by

Sejarah Syiar Islam di Makassar dan Sulsel

Ket. Foto: Benteng Somba Opu Tahun 1724 (Sumber: kitlv.nl)

Smartcitymakassar.com – Makassar. Dalam pelayaran dan perdagangan di Perairan Sulawesi secara tidak langsung maupun langsung berpengaruh pula pada terjadinya islamisasi di wilayah Kerajaan Gowa Tallo. Kedatangan orang Melayu ke Pelabuhan Makassar, seiring dengan jatuhnya Kerajaan Malaka pada 1511 ke Portugis yang kemudian melakukan monopoli perdagangan di Pelabuhan Malaka. Hal ini mengakibatkan para pedagang meninggalkan Malaka dan migrasi ke tempat lain di wilayah nusantara.

Di Sulawesi Selatan kehadiran orang Melayu tersebut memberikan pengaruh pada perkembangan Kerajaan Gowa Tallo. Orang-Orang Melayu berperan penting dalam pembangunan ekonomi, politik dan keagamaan. Pelayaran-pelayaran niaga tumbuh menghubungkan Sulawesi Selatan dengan berbagai wilayah Nusantara lainnya (Sulistianto, 2017). Kerajaan Gowa dan Tallo yang semula merupakan negara agraris, selanjutnya berkembang menjadi negara maritim, salah satunya ditandai dengan diangkatnya seorang Melayu sebagai pejabat Syahbandar. Selain itu, ibukota Kerajaan Gowa yang semula berada di Kalegowa yang merupakan daerah pedalaman, kemudian dipindahkan ke Somba Opu yang merupakan daerah pesisir.

Selain orang Melayu dari Sumatera, juga ada saudagar dari Jawa yang berperan penting dalam syiar Islam di Makassar. Hal ini ditulis dalam artikelnya, Bambang Sulistyo (2017) yang menyebutkan bahwa di sekitar muara Sungai Jeneberang, terdapat koloni-koloni pedagang Muslim dari Gresik sehingga sungai ini disebut dengan Sungai Garrasik. Di sebelah utara sungai Garrasik ini terdapat Benteng Garrasik yang merupakan salah satu bentang dari 14 benteng Kerajaan Gowa Tallo. Lebih lanjut, Sulistyo menyebutkan bahwa Gresik menurut intonasi ucapan Bugis dan Makassar menjadi Garrasik. Adapun Gresik merupakan salah satu daerah di Jawa Timur yang menjadi pusat syiar Islam sejak jaman Majapahit, sekaligus tempat bermukimnya Maulana Malik Ibrahim, seorang sayid dan saudagar yang dikenal dengan Sunan Gresik.

Sebagai Sayid, ia adalah keturunan Nabi Muhammad.Dalam paper yang sama, Sulistyo menyebutkan bahwa selain Garrasik ada toponimi (pengetahuan tentang asal usul nama tempat) lain yang terkait dengan bukti adanya Koloni Jawa di Sulawesi Selatan, yaitu Sorobaya. Daerah Sorobaya terletak lebih dekat dengan Takalar, dan Bantaeng. Sorobaya sudah tentu yang dimaksud adalah Surabaya yang kini menjadi ibukota Provinsi Jawa Timur, yang pada masa lalu Surabaya merupakan salah satu pelabuhan ramai di Pulau Jawa. Di Surabaya inilah tinggal murid yang berdarah bangsawan yang unggul dari Majapahit yakni Raden Rahmat yang juga dikenal dengan Sunan Ampel. Kharisma Sunan Ampel sangat besar tidak hanya atas kaum muslim Jawa tetapi juga Cina. Sunan Ampel mengadopsi arsitektur Cina untuk membangun mesjid. Dalam pandangan kalangan kaum Muslim Cina, Sunan Ampel adalah keturunan Cina. Gresik dan Surabaya yang terletak berdampingan dan merupakan bandar pelabuhan, pada masa itu menjadi pusat syiar Islam di Nusantara (Sulistyo, 2017).

Toponimi lain terkait dengan bukti orang Jawa yaitu Jipang (di Takalar), Jipang adalah kota yang dapat disetarakan dengan Demak (1475-1546). Penguasa Jipang adalah penantang yang memberontak pada Sultan Trenggono, Sultan Demak terakhir. (Sulistyo, 2017).

