by

Kisah Zaman Prasejarah hingga Zaman Modern di Sulsel

Ket. Foto: Situs Prasejarah Leang-leang Maros Sulsel/Iat

Smartcitymakassar.com – Makassar. Berbicara tentang sejarah, ada rangkaian urutan waktu atau ‘sejarah menurut waktu”, yang kemudian dikenal sebagai berikut:

ZAMAN PRASEJARAH/PRAAKSARA –

‘FooterBanner’


Prasejarah (sebelum sejarah) manusia adalah masa di mana perilaku dan anatomi manusia pertama kali muncul, sampai adanya catatan sejarah yang kemudian diikuti dengan penemuan  aksara.  Zaman prasejarah di Indonesia sendiri diperkirakan berakhir pada masa berdirinya Kerajaan Kutai, sekitar abad ke-5. Dibuktikan dengan adanya  prasasti yang berbentuk yupa yang ditemukan di tepi Sungai Mahakam,  Kalimantan Timur baru memasuki era sejarah.

ZAMAN KUNO (Zaman Perunggu, Zaman Besi, dan Era klasik) –

Sejarah kuno adalah himpunan peristiwa-peristiwa masa lampau mulai dari permulaan pencatatan sejarah umat manusia sampai dengan  Permulaan Zaman Pertengahan atau Zaman Pascaklasik. Sejarah tertulis meliputi kurun waktu sekitar 5.000 tahun, bermula dengan Aksara Paku Sumeria, tata cara tulis-menulis koheren tertua yang ditemukan dari kurun waktu Protomelek-Aksara sekitar abad ke-30 SM. Istilah Zaman Klasik seringkali digunakan sebagai sebutan bagi kurun waktu dalam sejarah Dunia Lama mulai dari permulaan pencatatan sejarah Yunani pada 776 SM (Olimpiade  Pertama), kira-kira bersamaan waktu dengan pendirian kota Roma pada 753 SM, permulaan sejarah Romawi Kuno, dan permulaan Zaman Arkais dalam sejarah Yunani Kuno. Meskipun batas akhir kurun waktu sejarah kuno masih diperdebatkan, sebagian pakar Barat  menggunakan Kejatuhan Kekaisaran Romawi Barat pada 476 M (paling banyak digunakan)

ERA PASCAKLASIK (Abad Pertengahan)-

Abad Pertengahan dalam sejarah Eropaberlangsung dari abad ke-5 sampai abad ke-15 Masehi. Abad Pertengahan bermula sejak runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat dan masih berlanjut manakala Eropa mulai memasuki Abad Pembaharuan  dan Abad Penjelajahan. SejarahDunia Barat secara tradisional dibagi menjadi tiga kurun waktu, yakni Abad Kuno, Abad Pertengahan, dan Zaman Modern. Dengan kata lain, Abad Pertengahan adalah kurun waktu peralihan dari Abad Kuno ke Zaman Modern. Abad Pertengahan masih terbagi lagi menjadi tiga kurun waktu, yakni Awal Abad Pertengahan, Puncak Abad Pertengahan, dan Akhir Abad Pertengahan.

ZAMAN MODERN –

Zaman modern  atau zaman kiwari  biasanya merujuk pada tahun-tahun setelah 1500. Tahun tersebut ditandai dengan runtuhnya  Kekaisaran Romawi Timur, penemuan  Amerika oleh  Christopher Columbus, dimulainya  Zeitgeist dan reformasi gereja  oleh Martin Luther. Masa modern ditandai dengan perkembangan pesat di bidang ilmu pengetahuan, politik, dan teknologi. Dari akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, seni modern, politik, iptek, dan budaya tak hanya mendominasi  Eropa Barat dan Amerika Utara, namun juga hampir setiap jengkal daerah di dunia. Termasuk berbagai macam pemikiran yang pro maupun yang kontra terhadap dunia Barat.

Sejarah di Sulawesi Selatan

TENTANG zaman prasejarah di Sulsel tak terlepas dari penemuan di Sungai Wallanae dan penemuan tapak tapak manusia di Goa karst Orang leang Kabupaten Maros.

