by

Pasca 2020, ‘Competitive Makassar’?

(Keterangan: Kota Makassar / foto: Istimewa)

Smartcitymakassar.com, Makassar. Makassar di 2020 adalah kota yang meng-Indonesia, yang dipengaruhi dan juga memberi pengaruh ASEAN-level, menerima dan di lain pihak juga bisa memberi dampak pada skala regional dan multinasional. Makassar 2020 adalah kota yang harus punya competitiveness. Pasca 2020, bisakah ‘Competitive Makassar’?

Bagaimana memiliki daya saing atau competitiveness tersebut? Dalam skala nasional, ASEAN-level, bahkan global? Professor Klaus Schwab, pendiri World Economic Forum, mengingatkan bahwa tantangan di era revolusi teknologi 4.0 adalah tantangan bersama, disikapi dan dihadapi  secara multidisipliner.

‘FooterBanner’


Kenapa? Karena perubahan dan disrupsi yang dihasilkan revolusi teknologi 4.0 belum pernah dialami sebelumnya oleh penduduk dunia. Revolusi ini menawarkan harapan besar sekaligus bahaya yang hebat (great peril). Perubahan dan disrupsi ini tidak hanya memberi impak yang besar kepada pemerintah, tapi juga sektor usaha, masyakarat sipil, bahkan individu. Kolaborasi lintas geografis dan bersifat multidisipliner adalah salah satu inti dari pemikiran Professor Klaus Schwab.

Imbuhan “4.0” sekarang ini sudah begitu banyak didengungkan. Bahkan dibuatkan peta-jalannya (roadmap), di segala bidang, misalnya industri (industry 4.0), public relation 4.0, kesehatan (healthcare 4.0), dan beberapa aspek lainnya. Masih begitu prematur untuk menilai apakah bidang-bidang tersebut telah melihat secara komprehensif ke depan (foresight) tantangan dan peluang sehingga sudah demikian mengafirmasinya dengan pelekatan imbuhan “4.0”.

Bagaimana juga dengan pemerintah? Atau lebih menukik, bagaimana para calon wali kota Makassar yang bakal bertarung di 2020 mengetahui, memahami, dan jika mampu menawarkan konsep, tantangan besar dan bahaya hebat dari revolusi teknologi 4.0 ini?

Tulisan ini mencoba memberikan gambaran umum terkait tantangan sekarang dan akan datang  bagi para calon terbaik pemimpin kota Makassar 2020. Setidaknya, secara sederhana, hal yang perlu diperhatikan bagi Kota Makassar dalam posisi yang memberi pengaruh (critical role), memberi dampak positif (positive influencer), dan mempunyai peran penting di tingkat nasional, ASEAN, regional, adalah soal daya saing warganya (competitive citizen), daya saing kota itu sendiri (city competitiveness), dan pembangunan nilai etis yang lebih bersifat praktis dan lokal.

Dalam soal kesiapan daya saing warga, prediksi Professor Klaus Schwab bahwa di era revolusi teknologi 4.0, faktor keterampilan (skill) dan bukan lagi modal (capital) yang menjadi hal penting. Hal tersebut menjawab pendapat ahli ekonomi Erik Brynjolfsson dan Andrew McAfee yang memprediksi bakal terjadinya ketimpangan (inequality) yang besar akibat disrupsi di sektor pasar tenaga kerja. Dalam konteks Kota Makassar, sebagai salah satu contoh di depan mata, menyiapkan warganya yang mau tidak mau telah bersaing dalam konteks ASEAN lewat Masyarakat Ekonomi ASEAN sejak 2015 silam menjadi hal yang urgen.

Pihak yang paling potensial mendapatkan manfaat di era revolusi teknologi 4.0 ini adalah yang memiliki modal intelektual dan fisik, yakni para inovator, pemilik saham (shareholder), dan investor. Kota Makassar mampu, setidaknya berada dalam gerbong penerima manfaat tersebut, mempertimbangkan bagaimana membangun warganya menjadi ‘creative class’-nya Richard Florida. Kota, sebut Florida, dapat membangun kelas masyarakat kreatif dengan menciptakan kondisi yang mengundang orang-orang kreatif datang, bekerja, dan tinggal di kota tersebut. Ini disebutnya sebagai ‘quality of place’.  Kualitas kota seperti ini ditopang oleh 3T sebagai pilar terbangunnya ‘creative class’, yakni Technology, Talent (bakat), dan Tolerance (toleransi).

Bagaimana dengan daya saing kota sendiri? Adanya kelas masyarakat kreatif mampu bersaing dalam memanfaatkan sejumlah terobosan teknologi-teknologi masa depan seperti artificial intelligence (kecerdasan buatan), robotika, Internet of Things, kendaraan nirawak (autonomous vehicle), 3-D printing, nanoteknologi, bioteknologi, ilmu bahan, penyimpanan energi (energy storage), dan komputasi quantum (quantum computing).

Selain itung-itung bersifat daya saing di atas, faktor moralitas atau etis, menjadi hal penting juga. Di samping menjadi perekat sosial, budaya, politis, dari para warganya, aspek moral dan etis menjadi filter dan saringan bagi gempuran nilai-nilai campuran global-lokal yang pasti diterima oleh warga Makassar.

Professor Klaus Schwab sendiri menyebutkan, sekarang ini ilmuwan telah dihadapkan dengan sejumlah dilema moral akibat kemajuan teknologi saat ini. Pertanyaan-pertanyaan seperti ‘haruskah mobil tanpa awak dipertentangkan dengan nilai hidup pejalan kaki?’, ‘haruskah kita membiarkan ‘drone’ menjadi paparazzi baru?’, dan ‘bisakah seorang mempatenkan gen manusia?’ adalah sebagian dari dilema yang dimaksud.

Dalam konteks sekarang, dilema moral itu telah terasa di Indonesia, termasuk kota Makassar, dalam bidang teknologi informasi. Hoax atau berita bohong telah menjadi masalah sosial, politis, dan hukum di Indonesia. Yang sehubungan dengan berita bohong ini, persoalan etis lainnya adalah soal privasi seseorang.

Sejumlah tantangan dan peluang di atas, mau tidak mau, suka ataupun tidak suka, akan dihadapi juga oleh, pemerintah, pebisnis, ilmuwan, mahasiswa, di Kota Makassar. Bagaimana para calon nakhoda Kota Makassar mengetahui, memahami, dan jika mampu menawarkan konsep, soal tantangan besar dan bahaya hebat dari revolusi teknologi 4.0 ini?

Setidaknya, gambaran umum jawaban membangun daya saing (competitiveness) di atas dapat dilihat dari visi dari para calon wali kota Makassar dalam membangun suatu peta-jalan (roadmap) Kota Makassar yang berdaya saing (Competitive Makassar)** (Riad Mustafa)

‘PostBanner’

Comment