by

Cenrana, Malangke dan Cina, Paradigma Baru Masa Awal Sejarah Bugis

Ket Foto: peta Sulsel/Ist

Smartcitymakassar.com – Makassar. Berdasarkan hasil penelitian Grup OXIS, atau konfederasi informal para sejarawan, arkeolog, antropolog, ahli geografi dan ahli bahasa yang  meneliti asal-usul dan perkembangan masyarakat adat di pulau Sulawesi, Indonesia https://www.academia.edu/35849388/Menemukan_Cina._Paradigma_Baru_Masa_Awal_Sejarah_Bugis

OXIS memuat sebuah artikel yang membahas sejarah Orang Bugis, Sulawesi Selatan, sejak 1200 sampai 1600 CE (Common Era penanggalan sebelum masehi). Khususnya mengarahkan perhatian pada Kerajaan Cina yang nyaris lenyap dari catatan sejarah.

Berdasarkan karya Ian Caldwell & Kathryn Wellen, artikel dari penelitian dan penemuan OXIS ini merupakan Paradigma Baru Masa Awal Sejarah Bugis’. Dimana untuk memahami lebih baik peran Cina dalam sejarah Sulawesi Selatan, OXIS menelisik apa yang OXIS percaya sebagai salah satu sumber sejarah tertua di semenanjung ini. Sumber ini berupa satu rangkaian naskah yang memuat enam silsilah keluarga elite yang berkerabat dekat di sebelah barat atau hulu lembah Cenrana, sebuah kawasan yang dalam tradisi lisan berhubungan dengan hilangnya Kerajaan Cina. Silsilah-silsilah ini tampaknya disusun pada abad ke 17 dengan memanfaatkan sumber-sumber tertulis dari masa lebih awal. Silsilah-silsilah ini dilabeli Silsilah Istana Cina (Caldwell 1988: 81); di sini OXIS merujuk enam silsilah ini secara kolektif dengan nama Silsilah Lembah CENRANA (disingkat SLC).

OXIS pun meneliti silsilah-silsilah berhubungan yang ditemukan di perpustakaan Universitas Leiden (NBG 99: 41-46), dengan struktur yang konsisten dengan SLC dan memuat individu-individu tambahan yang berhubungan. Secara kolektif, silsilah-silsilah ini memuat hampir 200 individu yang merentang sampai 16 generasi, dari pendahulu mitis sampai penguasa penguasa abad ke 17.

LUWU SEBAGAI ASAL MULA PERADABAN BUGIS

Teka-teki utama lain dalamhistoriografi Sulawesi Selatan ialah kenapa Kerajaan Luwu secara tradisional dipercaya sebagai tanah asal peradaban Bugis. Kerajaan ini terletak di pantai utara Teluk Bone, sebuah daerah dengan penduduk bukan penutur bahasa Bugis. Situs istananya didirikan sekitar tahun 1300 di MALANGKE, timur laut Palopo, dan ditinggalkan pada awal abad ke 17. Bahkan diperkirakan bahwa di masa puncaknya pada abad ke 16, MALANGKE tak pernah dihuni oleh lebih dari 15.000 penduduk; terlebih lagi, tidak semua penduduk ini berbahasa Bugis. Tidak cocok untuk pertanian, makanan pokok. MALANGKE adalah sagu dan ekonominya bergantung pada peleburan dan penempaan besi (Bulbeck, Bowdery, and Field 2007). Lantas mengapa sebuah kawasan pinggiran, non Bugis, dengan penduduk dengan makanan pokok sagu, bisa memunculkan sebuah peradaban yang bersandar pada pertanian padi beririgasi di selatan jazirah ini? Pertanyaan ini belum pernah coba dijawab.

Dalam Descriptive dictionary of the Indian island and adjecet countries yang dia tulis, administratur Inggris John Crawfurd menilai bahwa tanah asal Orang Bugis ‘sangat mungkin’ berada di daerah danau-danau tengah (Crawfurd 1856: 74). Pendapat ini

diabaikan selama hampir satu setengah abad, pada kurun ketika Luwu berulang-ulang ditunjuk sebagai tanah asal peradaban Bugis (Van Braam Morris 1889; L. Andaya 1981; Pelras 1996). Penilaian Crawfurd berlandaskan pada fakta bahwa kawasan danau-danau tengah merupakan lahan paling subur dan produktif di semenanjung ini.

