by

Psikolog: Ngotot Menang Padahal Kalah Itu Penyakit Mental Serius, Itu “Delusi”

Ket. Foto: Tika Bisono/Ist

Smartcitymakassar.com – Jakarta. Terkadang kita berhadapan dengan orang atau sekelompok orang yang menganggap dirinya menang, padahal sejatinya kalah. Mereka itu bisa saja mengumumkan dirinya sebagai menang, meski kenyataannya sebaliknya. Psikolog Tika Bisono mengatakan keyakinan yang bertentangan dengan persepsi semua orang yang turut serta dalam permainan itu bukan bentuk kepercayaan diri yang tinggi, melainkan penyimpangan kepribadian di mana orang tersebut melawan azas yang secara umum berlaku.

“Mereka menghindar dari aturan yang ada. Sehingga seakan-akan berada pada dunianya sendiri yang tidak sama dengan yang normatif,” katanya saat Sabtu, (20/4/2019).

‘FooterBanner’


Dalam psikologi kata Tika, kondisi seperti ini disebut dengan kecenderungan delusional.  Kecenderungan delusional memiliki nilai reality testing yang bermasalah. Hal tersebut dapat dibuktikan masyarakat awam dengan membandingkan orang dengan kecenderungan delusional dan realita yang ada.

“Kalau seseorang mengalami kecenderungan delusional, psikolog akan menyebut reality testing-nya kacau. Karena dia mengingkari realitas yang umum. Jadi tinggal dilihat saja, apakah kriteria tersebut sesuai dengan orang yang sedang diobservasi,” katanya.

Dilansir dari https://doktersehat.com/gangguan-delusi , adapun pengertian delusi adalah jenis penyakit mental serius yang juga disebut psikosis, di mana seseorang meyakini akan suatu hal yang sebenarnya tidak ada. Ciri delusi yang utama adalah keyakinan yang tak tergoyahkan mengenai sesuatu yang tidak benar.

Baca Juga:  30 Ribu Personel TNI-Polri Amankan Pelantikan Presiden dan Wapres Terpilih

Delusi ini biasanya melibatkan salah tafsir dari persepsi atau pengalaman. Namun dalam kenyataannya, situasi yang dihadirkan dalam pemikiran penderitanya tidak benar sama sekali atau sangat berlebihan.

Pada umumnya, orang dengan gangguan delusi dapat bersosialisasi dan berfungsi normal, terlepas dari subjek khayalan mereka. Namun, dalam beberapa kasus orang dengan gangguan delusi mungkin menjadi begitu sibuk dengan delusi mereka sampai hidupnya terganggu.

Setelah Anda mengetahui apa itu delusi, perlu diketahui juga bahwa gangguan delusi paling sering terjadi di usia pertengahan sampai akhir hidup.

Salah satu jenis delusi adalah Grandiose, dimana seseorang dengan jenis gangguan delusi ini merasa memiliki suatu kekuatan, tenaga, pengetahuan, bahkan identitas yang lebih dari orang lain. Orang ini dapat memercayai bahwa dirinya memiliki bakat besar atau telah membuat penemuan penting.

Selain itu, ada juga jenis delusi Persecutory, dimana seseorang dengan jenis gangguan delusi ini percaya bahwa mereka (atau seseorang yang dekat dengannya) sedang dianiaya, atau bahwa seseorang memata-matai mereka atau berencana menyakiti. Namun, orang dengan gangguan delusional ini tidak melaporkannya pada otoritas hukum. (Aan/IP)

‘PostBanner’

Comment