by

Lewat Perdagangan Rempah, Pelabuhan Makassar Jadi Pusat Kapal-Kapal Eropa

Ket. Foto: Pelabuhan Makassar/Ist

Smartcitymakassar.com – Makassar. Semangat bangsa Eropa untuk ke Asia termasuk Indonesia, dipengaruhi oleh berita Marco Polo. Menurut berita tersebut, dunia timur (Asia Tenggara) memiliki tanah yang subur dan hasil rempah-rempah serta penduduknya ramah tamah. Orang Eropa yang pertama datang ke Indonesia adalah orang Portugis, kemudian orang Spanyol, dan disusul oleh Belanda. Orang-orang Portugis datang ke Indonesia mempunyai tiga motif yaitu petualangan, ekonomi, dan agama. Sedangkan kedatangan orang-orang Belanda ke Indonesia mempunyai dua motif yaitu ekonomi dan petualangan.

Pada tahun 1595 perseroan Amsterdam untuk pertama kalinya mengirim angkatan kapal ke Indonesia di bawah pimpinan Cornelis de Houtman.Mereka mendarat di pelabuhan Banten, dan mereka disambut baik oleh penguasa-penguasa Banten, karena maksud mereka hanyalah untuk berdagang. Pelayaran Belanda selanjutnya terjadi pada tahun 1598 yang dipimpin oleh Jacob van Neck, Waerwijk, Heemskerck yang berlabuh di pelabuhan Banten. Untuk menyaingi pelayaran dan perdagangan dengan Portugis, Spanyol dan Inggris, maka Belanda mendirikan VOC (Verenigigde Oost Indische Compagnie). VOC merupakan serikat dagang Hindia

Belanda yang didirikan pada tahun 1602 sebagai suatu wadah koperasi bagi pedagang Belanda yang sejak saat berdirinya membiayai semua usaha-usaha perdagangan Belanda dan semua aktifitas politik Belanda di kepulauan Indonesia. Perkumpulan dagang Belanda (VOC) mengangkat Peter Both selaku gubernur Jenderal untuk Timur, Asia (1609-1614).

Bila dilihat secara ekonomis, Belanda mempunyai kedudukan lebih kuat dari pada Portugis, karena sebagaimana halnya dengan Banjarmasin, pelabuhan Makassar (Ujung Pandang) pun pada masa Tome Pires (Bendahara dan Penulis asal Portugis) belum memainkan peranan yang penting. Mungkin pada waktu itu Sulawesi Selatan masih berada pada zaman peralihan ketika kekuatan orang Makassar yang sebelumnya berpusat di Siang (kini Pangkajene Kepulauan) mulai menurun dengan munculnya kekuatan gabungan Gowa dan Tallo yang kemudian memeperkembangkan Makassar sebagai pelabuhan yang besar.

Demikian pula dipantai Timur Sulawesi Selatan Kerajaan Luwu mundur berangsur-angsur sehingga akhirnya kerajaan Bone berhasil menjadi kekuatan Bugis yang terkemuka.

Makasar dengan lokasi pelabuhannya yang baik sangat menarik sebagai stasiun dalam pelayaran antara Maluku dan Malaka. Kemudian kemunduran pelabuhan-pelabuhan Jawa mendorong perkembangan yang sangat pesat pada abad XVII. Di sini di kota Makassar dan daerah di dekatnya, Gowa, telah aktif dalam pelayaran dan perdagangan paling tidak dari awal abad ke-16. Terletak di antara Jawa dan Maluku, kerajaan Makassar dan Gowa menduduki posisi yang secara strategis sangat menguntungkan.

Setelah penguasa Makassar dan Gowa masuk Islam pada 1605, kekuatannya pun mulai menyebar ke daerah-daerah lain di semenanjung Sulawesi bagian barat daya, pantai timur Kalimantan dan sebagian Kepulauan Sunda Kecil, khususnya di pulau Sumba dan Sumbawa. Raja-rajanya memaksa penguasa Buton (lepas pantai Sulawesi bagian tenggara) untuk mengalihkan pengakuan kedaulatannya dari Ternate ke Gowa.

Baca Juga:  Sahabat Utara Gelar Nonton Bareng PSM vs PSS Sleman

Portugis, yang terusir dari sebagian besar Maluku, menjadikan Makassar kantor pusat mereka untuk perdagangan rempah. Para sultan Makassar, walaupun mereka Muslim, mengikuti kebijakan dengan hati-hati terhadap orang Eropa, dan menyatakan bahwa mereka ingin tetap netral dalam perang antara Belanda dan Portugis. Mereka menolak kedua belah pihak itu untuk membangun pos dagang berbenteng di wilayah mereka. Portugis, yang merasa aman di bawah perlindungan sang Sultan, dengan rela tunduk pada semua peraturannya. Hubungan erat Gowa dan Portugis (yang juga agama/Nasrani), salah satu faktor Raja Gowa menolak di Islamkan oleh Datuk Pattimang, Datuk Ri Bandang dan Datuk Di Tiro yang tiba di Gowa pada tahun 1602, sehingga oleh Mangkubumi Gowa Tallo menyarankan ketiga Khatib Minangkabau ini agar ke Luwu, kerajaan yang dihormati di Sulawesi Selatan. Namun akhirnya Gowa Tallo memeluk agama Islam pada tahun 1605 atau tiga tahun setelah penolakan.

Sedangkan orang Belanda mendirikan ”lodge”, yaitu kantor dagang di Makassar tapi karena menggunakan cara yang kasar dalam menghadapi beberapa pengutang dari kota itu, maka merekapun mendapat kemarahan Sultan. Dari sejak itu sampai 1667, Makassar tetap menjadi pusat oposisi terhadap orang Belanda.

Portugis, Inggris, dan bahkan Denmark berdagang dari pelabuhan itu, di situ

perdagangan berlangsung marak. Pada abad ke tujuh belas, Makasar sudah merupakan bandar dan pelabuhan yang ramai di Indonesia bagian timur, kota ini sangat penting artinya terutama dalam perdagangan hasil bumi yang pada waktu itu sangat digemari dan sangat dibutuhkan oleh dunia. Tidaklah mengherankan jikalau kerajaan Gowa mendapat perhatian yang besar sekali dari orang-orang asing. Orang-orang Eropa seperti orang Portugis, orang Spanyol, orang Inggris, dan juga orang Belanda yang berusaha mencari hubungan dan ingin bersahabat dengan raja Gowa.

Orang-orang Belanda ketika datang ke Indonesia pada mulanya tidak menaruh perhatian kepada kerajaan Gowa yang terletak di kaki barat Sulawesi Selatan. Belanda pada mulanya dalam perjalanan ke timur sesudah berangkat dari pelabuhan-pelabuhan Jawa, mereka meneruskan perjalanannya ke Maluku. Tentang pentingnya kerajaan Gowa baru diketahui setelah mereka merampas kapal Portugis di dekat perairan Maluku yang ternyata memiliki seorang awak Makasar. Dari orang Makasar mereka mengetahui bahwa pelabuhan Gowa merupakan transito dari kapal-kapal yang berlayar dari atau ke Maluku. Dari keterangan-keterangan ini Belanda dapat menarik kesimpulan bahwa pelabuhan Makassar sebenarnya sangat baik karena terletak antara Malaka dan Maluku. (IP dari berbagai sumber)

‘PostBanner’/

Comment