Selanjutnya pada saat Kerajaan Gowa

Tallo dipimpin oleh Raja Gowa ke-10

I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiyung Tunipalangga Ulaweng (1546-1565) yang menggantikan Karaeng Tumaparisi Kalona (Raja Gowa ke-9), tercatat bahwa menetap seorang Jawa bernama Nakodha Bonang bersama rombongannya, yang diberi hak istimewa untuk tinggal di Somba Opu, yakni pada suatu tempat yang disebut Mangalekana. Tempat tinggal ini selanjutnya ditempati orang-orang Melayu lainnya yang datang dari Pahang, Patani, Campa, Minangkabau dan Johor. (Makassar Chistomarie, op. cit. p. 155-156.)

Pada saat Nakhoda Bonang menghadap Raja Tunipalangga Ulaweng, Nakoda Bonang mempersembahkan kamaleti (bedil), 80 junjungan belo, sekayu sekelat, sekayu beledru, dan setengah kodi cindai. Nahkoda Bonang minta kepada raja kiranya tempat kediaman kami tidak dimasuki tanpa pemberitahuan kepada kami. Kiranya tempat kediaman kami tidak dimasuki dengan begitu saja. Kiranya kepada kami tidak dikenakan peraturan nirapung bilamana kami berbuat kesalahan. (Mattulada, Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah. Makassar: Penerbit Ombak: 2011, p. 30-31.)

Selain di Gowa, Orang-orang Melayu

pada masa itu juga terdapat di Siang,

salah satu daerah di Kabupaten Pangkep. Hal ini merujuk pada kronik laporan Portugis (Antonio de Paiva) bahwa di Siang terdapat orang Melayu yang datang dari Johor dan Patani, dan mereka telah tinggal 50 tahun sebelum 1542. Bambang Sulistyo memperkirakan bahwa kehadiran Nakoda Bonang terjadi sesudah keruntuhan Malaka (tahun 1511), bahkan sesudah keruntuhan Demak.

Di Mangalekana orang-orang Melayu

Muslim terus bertambah, mereka hidup sebagai pedagang dan saudagar.

Mereka dilindungi Raja danmerupakan

penyumbang pendapatan kerajaan yang utama.Perlu dikemukakan bahwa Raja Gowa sesuai dengan kontrak sosial ketika pengangkatan To Manurung oleh Bate Salapang tidak dibolehkan mengambil harta dan milik rakyatnya. Dengan demikian maka raja memiliki ketergantungan penghasilan pada para saudagar Muslim Melayu.

Baca Juga:  IKA UVRI - UPRI Gelar Acara Halal Bi Halal Bersama Civitas Akademika Universitas Pejuang Republik Indonesia (UPRI)

Di akhir abad ke-16 hingga awal abad

ke-17, Makassar telah menjadi pusat

perniagaan beberapa negara Eropa dan Cina. Pada masa pemerintahan Tunipalangga Ulaweng Raja Gowa ke X (1546-1565), pedagang Portugis telah meningkatkan hubungan dagang dengan Makassar dan mendirikan perwakilan dagangnya. Bahkan bangsa Portugis telah menetap di Makassar sejak tahun 1532. Jika sebelumnya di Makassar hanya ada perwakilan dagang Portugis, selanjutnya terdapat perwakilan dagang Inggris tahun 1613, Spanyol tahun 1615, Denmark tahun 1618 dan Cina tahun 1619.

Syahbandar Goa yang bertanggung

jawab sebagai penanggung jawab

manajemen perekonomian dan pelabuhan. Oleh karena besar jasa-jasa mereka, akhirnya Raja membangun sebuah mesjid di Mangalekana.

Keberadaan orang-orang Muslim Melayu di Gowa telah menjadikan Kerajaan semakin kuat maju. Aktivitas keagamaan orang-orang Melayu di Mangalekana, kedudukan

sosial sebagai saudagar dan prestasi

ekonomi orang-orang Melayu serta

penghormatan Raja Gowa dan Tallo

yang memberi mereka jabatan-jabatan penting sudah tentu menarik perhatian orang-orang Makassar. Dapat diperkirakan banyak orang Makassar yang masuk Islam. Gejala ini sudah tentu menarik perhatian Raja Gowa pada masa itu (Sulistyo, 2017).

Terkait dengan aktifitas dakwah yang

dilakukan oleh Nakhoda Bonang, dalam Lontara Sukkukna ri Wajo, disebutkan bahwa Nahkoda Bonang sering menyampaikan larangan-larangan agama yang menakutkan dalam dakwahnya (Edward L. Poelinggomang, op. cit., p. 82.).

Nahkoda Bonang menceriterakan hari

pembalasan dan dosa-dosa besar yang diancam dengan siksa kubur dan

neraka, agar orang mau masuk Islam.

