tengah (1950-1959), Pemberontakan Daud Beureueh di Aceh (1953-1962), Pemberontakan Ibnu Hajar di Kalimantan Selatan (1954-1963) dan Pemberontakan Abdul Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan ( 1950-1965). (Gonggong, 2014).

Pemberontakan DI/TII yang dipimpin oleh Abdul Kahar Muzakkar. Pemberontakan yang dilatarbelakangi dengan kekecewaan terhadap kebijakan pemerintahan pusat.

Kekecewaan tersebut membuat Kahar melakukan pemberontakan yang berlangsung kurang lebih selama 15 tahun.

Cerita Sebelumnya

Sebelum bergabung dengan DI/TII, Kahar selaku komandan dari Komando Grup Seberang (KGS) dengan pangkat Letnan Kolonel meminta Saleh Syahban untuk menghimpun para kelaskaran Sulawesi Selatan dalam Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS). Pembentukan kesatuan tersebut bertujuan untuk menghimpun semua gerilyawan yang ada di Sulawesi Selatan dalam KGSS. KGSS dibentuk pada Agustus 1949 di Maros (Poelinggomang, 2005). KGGS yang berkekuatan 10 batalion diharapkan menjadi cikal bakal Divisi Hasanuddin dengan Kahar sebagai pemimpinnya.(Gonggong, 2014)

Pada tanggal 1 Juli 1950, atas nama kaum gerilyawan Kahar Muzakkar menemui Kolonel Kawilarang selaku Panglima TT VII/Wirabuana demi menyampaikan permohonan agar 15.000 gerilyawan Sulawesi Selatan diterimamenjadi bagian dari Angkaan Perang Republik Indonesia (APRI). Akan tetapi permintaan tersebut ditolak oleh Panglima TT VII/Wirabuana sehingga dengan emosi Kahar menyatakan memutuskan hubungannya dengan TNI. Kemudian pada tanggal 5 Juli, Kahar Muzakkar lari kedalam hutan dan membangkang. (Mattalioe, 1994)

Akibat dari perbuatan Kahar, Panglima mengeluarkan suatu dekrit yang menyatakan pembubaran KGSS sebagai organisasi kelaskaran gerilya. Dalam dektrit yang dikenal dengan nama “ Dekrit Kawilarang “ intinya menyebutkan bahwa “ KGSS dari

organisasi gerilya di luar APRIS dianggap telah bubar dan segala usaha untuk melanjutkan dan menghidupkan organisasi tersebut termasuk larangan tentara. (Gonggong, 2014). Mendengar dekrit tersebut Kahar marah dan memberi reaksi sangat keras dengan mencabut tanda pangkatnya lalu mencampakkan dihadapan panglima TT VII dengan diiringi kata – kata ini tidak ada gunanya (Harvey, 1989). Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Kahar tidak setuju dengan sikap Kawilarang untuk membubarkan KGSS. Sejak peristiwa itu Kahar dengan anggota lainya memutuskan untuk masuk ke hutan Sulawesi untuk bergerilya. Andi Sose selaku Panglima KGGS Massenrempulu menculik Kahar dan dibawa ke Baraka yang merupakan wilayah Enrekang. Baraka merupakan wilayah kewedaan Enrekang.

Di Baraka Abdul Kahar Muzakkar, mendapatkan perlindungan dari Andi Sose dikarenakan daerah tersebut merupakan daerah operasinya. Dalam kenyataan sesungguhnya, Kahar di culik KGSS, atas prakarsa Andi Sose, walaupun mungkin sekali Andi Sose bertindak demikian berdasarkan perintah atau setidak-tidaknya dengan persetujuan Kahar diam-diam. (Van Dijk, 1983)

Masalah gerilya di Sulawesi Selatan pun kian semakin rumit. Banyaknya perbedaan pendapat antara pemerintah dengan para gerilyawan sehingga tidak memungkinkan untuk menempuh jalan perundingan. Hal itu memaksa Panglima TT VII Kolonel Kawilarang mengeluarkan perintah gerakan dengan tindakan kekerasan untuk menumpas pembangkang CTN yang dianggap sebagai pengacau – pengacau negara pada 17 Agustus 1951.

Alex Kawilarang sebagai panglima tentara Indonesia Timur ditarik dari Sulawesi Selatan. Apa yang dimaui oleh Kahar dan para mantan gerilyawan mendapat isyarat bagus pada 13 November 1950 ketika Perdana Menteri Mohammad Natsir, pemimpin Masyumi, berkenan memenuhi tuntutan mereka. Mereka diterima masuk TNI. Sebuah mekanisme diatur: akan ada peralihan dan pelatihan untuk dijadikan batalion-batalion infanteri, yang membentuk Brigade Hasanuddin dan para pemimpin gerilyawan itu diangkat sebagai komandan resmi. Kabar ini diterima oleh kaum gerilyawan.

Baca Juga:  Sidang Sengketa Pilpres Selesai, MK Dijadwalkan Bakal Putuskan di 28 Juni Mendatang

Pelan-pelan mereka turun gunung. Menurut Arsip Sekretaris Negara Kabinet Perdana Menteri RI jilid II No. 716 (Surat-surat Mengenai Seleksi Tenaga Bekas Pejuang Yang Ingin Masuk Angkatan Perang, November 1951), prasyarat bagi mereka yang turun gunung itu adalah mereka harus memperlihatkan senjata dan harus memakai janur (daun kelapa) sebagai tanda damai. Mereka dimasukkan ke dalam Corps Tjadangan Nasional (CTN) sebagai persiapan Brigade Hasanuddin. 

