by

Sebuah Masjid dan Perkenalan Awal Islam Lewat Perdagangan di Bungoro Pangkep Sulsel

Ket. Foto: Ilustrasi Balla Lompoa/Ist

Smartcitymakassar.com – Makassar. Penyebaran agama Islam yang bermula dari Kepulauan Melayu-Indonesia melalui perdagangan laut mulai dari pulau Jawa sampai kebagian Timur Indonesia termasuk pula Sulawesi Selatan.

Awal keberadaan Islam di Semenanjung Melayu ini bermula pada saat raja pertama Kerajaan Malaka memeluk agama Islam yaitu

Raja Parameswara yang pada akhirnya mengganti namanya menjadi Muhammad

Iskandar Syah dan menjadi Sultan Malaka.

Menurut sumber Makassar atau Lontara Makassar (Patturioloanga ri Togaya), sudah sejak awal abad XVI orang-orang Melayu dari Semenanjung Melayu sudah mulai berdatangan di Sulawesi Selatan, tepatnya di Kerajaan Siang (sekarang di Desa Bori Appaka, kecamatan bungoro, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan atau Pangkep), sebuah Kerajaan tua yang berada di pesisir Makassar (Masa Karaeng Allu menjadi Raja Siang, dan Kerajaan Siang dibawah dominasi Kerajaan Gowa).

Orang Melayu itu adalah kelompok-kelompok pedagang Melayu yang berasal dari Johor, Malaka, Minangkabau, bahkan juga dari Pattani (Thailand Selatan).

Pada masa pemerintahan raja Gowa ke X yakni I Manriwagau’ Daeng Bonto, Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng, orang-orang Melayu telah mendapatkan tempat tinggal di sekitar benteng utama Somba Opu yaitu di Mangalekana setelah Nakhoda Bonang menghadap kepada raja Gowa pada saat itu. Sejak menetapnya orang-orang Melayu di Kerajaan Gowa maka sejak itu pula Islam mulai menancapkan tombak penyebarannya. Orang-orang Melayu di Kerajaan Gowa bukan hanya sebagai pedagang dan ulama akan tetapi orang-orang Melayu juga ikut mempengaruhi kehidupan sosial dan politik Kerajaan, bahkan pada masa pemerintahan raja Gowa ke X Karaeng Tunipallangga orang-orang Melayu diangkat sebagai syahbandar di Kerajaan Gowa, dan bergelar Daeng ri Mangallekana. Besarnya jumlah dan peranan orang Melayu di Kerajaan Gowa pula, yang menyebabkan raja Gowa ke XII Karaeng Tunijallo membangun sebuah MESJID DI DAERAH MANGALLEKANA (Sekarang adalah Desa di Kecamatan Labakkang , Kab Pangkep) untuk orang-orang Melayu, sekalipun raja Gowa sendiri pada saat itu belum memeluk agama Islam.

Islam terus berkembang di Kerajaan Gowa.

Islam mengalami perkembangan yang sangat jaya dimasa pemerintahan raja Gowa ke XIV yaitu IbMangerangi Daeng Manra’bia. Menurut Lontara’ Gowa-Tallo , ialah pada malam Jum’at, 9 Jumadil-awal 1014 H bertepatan pada tanggal 22 September 1605. Dinyatakan bahwa mangkubumi Kerajaan Gowa/ Raja Tallo, I Malingkaang Daeng Manyonri, mula-mula menerima Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat dan sesudah itu barulah Raja Gowa XIV, yaitu I Mangerangi Daeng Manra’bia. Kedua raja tersebut secara bersamaan menerima Islam dan diberi gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam (I Malingkaang Daeng Manyonri) dan Sultan Alauddin (I Mangerangi Daeng Manra’bia), dan menetapkan Islam sebagai agama resmi kerajaan Gowa-Tallo. Selanjutnya timbullah keinginan untuk menyebarluaskan agama Islam di Kerajaan-Kerajaan tetangga, dan raja-raja negeri sesuai dengan syariat Islam yang diterimanya. Langkah pertama yang dilakukan oleh Kerajaan Gowa-Tallo dalam

Baca Juga:  Suara Rakyat Dibungkam Belanda, Inilah Koran Perjuangan di Sulsel

menyebarkan agama Islam yaitu dengan cara damai, yakni mengirimkan hadiah melalui utusan-utusan kebeberapa Kerajaan-Kerajaan kecil yang ada di sekitar Kerajaan Gowa-Tallo untuk menerima Islam. Seruan itu diterima dengan baik, sehingga berlangsunglah penyebaran agama Islam di Kerajaan-Kerajaan yang ada di sekitar kerajaan Gowa–Tallo dengan cara yang damai. Namun Kerajaan-Kerajaan yang ada di daerah Bugis seperti tiga Kerajaan yang terhimpun dalam Lamumputue ri Timurung (Tellumpoccoe/ Soppeng, Wajo, dan Bone), tidak mengindahkan seruan raja Gowa-Tallo untuk memeluk agama Islam, dan mengakibatkan raja Gowa-Tallo harus mengambil jalan lain, yakni dengan jalan peperangan.

Menurut sumber Bugis atau Lontara Bugis, serangan pertama Gowa-Tallo dilancarkan ke Soppeng melalui Sawitto pada tahun 1608. Akan tetapi serangan tersebut berhasil di patahkan dikarenakan Kerajaan Soppeng di bantu oleh sekutunya yaitu Kerajaan Wajo dan Kerajaan Bone. Tiga bulan selanjutnya raja Gowa-Tallo melancarkan kembali

serangannya. Luwu sebagai kerajaan Islam pertama di Sulawesi Selatan ikut membantu Gowa-Tallo. Dan akhirnya dapat menundukkan Soppeng sehingga Soppeng praktis memeluk Islam pada tahun 1609.

Setelah kekalahan Kerajaan Soppeng Kerajaan Gowa-Tallo melancarkan

serangannya ke kerajaan Wajo. Sebelum Gowa-Tallo menyerang Kerajaan Wajo. Namun perang tak berlangsung lama dan Arung Matoa Wajo menyerah dan meminta perdamaian. Secara otomatis Kerajaan Wajo memeluk Islam pada tahun 1610.

Selanjutnya, Kekalahan sekutuKerajaan Bone yakni Kerajaan Wajo danKerajaan Soppeng, menyebabkan kekuatan Kerajaan Bone semakin melemah dan berjuang sendiri. Dan pada tahun 1611, Bone berhasil diislamkan oleh kerajaan Gowa-Tallo. Adapun sekitar empat tahun peperangan ini, dalam Bugis dikenal dengan istilah Musu’ asselengngeng(perang pengislaman). (AR/IP)

‘PostBanner’/

Comment