PADA sekitar 34 juta tahun lalu, terjadi pengangkatan daratan dan membentuk beberapa delta sungai dan menjadikan Banggai menyatu dengan pulau Sulawesi. Kondisi inilah yang diperkirakan, menjadi titik awal kedatangan fauna karena perairan dangkal Selat Makassar, sebagai jembatan darat ke Sulawesi dari Paparan Sunda. Mamalia besar seperti Babyrousa (Babi Rusa) diperkirakan telah mendiami Sulawesi bagian tengah bersama nenek moyang Tarsisus. Hingga masa Miosen akhir dan awal Pliosen antara 5 hingga 4 juta tahun lalu, Sulawesi akhirnya terbentuk menyerupai bentuknya saat ini.

Sementara itu, sungai Wallanae masih tertutup air laut dalam. Lalu pada 700.000 tahun lalu, terjadi penurunan muka laut, dan mengubah lingkungan Lembah Wallanae menjadi daratan. Dan membentuk cekungan danau Tempe. Pada periode inilah dianggap sebagai migrasi gelombang kedua fauna Asia atau Paparan Sunda memasuki Sulawesi. Adapun Sungai Wallanae berada di Kabupaten Soppeng dan Bone, yang berhulu di pegunungan Lompobattang-Bawakaraeng dan bermuara di Teluk Bone.

Arkeolog Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala (BP3) Sulawesi Selatan, Rustan dalam 100 Tahun Purbakala Indonesia, menjelaskan dua alternatif migrasi fauna ke Sulawesi. Pertama dari Paparan Sunda ke Laut Kecil, Pasalima, Kalu-kalukuang, Doang-Doangan, dan kepulauan Spermonde. Sementara untuk jalur kedua, dari Madura ke Kangean, Tengah, Sabalana, dan Tanakeke. “Beberapa peneliti sepakat, bahwa Gajah masa lalu itu dapat berenang hingga puluhan kilometer,” kata Rustan.

Lebih lanjut, menurut Rustan, informasi mengenai kehadiran manusia sebagai bagian dari fauna di Sulawesi pada masa ini, masih sangat minim. Temuan-temuan artefak batu yang di teras tertua Wallanae belum menunjukkan penemuan yang insitu karena bisa saja artefak batu itu dibuat oleh manusia lebih belakangan ketika teras-teras tersebut terbentuk yang diperkirakan berumur Pliosen akhir-Pleistosen awal. Artefak batu masif di Cabbenge (kawasan Lembah Wallanae) yang dikenal dengan Industri Cabbenge sejajar dengan Industri Pacitan di Jawa yang setara dengan usia 35.000 hingga 12.000 tahun lalu.

“Jadi bisa saja tradisi evolusi alat batu ini sejajar dalam waktu, ataukah representasi dari adaptasi terhadap lingkungan yang berbeda,” kata Rustan

Melimpahnya temuan artefak, baik fosil fauna dan alat-alat batu di Lembah Wallanae menyimpan pertanyaan dimanakah manusia pembuat alat batu itu? Apakah rangka manusia telah ditemukan? Rupanya, sejak puluhan tahun lalu hingga sekarang, di pesisir Wallanae belum pernah ditemukan manusia. Bahkan Sulawesi Selatan pada umumnya. Temuan perkakas batu yang diperkirakan berusia 118 ribu tahun lalu, diasumsikan sezaman dengan hominin (Homo florensiensis) di Flores pada 200 ribu hingga 700 ribu tahun yang lalu.

BACA JUGA:  Begini Kepedulian AMPI Manggala Memutus Mata Rantai Covid 19 di Makassar

“Tapi ingat, usia 118.000 tahun itu masih muda. Tidak begitu tua,” kata Iwan Sumantri, arkeolog-cum-antropolog Universitas Hasanuddin Makassar.

Menurut Iwan, benda kebudayaan manusia harus dilihat dari persepektif zaman. Teknologi masa penggunaan benda kebudayaan, pada satu masa berjalan lambat dibanding migrasi manusianya. Namun, pada tahap tertentu benda kebudayaan itu, dapat dengan cepat melampui migrasi manusia itu sendiri. Sebagai perbandingan Homo erectusyang hidup sejak 1,5 juta tahun lalu dan Homo sapiens awal juga menggunakan peralatan batu sederhana.

“Jadi untuk mengasosiasikan perkakas batu itu dengan manusia tertentu, itu agak sulit dan harusnya menemukan manusia pembuatnya,” kata Iwan.

Sejak 1940-an hingga tahun 2009 beberapa temuan membuat ilmu pengetahuan tercengang di Sungai Wallanae. Fosil-fosil fauna vertebrata ini ditemukan pertama kali tahun 1947 oleh Hendrik Robert van Heekeren, arkeolog Belanda, di kampung Beru jalan poros Cabenge-Pampanua Kabupaten Soppeng. Temuan ini, terus berkembang yang akhirnya menyibak ribuan fosil vertebrata di aliran sungai itu.

