by

Telah Mendunia, I La Galigo Pentas di Jakarta Juli 2019

Ket. Foto: I Lagaligo bakal pentas di Jakarta/Ist

Smartcitymakassar.com – Jakarta. Dunia mengenal Indonesia sebagian besar melalui seni Jawa, pulau terpadat di negara ini dan pusat politik. Dan juga melalui musik dan tarian Bali, pusat wisata dan tempat ajaran Hindu. Namun, yang hampir terlupakan adalah budaya dari puluhan etnis asli lainnya dari seluruh kepulauan, termasuk budaya Bugis dari pulau Sulawesi. 

Bugis terkenal dan ditakuti, karena keterampilan berlayar yang tersebar ke seluruh Asia Tenggara. Bugis juga mengembangkan bahasa tertulis mereka sendiri dan mitos penciptaan yang luar biasa yang disebut Galigo.

‘FooterBanner’


Inilah yang disebut New York Time, media terkenal asal Amerika dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Robert Wilson Menyinari Mitos Penciptaan Indonesia” pada (7/4/2004). https://www.nytimes.com/2004/04/07/theater/robert-wilson-illuminates-indonesian-creation-myth.html

Sebulan sebelumnya, Robert Wilson, sutradara dan desainer avant-garde Amerika, memperkenalkan Galigo kepada dunia dalam produksi panggung tiga setengah jam. Mr. Wilson mengadakan pemutaran perdana ”I La Galigo” berdasarkan sebuah puisi epik yang diperkirakan berasal pada abad ke-14, di mana ia menggunakan tokoh 53 musisi dan penari Indonesia dan waria.

”ILa Galigo” disajikan dengan bahasa Inggris, dijadwalkan untuk tur ke Amsterdam, Barcelona, Bilbao, Lyon dan Ravenna, sebelum mendarat di Lincoln Center Festival pada musim panas 2005.

”Ini seperti Errol Flynn, Gulliver’s Travels dan the Marx Brothers,” kata Rhoda Grauer, pembuat film dokumenter Amerika yang kurang lebih menemukan kembali Galigo sambil menyiapkan film tentang pembuatan kapal Bugis.

Bugis adalah yang terpadat dari empat kelompok etnis di Sulawesi selatan. Pulau di sebelah timur Kalimantan yang dikenal pada masa kolonial sebagai Sulawesi (Celebes -red). Terlambat masuk Islam, Bugis mendominasi perdagangan maritim di Hindia Timur dan dianggap perompak oleh Belanda yang menyerang.  Peperangan dengan musuh kolonial mereka dan upaya-upaya selanjutnya, oleh pemerintah Indonesia untuk mendorong pemukiman di bagian-bagian yang kurang berpenduduk di negara itu, mendorong gelombang migrasi Bugis, dan diaspora Bugis dapat ditemukan sejauh di sini (Amerika -red) dan Malaysia.

Seperti komunitas imigran lainnya, orang Bugis dibenci karena keberhasilan ekonomi mereka dan kegagalan berasimilasi (kuat pertahankan adatnya).

Produksi Mr. Wilson telah memicu kebangkitan minat terhadap tradisi Bugis.Sebuah seminar tentang puisi epik yang ia gunakan diadakan di Sulawesi tahun lalu, dan satu lagi, dipimpin oleh para sarjana Galigo terkemuka, mengikuti pemutaran perdana “I La Galigo” di sini. Sedangkan Rhoda Grauer, yang berasal dari Poughkeepsie, New York, yang pindah ke Bali pada tahun 1997, tersandung pada epos Galigo ketika di Sulawesi meneliti tradisi Bugis. Di antara penemuan-penemuannya yang mengejutkan adalah ada anggota imamat Bissu yang masih hidup, sebuah kelompok yang sebagian besar dipilih dari komunitas waria Bugis, yang secara tradisional merupakan penasihat bagi keluarga kerajaan Bugis.

Dikenal beragam sebagai La Galigo dan Sureq Galigo, epos ini mirip dengan Alkitab Bugis, menceritakan kisah asal usul manusia serta kisah-kisah yang berfungsi sebagai kiasan. Ini juga merupakan almanak (kalender -red) untuk segala sesuatu, mulai dari upacara pernikahan hingga penanaman dan pelayaran. Bagian-bagian dari puisi, yang disusun dalam pentameter (baris dalam sajak atau puisi yang memiliki lima kaki atau ketukan yang kuat- red), secara tradisional dinyanyikan pada kesempatan-kesempatan penting.

Seperti Alquran dan teks-teks agama utama lainnya, Galigo sebagian besar berkembang melalui tradisi lisan. 

“Versi tertulis apa yang ada berasal dari abad ke-18. Setiap versi sebelumnya telah hilang,” kata Roger G. Tol, direktur Institut Studi Asia Tenggara dan Karibia Kerajaan Belanda di Jakarta.

”Itu masalah kita dengan naskah-naskah dari Indonesia. Mereka membusuk karena serangga atau iklim. ‘Akibatnya, tidak ada versi Galigo yang lengkap dan resmi. Yang terdekat adalah kompilasi yang disusun untuk seorang misionaris Belanda oleh seorang ratu Bugis, menggunakan naskah parsial. Upaya sedang dilakukan untuk menerjemahkan epos ke dalam bahasa Indonesia, tetapi sejauh ini hanya sekitar seperenam dari sekitar 5.000 halaman yang telah diterbitkan. Tidak ada versi bahasa Inggris yang lengkap telah ditulis, dan hanya segelintir orang masih dapat membaca Bugis asli, di mana produksi Mr. Wilson dinyanyikan,” jelas Roger G. Tol.