Bukti dari OXIS yang memperkirakan bahwa masyarakat kompleks di daerah danau-danau tengah mendahului permukiman Bugis di Malangke dengan selisih paling sedikit satu abad mendukung hipotesis Crawfurd. Dengan begitu, Luwu akan tampak lebih sebagai negeri rantau ketimbang tanah asal Orang Bugis.

Sedangkan, ditulis pada tahun 1759, Roelof Blok seorang gubernur Belanda di Makassar melaporkan sebuah tradisi bahwa, selain Teluk Bone, Luwu juga menguasai seluruh Wajo, sebagian besar Bone, dan seluruh kawasan pesisir dari Bone sampai kawasan yang sekarang menjadi Jeneponto (Blok 1817: 3-4). Tradisi ini didukung oleh sumber-sumber lain. Sebuah perjanjian damai pada pertengahan abad ke 15 antara Bone dan Luwu menetapkan status Bone sebagai anak dari Luwu (LKL: 375); sebuah Kronik Wajo mencatat bahwa para penguasa Luwu mengumpulkan pajak di Wajo (Zainal Abidin 1985: 64); dan pengusa Luwu pada awal abad ke 16, Déwaraja, memerintah di permukiman dengan perkubuan dekat muara Sungai Cenrana (Zainal Abidin 1983: 210).

Adapun ekonomi politik Luwu yang berbasis besi sangat berbeda dengan ekonomi kerajaan-kerajaan di selatan semenanjung. Kegetolan Luwu menindas domain-domain pertanian yang ada di Bone dan bagian timur danau-danau besar menjadi pertanyaan. Secara logis, Luwu seharusnya menjadi rekan dagang bagi tiga kerajaan ini. Tetapi, kerajaan ini menjadi polisi sungguhan, merekrut pasukan dari suku-suku perbukitan dan mengangkut mereka dengan perahu menyusuri pesisir untuk menjalankan kekuasaannya. Penjelasan tentang perilaku janggal Luwu sepertinya terletak pada hubungan dekatnya dengan Cina. Bila kita menerima bahwa keluarga penguasa Luwu dan Cina berasal dari satu garis keturunan, dan bahwa hubungan antara dua kerajaan ini dipertahankan lewat pernikahan dan kesamaan kepentingan ekonomi, menjadi masuk akal.

Bukti kedekatan hubungan historis antara dua kerajaan ini (Luwu dan Cina) bahkan masih bertahan sampai sekarang. Dalam dewan adat Luwu pada masa moderen, tiga dari dua belas kursi perwakilan pemimpin (matoa) diduduki oleh matoa Wage, Tempe, dan Tampangeng.Inilah negeri-negeri yang menurut Kronik Wajo dari abad ke 18 merupakan daerah-daerah asal nenek moyang Luwu, dan merupakan kawasan inti Kerajaan Cina menurut SLC.

Dilihat dengan cara ini, kepentingan strategis Luwu dalam urusan Cina menjadi sangat bisa dipaham.

PARADIGMA BARU MASA AWAL SEJARAH BUGIS

Jika kita menerima bahwa Cina pernah menjadi kerajaan besar dan berpengaruh yang mendominasi dataran rendah persawahan di selatan Sungai Cenrana dan sekitar Danau Tempe, dan bahwa Luwu menjadi penting melalui hubungan saling menguntungkan dengan Cina, menjadi mungkin untuk membangun kerangka satu sejarah terpadu bagi semenanjung ini.

OXIS percaya, pemahaman baru ini melengkapi peralihan paradigma yang dimulai oleh proyek OXIS dan berlanjut setelah tahun 2000 dalam karya-karya pribadi para peneliti.

Di tengah-tengah pemahaman baru ini ialah gagasan tentang Cina sebagai kerajaan paling awal dan berpengaruh, tersembunyi di balik pendirian kerajaan-kerajaan Bugis setelahnya. Cina sepertinya berkembang sebagai sebuah perkauman kompleks dari aliansi sekelompok domain kecil yang berlokasi di hulu lembah Cenrana. Kronik Wajo menyebut Sengkang sebagai salah satu dari empat negeri leluhur atau negeri tua Luwu.