Pada 1997, Gert van Den Berg, seorang peneliti dari Universitas Wolongong Australia, membagi tiga babakan migrasi fauna di Wallanae. Dari mulai masa pleistosen awal pada 2,5 juta tahun lalu, hingga masa holosen pada 10.000 tahun lalu.

Dua tahun kemudian (1999), Gert van Den Berg bersama Pusat Studi Geologi Indonesia, menyibak kembali temuannya mengenai perkakas batu di situs Talepu, Kabupaten Soppeng, pesisir Wallanae. Hasilnya pada Januari 2016, melalui serangkaian uji material menggunakan Uranium Series usia perkakas itu 118 ribu tahun lalu.

Sebelum tahun 2014, tidak ada yang tahu pasti sejak kapan lukisan-lukisan cadas menghiasi goa-goa di Kabupaten Maros Sulsel. Sejumlah ahli pun memperkirakan usianya tak lebih dari 10.000 tahun. Namun, hasil penelitian yang dipublikasikan di Nature, jurnal sains internasional ternama, pada 9 Oktober 2014, mengubahnya. Penelitian itu merupakan kerja sama sejumlah ahli dari Balai Arkeologi Makassar, Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulsel, Pusat Arkeologi Nasional, University of Wollongong Australia, Griffith University Australia, dan Australian National University. Hasilnya mengejutkan jagat arkeologi dunia dan menyedot perhatian media-media internasional. Hasil penelitian mengungkapkan, salah satu stensil tangan di Leang Timpuseng dipastikan berusia setidaknya 39.900 tahun. Leang Timpuseng berlokasi di Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Bantimurung, sekitar 3 kilometer dari Taman Prasejarah Leang-leang.

Selanjurnya, sebelum zaman modern (setelah 1500 M), OXIS memuat sebuah artikel yang membahas sejarah Orang Bugis, Sulawesi Selatan, sejak 1200 sampai 1600. Khususnya mengarahkan perhatian pada Kerajaan Cina yang nyaris lenyap dari catatan sejarah, dan hubungannya dengan kerajaan Luwu, dimana situs istananya didirikan sekitar tahun 1300 di MALANGKE, timur laut Palopo, dan ditinggalkan pada awal abad ke 17. 

Berdasarkan bukti yang disajikan dalam artikel OXIS, yakin bahwa Cina dan Luwu awalnya diperintah oleh satu kelompok garis keturunan yang kelak terpilah menjadi dua kerajaan. Setidaknya sampai pertengahan abad ke 15 kita bisa menganggap bahwa Cina dan Luwu adalah dua elemen yang menjadi bagian dari satu kompleks politik. Kedua kerajaan ini mengklaim berasal dari satu sosok, Simpurusia, sebagai permulaan bagi keluarga istana mereka. Cina dan Luwu dihubungkan oleh leluhur istana yang sama dan hubungan ini dijaga lewat perkawinan setidaknya sampai abad ke 15. Kedekatan hubungan historis Cina dan Luwu tampak dalam cerita La Galigo lewat perkawinan Sawerigading, seorang pangeran dari Luwu, dengan sepupunya Wé Cudai, puteri dari Cina.

Permukiman Tempe, Wage, Tampangeng, dan Sengkang, yang dirujuk dalam Kronik Wajo sebagai negeri leluhur Luwu, muncul di SLC (Silsilah Lembah Cenrana) sebagai pembentuk jantung kekuasaan Cina.

Olehnya, menurut OXIS, sekarang sepertinya sudah memungkinkan untuk membangun kesepakatan di kalangan peneliti sejarah mengenai kronologi masa awal Sulawesi Selatan. Kita tidak perlu lagi menciptakan sebuah ‘Masa Galigo’ dalam periode antara 1000-1300. Tak ada bukti arkeologis bagi keberadaan kerajaan atau perkauman kompleks sebelum abad ke 13, juga tak ada bukti mengenai keruntuhan politis menyeluruh atau ‘kerusuhan multidimensi’ pada sekitar abad ke 14 yang diutarakan Pelras 1996: 107.

HINGGA akhirnya, Islam masuk di Kerajaan kerajaan Sulsel sekitar Tahun 1600-an. (IP dari berbagai sumber)

Advertisements
‘PostBanner’

Comment