BACA JUGA:  Mahfud Sebut Korupsi Besar yang Dilapor Jokowi Tak Kunjung Diungkap KPK

Cerita dimulai ketika para dewa dari surga dan para dewa dari dunia mengirim anak-anak mereka untuk menghuni bumi. Penguasa baru dunia menghasilkan sepasang saudara kembar, Sawerigading dan We Tenriabeng, yang ditakdirkan untuk jatuh cinta. Memperingatkan bahwa inses (hubungan seks di antara dua lawan jenis yang memiliki hubungan darah/keluarga sangat dekat- red) mereka akan menghancurkan dunia, para imam Bissu memerintahkan mereka berpisah sejak lahir.

Sawerigading berkelana ke luar negeri, menjadi petualang untuk menyaingi Ulysses (pahlawan dalam puisi epik Odyssey yang diatributkan sebagai karya penyair Homer- Yunani -red). Diceritakan tentang keberadaan wanita paling cantik di dunia, dia kembali ke rumah dan jatuh cinta dengan saudara kembarnya. Untuk mencegahnya, We Tenriabeng memperkenalkannya kepada seorang wanita yang sama cantiknya, yang dinikahinya dan memiliki seorang putra bernama I La Galigo.

I La Galigo diceritakan sebagian oleh seorang Bissu yang duduk bersila di atas panggung. Aksi ini berlangsung tanpa istirahat, dengan hanya suara memikat dari ansambel tradisional, yang disutradarai oleh Rahayu Supanggah, untuk memecah somnolence.

I La Galigo Akan Pentas Juli 2019 Mendatang di Jakarta

Adapun I La Galigo telah pentas di berbagai negara di dunia seperti Singapura, Belanda, Italia, Spanyol dan lain-lain sejak 2003. Terakhir tahun lalu pertunjukan I La Galigo tampil di IMF-World Bank Group 2018 di Bali.

Tahun 2019 ini, Ciputra Artpreneur bekerja sama dengan Yayasan Bumi Purnati kembali mempersembahkan pertunjukan I La Galigo di Ciputra Artpreneur pada 4-7 Juli 2019.  Pertunjukan teater kelas dunia yang diproduksi di Indonesia ini, pernah ada di bawah arahan salah satu sutradara teater terbaik di dunia yaitu Robert Wilson.

Dalam adaptasi ke atas panggung ini, I La Galigo akan menampilkan kisah perjalanan, petualangan, peperangan, kisah cinta terlarang, upacara pernikahan yang rumit, dan juga pengkhianatan. 

Pengadaptasi naskah Rhoda Grauer mengatakan bahwa I La Galigo  merupakan cerita yang berbeda dengan cerita klasik lainnya.

“I La Galigo memang cerita yang serius, tetapi banyak juga adegan-adegan yang lucu,” kata Grauer saat jumpa pers pertunjukan I La Galigo 4-7 Juli 2019, Kamis (2/3/2019).

Menurut Grauer, banyak versi cerita dari I La Galigo, mulai dari versi panjang dan versi singkat.

“Jadi kami memilih satu versi yang khusus untuk dipentaskan,” kata Grauer

Sedangkan pada kesempatan yang sama, Tanri Abeng, pembina Yayasan I La Galigo mengatakan, bahwa selama 20 tahun perjalanan pertunjukan I La Galigo merupakan bagian dari pelestarian seni dan budaya Indonesia.

“Pada  saat I La Galigo dipentaskan di New York, sebanyak 2.000 seat itu penuh dan mendapatkan standing ovation,” kata Tanri. 

Tanri memuji kepiawaian sutradara Robert Wilson dalam menampilkan karya I La Galigo secara spektakuler. Buktinya, pertunjukan teater ini mendapat sambutan luar biasa dari dunia internasional. 

“Saya harap pertunjukan di Jakarta Juli nanti akan sama suksesnya dengan pertunjukan sebelumnya, dan jangan sampai dilewatkan oleh pencinta seni,” ujarnya. 

Presiden direktur Ciputra Artpreneur Rina Ciputra Sastrawinata mengatakan bahwa dia memilih I La Galigo untuk dipentaskan kembali karena dia sendiri jatuh cinta pada pertunjukan ini.

“Dari segi cerita menarik, dari segi produksi kelas dunia,” kata Rina.

Rina mengaku bahwa I La Galigo  merupakan pementasan yang sangat megah dan luar biasa dengan produksi yang sangat baik. Itulah sebabnya dia berbicara dengan produser Restu Imansari Kusumaningrum untuk menampilkan pertunjukan teater ini kembali di Jakarta. Rina berharap bahwa penonton akan mengalami pengalaman yang berbeda melalui pertunjukan ini.

Lebih lanjut, Produser Restu Imansari Kusumaningrum mengatakan bahwa setelah 20 tahun tampil perdana, kini I La Galigo bukan lagi milik orang Sulawesi Selatan, tetapi milik bangsa Indonesia.

“I La Galigo harus dilanjutkan terus karena bagian dari kekayaan bangsa kita,” kata Restu. 

Tim produksi yang akan memproduksi teater ini nanti akan banyak digarap oleh tim dari Indonesia, bukan saja dari luar negeri. Adapun pemeran utama dalam pementasan ini adalah Gentille Andilolo dan Sri Qadariatin. Sebagai informasi, Tiket pertunjukan bisa dibeli melalui laman resmi Ciputra Artpreneur. (Aan/IP)

‘PostBanner’

Comment