by

Coretan Redaksi: Ramadan Datang, Semua Senang

Ket. Foto: Suasana bulan Ramadan/Ist

Smartcitymakassar.com – AGAKNYA bulan suci Ramadan adalah bulan yang paling ditunggu siapa pun, bahkan oleh penganut agama lain di luar Islam. Bagaimana tidak, pada bulan ini atmosfir yang dihadirkan memang demikian luar biasa. Pola hubungan dan interaksi warga menjadi demikian teduh dan damai. Semangat berbagi, bersilaturrahim dan bersedekah terlihat demikian dominan. Dengan begitu, gerak laju perekonomian pun mengalami percepatan putaran yang kencang seiring antusiasme masyarakat dalam melakukan transaksi ekonomi dan sosial di sana.

Baca Juga:  Tunggu Gubernur Sulsel Keluar Berdialog, Demo BPJS-K Mahasiswa Ricuh

Ramadan datang, semua pasti senang. Kalimat ini memang pantas disematkan pada bulan suci umat Islam ini. Jelang memasuki bulan yang juga biasa disebut ‘bulan seribu ampunan’ ini, suasana kota Makassar sudah terasa diberbagai tempat. Berbagai jenis usaha seperti perhotelan, jasa layanan catering, produk-produk makanan, busana muslim, sampai dengan usaha dadakan seperti penjualan sajadah, tasbih serta kopiah muslim bermunculan dengan memanfaatkan momentum bulan Ramadan untuk menggenjot omzet mereka.

‘FooterBanner’


Seminggu sebelum memasuki bulan Ramadan, hotel-hotel di kota Makassar mulai terlihat berbenah diri. Mereka berpacu menyiapkan tawaran berbagai jenis paket layanan yang bisa dianggap menarik warga kota dan pelancong untuk menikmati jasa layanan mereka. Restoran dan rumah makan pun tak ingin ketinggalan. Berbagai paket menu buka puasa disiapkan. Beraneka macam promosi digelontorkan dengan mengambil tema suasana religiusitas bulan suci ini. Rumah-rumah busana (butik) muslimah menjadi tempat favorit berbelanja kaum wanita muslim perkotaan. Kuliner jajanan serta kue-kue penganan ‘buka puasa’ mulai tumpah ruah di berbagai tempat.

Yang tak kalah menarik adalah bermunculannya berbagai tradisi warga yang hanya ada di bulan Ramadan, yakni bila menjelang waktu Mahgrib dan berbuka puasa, warga kota kerap berkumpul di ruang-ruang publik yang karib disebut ‘ngabuburit’. Begitu pula setelah santap sahur dan salat Subuh, warga kota biasanya keluar rumah dan menikmati udara sejuk jelang tibanya pagi hari.

Suasana bulan Ramadan memang luar biasa dalam menggerakkan seluruh potensi kota di segala lapisan. Atmosfir spiritual yang memayungi bulan ini juga bahkan mampu menjadi pencetus bersinerginya modal sosial ekonomi warga kota. Agaknya inilah makna hakiki Ramadan dalam energi spiritual Islam sebagai “Rahmatan Lil Alamin”. Sebuah berkah yang mampu menyelimuti segenap alam serta menjadi rahmat bagi siapapun di muka bumi ini. (MG)

‘PostBanner’

Comment