Sebagaimana disampaikan di atas, OXIS yakin bahwa empat permukiman ini membentuk pusat Kerajaan Cina. Nama Sengkang berasal dari frasa Bugis, si+engka+ng, yang berarti ‘datang bersama’ dan mungkin merujuk pada titik di mana Sungai Walanae bersatu dengan Sungai. Bila ketika mengalir ke luar Danau Tempe untuk membentuk Sungai Cenrana. Siapa pun yang menguasai titik strategis ini bisa mengendalikan jalur perdagangan penting ke laut, beserta daerah-daerah pertanian di sekitarnya. Keunggulan geografis lereng batupasir tempat Sengkang berada mengkontekstualkan pernyatan dalam SLC bahwa Simpurusia, pendiri Luwu dan Cina, turun di Lompoq, sebuah bukit di pinggiran utara Sengkang, dan isterinya Pattiaqjala, menyembul dari buih air di Tampangeng di selatan Sengkang. Tradisi yang dikenal luas bahwa istana utama Cina berada di Sarapo, desa We Cudai, di lereng yang sama sebelah selatan Sengkang, didukung oleh bukti arkeologis dari Allangkanangngne. Penetapan masa keramik dan radikarbon menunjukkan bahwa sebuah situs istana pernah

Baca Juga:  Para Kreator Makassar Kembali Bakal Bertemu di Ajang ‘Pesta Komunitas Makassar’

ada di sana pada abad ke 13-14 dan terus dihuni sampai pertengahan abad ke 17.

Pada masa puncaknya, Cina sepertinya berupa sebuah koalisi dari domain-domain yang punya pemerintahan masing-masing di bagian tengah semenanjung. Menurut La Galigo, pengaruh Cina membentang luas meliputi Soppeng ri Aja, Soppeng ri Lauq, Lempanglempang, Saqbangparu, Paccing, Tempe, Wage, Teamusuq, Limpomajang, Lampoko, Lompengeng, Canru, Maruq, Ganra, Saburo, Balangnipa, Laju, Pationgi, Bombangcina, Salotungo, Buludua, dan Lamuru (Kern 1939: 287, 317–318).

Bila kita menilik secara saksama, terdapat rujukan tekstual terhadap Cina yang bertebaran dalam beberapa karya historis Bugis. Sumber-sumber ini jarang menyebut nama Cina, tetapi menggunakan nama Galigo, atau hanya menyebut nama-nama tempat yang kami simpulkan sebagai bagian dari Cina.

Walaupun Cina terserap pada abad ke 16 oleh perkauman pertanian di utara, selatan dan baratnya, tampaknya pada saat itu prinsip-prinsip dasar kehidupan politis Bugis telah terbentuk. Posisi penting Luwu secara politis pada masa awal Sulawesi Selatan kelihatannya sebagian bertumpu pada hubungan khususnya dengan Cina, serta kemampuan menguasai suku-suku perbukitan di dataran tinggi yang mengelilingi daerah itu serta orang Bajo di pesisir.

Cina dan Luwu dihubungkan oleh leluhur istana yang sama dan hubungan ini dijaga lewat perkawinan setidaknya sampai abad ke 15. Kedekatan hubungan historis Cina dan Luwu tampak dalam cerita La Galigo lewat perkawinan Sawerigading, seorang pangeran dari Luwu, dengan sepupunya Wé Cudai, puteri dari Cina.

Terdapat bukti pertukaran ekonomi antara Cina dan Luwu dalam bentuk serpihan gerabah ‘lembut’ kemerahan yang ditemukan di Allangkanangnge dan Luwu. Mengingat banyaknya biji besi di dataran tinggi Luwu (Caldwell 2014) dan ketidakcocokan daerah itu untuk menanam padi, tampaknya masuk akal apabila Luwu menyediakan peralatan dan senjata besi kepada Cina, dan Cina memberi bahan pangan, pakaian, dan benda-benda keramik kepada Luwu. Luwu mungkin juga menjual besi ke Majapahit: terdapat

penyebutan ‘Mancapai’ dalam sumber-sumber historis Bugis, dan menjadi nama sejumlah kampung di Wajo dan Bone serta tenggara Sulawesi. Selain itu, ada satu ragam keris Jawa dengan pola tempaan atau pamor bernama pamor Luwu (Solyom and Solyom 1978:18; Bronson 1987:13).

Berdasarkan pemahaman baru tentang Cina tampaknya memungkinkan bahwa Uda, yang tak dapat diidentifikasi oleh Pigeaud (1962: 17), adalah Kerajaan Cina.