Kahar mempunyai sekurang – kurangnya 7.000 orang dibawah pimpinannya dalam KGSS. Brigade ini mempunyai lima Batalyon yang berlokasi di Pinrang, Luwu, Enrekang, dan Bonthain.Batalyon I: Bau Massepe, Parepare, Komandan Andi Selle.

Batalyon II : Batuputih, Palopo, Komandan Andi Tenriajeng.Batalyon III : Arif Rate, Bonthain, Komandan Asis Taba.Batalyon IV : Wolter Monginsidi, Enrekang, Komandan Andi Sose. Batalyon V : 40. 000. Rappang, Komandan Syamsul Bahri.(Gonggong, 2014).

Pasukan Kahar yang turun gunung itu disambut ribuan orang di sekitar Maros. “Dia bersama prajurit-prajuritnya memasuki kota pukul tujuh malam hari,” tulis Cornelis van Dijk dalam Darul Islam: sebuah pemberontakan (1995). 

Pada 24 Maret 1951, mereka dilantik di Makassar oleh pejabat Panglima Indonesia Timur, Letnan Kolonel Kosasih. Selesai pelantikan, pasukan-pasukan itu kembali ke Baraka. Namun, menurut Harvey, “Kedua belah pihak tetap menaruh curiga satu sama lain.” 

Staf-staf Kosasih di Makassar curiga bahwa Kahar berdamai untuk memperoleh lebih banyak senjata dan perlengkapan lain agar bertambah kuat. Petinggi TNI berkeinginan melantik satuan-satuan dari calon Brigade Hasanuddin satu per satu, bukan sekaligus seperti kemauan Kahar. Pihak TNI, bahkan tanpa melalui Kahar, mendekati komandan-komandan batalion Corps Tjadangan Nasional. Tujuannya, tulis Harvey, “Untuk mengetahui apa ada orang di antaranya yang bersedia dilantik tersendiri.” Kubu Kosasih sukses membujuk Andi Selle, Komandan Batalyon Bau Massepe di Pinrang (kini sebuah kabupaten yang berbatasan dengan Polawali Mandar). Pasukan Selle berangsur masuk TNI pada Juli-Agustus 1950 dan menjadi Batalyon 719. Berikutnya, pada 4 Maret 1952, Batalyon Wolter Monginsidi yang dipimpin Andi Sose ikut TNI dan menjadi Batalyon 720. sebulan berikutnya, Batalyon Arif Rate yang dipimpin Azis Taba menjadi Batalyon 722. Komandan-komandan batalion itu diberi pangkat kapten.

Namun, tiga kompi dari batalion lain, yang dipimpin Usman Balo, masih setia kepada Kahar dan kemudian bergabung dengan Hamid Ali.

Kahar Bergabung DI/TII

Setelah mendapat surat dari Kartosuwiryo melalui Bahar Mattalui, pada Agustus 1951 Kahar menerima tawaran Kartosuwirjo untuk bergabung dengan NII pada tanggal 20 Januari 1952. kemudian Kahar memutuskan untuk bergabung dengan DI/TII dan memproklamasikan Sulawesi Selatan dan daerah sekitarnya menjadi bagian dari Negara Islam Indonesia pada 7 Agustus 1953 (Arsip Nasional RI Ujung Pandang, Arsip Muhammad Saleh Lahade, 1937-1973, No. Reg. 191) yang berlokasi di Buntu Susu (Baraka) yang terletak di Kabupaten Enrekang, dan sekaligus menjadi markas DI/TII di Sulawesi Selatan.

“Usman Ballo dan Hamid Ali bersikap dingin terhadap gagasan satu negara Islam,” tulis Harvey. 

Komandan lain, seperti Bahar Mattalioe, tampak tertarik dengan gagasan itu. Hubungan Kahar dengan komandan-komandan yang tersisa itu tak selamanya baik. Di mata Kahar, anak buah Usman Ballo terlibat perampokan dan dikenal kejam. Ketidakakuran itu membuat Usman dan Hamid berusaha mengontak pemerintah dan ingin bergabung dengan TNI. Usman menyerah pada 1956. Sementara Mattalioe berseteru dengan Kahar pada 1959. Ia berharap sama seperti Usman dan Hamid masuk TNI.

Kahar Tetap Bertahan

Kehilangan para pemimpin gerilyawan, yang punya kekuatan setara batalion, bikin Kahar cari orang baru untuk jadi komandan. Pada 1959, saat Bahar Mattalioe turun gunung, Kahar punya sekutu dari utara. Ia adalah Jan Willem Gerungan alias Dee Gerungan, seorang pelarian Permesta. Gerungan pernah belajar di Sekolah Perang di Belanda. Setelah pasukan Permesta melemah karena digempur TNI pada 1958, Gerungan bersama 200 pengikutnya melarikan diri ke Sulawesi Selatan.

Hingga akhirnya, Gerungan jadi orang kepercayaan Kahar dan menjabat  Menteri Pertahanan. Setelah Kahar dikabarkan terbunuh pada Februari 1965, Gerungan terus bergerilya. Tentara terus mengejarnya. 

Menurut catatan Siliwangi dari Masa ke Masa (1979), Gerungan ditangkap pada 19 Juli 1965 setelah pengikutnya yang mencari rokok untuknya ditangkap aparat terlebih dulu. Setelah itu Gerungan dieksekusi. (Aan/IP)

‘PostBanner’/

Comment