Tidak hanya itu ia juga menyampaikan tentang hari kiamat, yakni ketika manusia dihidupkan kembali dari alam kubur, dan harus melintasi siratal mustakim (jalan sebesar rambut manusia) menuju surga. Mereka yang tidak bertakwa dan berdosa akan jatuh dan tenggelam dalam api neraka yang berkobar-kobar. Hal ini mungking yang menyebabkan dakwahnya Nahkoda

Bonang belum berhasilmengislamkan

Makassar secara resmi (Sulityo,2017).

Hingga akhirnya, syiar Islam yang dibawa Datuk Tellua (Datuk Pattimang, Datuk RI Bandang dan Datuk RI Tiro), pada malam Jum’at, 9 Jumadil-awal 1014 H bertepatan pada tanggal 22 September 1605, akhirnya berhasil mengislamkan Karaeng Matoayya (Raja Tallo ke-6) dan I Mangari Daeng Manrabbia Sultan Alauddin I (Raja Gowa ke-14). Sebelumnya, Datu Luwu XV La Pattiware berhasil diislamkan pada tanggal 15 Ramadhan 1013 H, atau 5 Februari 1603 (Dua tahun sebelum Gowa diislamkan).

Perjuangan Kerajaan Gowa Tallo Dalam Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan

Menurut Prof. Dr. Ahmad M. Sewang dalam Islamisasi Kerajaan Gowa: Abad XVI sampai Abad XVII, Sultan Alauddin I (Raja Gowa ke-14) kemudian mengeluarkan dekrit pada 9 November 1607 di hadapan jemaah salat Jumat, bahwa Kerajaan Gowa sebagai kerajaan Islam dan pusat Islamisasi di Sulawesi Selatan. Islam menjadi agama kerajaan dan agama masyarakat. Untuk merealisasikan dekrit itu, Sultan Alauddin mengirim utusan ke kerajaan-kerajaan tetangga dengan membawa hadiah untuk para raja. Kerajaan-kerajaan yang menyambut baik antara lain Sawitto, Balanipa di Mandar, Bantaeng, dan Selayar. Selain dengan jalan damai, menurut Prof Ahmad Sewang, penyebaran Islam juga dilakukan dengan peperangan. Tiga kerajaan Bugis (Bone, Wajo, dan Soppeng) yang tergabung dalam Tellupoccoe (tiga kerajaan besar), menolak seruan agar memeluk Islam. Maka, pecahlah perang antara Kerajaan Makassar yang terdiri dari Kerajaan Gowa dan Tallo melawan Kerajaan Bugis yang terdiri dari Kerajaan Bone, Soppeng, dan Wajo.

Selanjutnya, menurut lontara Bugis, perang itu disebut mussu selleng (perang pengislaman). Serangan pertama Gowa-Tallo dilancarkan ke Soppeng melalui Sawitto pada tahun 1608. Akan tetapi serangan tersebut berhasil di patahkan dikarenakan Kerajaan Soppeng di bantu oleh sekutunya yaitu Kerajaan Wajo dan

Kerajaan Bone. Selanjutnya raja Gowa-Tallo melancarkan kembali serangannya. Luwu sebagai kerajaan Islam pertama di Sulawesi Selatan ikut membantu Gowa-Tallo.

Prof Ahmad Sewang menyatakan Gowa akhirnya berhasil menaklukkan Kerajaan Soppeng pada 1609, Kerajaan Wajo pada 1610, dan Kerajaan Bone 1611.

“Dengan demikian proses Islamisasi antara 1605 sampai 1611 merupakan periode penerimaan Islam secara besar-besaran di Jazirah Sulawesi Selatan,” tulis Prof Ahmad Sewang.

Sumber https://historia.id/agama/articles/perkembangan-islam-di-sulawesi-selatan-P9j5m

Selanjutnya adapun Raja Gowa ke-15 adalah I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung Sultan Malikussaid, yang dilanjutkan oleh Raja Gowa ke-16 yaitu I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape SULTAN HASANUDDIN yang Lahir tanggal 12 Januari 1631, berkuasa mulai tahun 1653 sampai 1669, dan wafat pada 12 Juni 1670.

Di Gowa juga akhirnya melahirkan ulama besar yaitu, Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makasari Al-Bantani (lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, 3 Juli 1626 – meninggal di Cape Town, Afrika Selatan, 23 Mei 1699  pada umur 72 tahun). Ia juga digelari Tuanta Salamaka ri Gowa  (“tuan guru penyelamat kita dari Gowa”). (IP dari berbagai sumber)

‘PostBanner’/

Comment