Kesuksesan ekonomi bersama Cina dan Luwu tampaknya dalam jangka panjang memicu bangkitnya domain-domain penantang. Tantangan-tantangan ini mungkin sebagian dimudahkan oleh menyebarnya teknologi besi, serta oleh kelemahan politis Cina yang dimanfaatkan oleh La Saliu, La Tadamparaq dan La Mataesso. Wilayah inti Bone, Wajo, dan Soppeng seluruhnya berada di pinggiran wilayah yang OXIS yakini sebagai Kerajaan Cina.

Sepertinya kerajaan-kerajaan lebih baru ini mencuat dalam konteks masyarakat kompleks yang sudah ada dengan budaya politik yang sudahberkembang. Bangkitnya kerajaan-kerajaan baru ini membentuk tantangan lokal bagi kekuasaan Cina dan Luwu dan berhubungan dengan perilaku agresif Luwu terhadap daerah-daerah pertanian yang baru menanjak di perbatasan-perbatasan Cina itu.

Berdasarkan bukti yang disajikan dalam artikel ini, OXIS yakin bahwa Cina dan Luwu awalnya diperintah oleh satu kelompok garis keturunan yang kelak terpilah menjadi dua kerajaan. Setidaknya sampai pertengahan abad ke 15 kita bisa menganggap bahwa Cina dan Luwu adalah dua elemen yang menjadi bagian dari satu kompleks politik. Kedua kerajaan ini mengklaim berasal dari satu sosok, Simpurusia, sebagai permulaan bagi keluarga istana mereka.

Permukiman Tempe, Wage, Tampangeng, dan Sengkang, yang dirujuk dalam Kronik Wajo sebagai negeri leluhur Luwu, muncul di SLC sebagai pembentuk jantung kekuasaan Cina. Sangat mungkin bahwa Kronik Wajo melekatkan kampung-kampung ini ke Luwu demi menghindari merujuk mereka sebagai bagian dari Cina, atau bisa juga karena kedua kerajaan itu sinonim di pikiran para penulis kronik.

Penyebutan Cina dalam sumber-sumber sejarah Bugis, meskipun kerajaan ini memegang peran penting dalam cerita La Galigo, OXIS percaya bahwa telah melangkah cukup maju untuk mengatasi perbedaan ini. Bahwa tafsiran baru OXIS jauh lebih dekat dengan gambaran Cina dalam sumber-sumber sastra. Sejumlah masalah masih belum terpecahkan, semisal penekanan La Galigo pada perdagangan sebagai basis ekonomi Cina. Akan tetapi, perdagangan memang penting bagi kerajaan-kerajaan awal Bugis, sebagaimana ditunjukkan oleh ribuan serpihan keramik Tiongkok dan Asia Tenggara daratan yang tersebar di seluruh bentang alam historis Sulawesi Selatan.

Bulbeck dan Caldwell (2000) menilai bahwa perdagangan merupakan perangsang yang membangkitkan kerajaan-kerejaan pertanian melalui efek berganda yang kompleks (Renfew 1972: Bab 3) dan bahwa perdagangan dan pertanian merupakan aspek saling melengkapi bagi ekonomi politik Sulawesi Selatan. Demikian pula, Cina dan Luwu, dengan basis ekonomi yang sangat berbeda, ditafsirkan di sini sebagai dua cabang saling melengkapi dalam satu sistem ekonomi.

Sekarang sepertinya sudah memungkinkan untuk membangun kesepakatan di kalangan peneliti sejarah mengenai kronologi masa awal Sulawesi Selatan. Kita tidak perlu lagi menciptakan sebuah ‘Masa Galigo’ dalam periode antara 1000-1300. Tak ada bukti arkeologis bagi keberadaan kerajaan atau perkauman kompleks sebelum abad ke 13, juga tak ada bukti mengenai keruntuhan politis menyeluruh atau ‘kerusuhan multidimensi’ pada sekitar abad ke 14 (Pelras 1996: 107).

Sebaliknya, sumber-sumber arkeologis dan sejarah mengindikasikan sebuah ekonomi yang tengah bertumbuh dan pertarungan perebutan kuasa yang sengit di semenanjung ini pada abad tersebut. Meskipun demikian, penekanan kuat Christian Pelras pada pentingnya Cina dalam perkembangan masyarakat kompleks Bugis kini tampaknya punya dasar yang kuat. (IP dari berbagai sumber)

‘PostBanner’/

Comment