by

Coretan Redaksi: Kisah Para ‘Intelektual’ Warkop

Ket. Foto: Warung Kopi (Warkop)/Ist

Smartcitymakassar.com – DI KOTA Makassar, bila Anda ingin mengetahui lebih jauh up dating informasi teranyar dan disertai dengan analisa dengan memakai terapan ilmu heurmeneutika posmodernisme, datanglah ke Warung Kopi (Warkop). 

Jujur, ini bukan iklan, apalagi penyesatan informasi (fake news) seperti yang banyak kita peroleh di media-media on line yang tak punya integritas profesional seperti yang banyak bermunculan setiap jelang tahun politik di negeri ini.

Warkop di kota Makasssar, sejak dulu bukan hanya berhenti sebagai tempat orang jualan kopi atau minum kopi. Warkop merupakan ‘universitas kehidupan’. Sebuah kampus dengan dialektika pemikiran yang demikian dinamik.

Datanglah ke Warkop, maka Anda akan menemui para intelektual dalam arti paling murni. Pada penimbah ilmu kehidupan yang tidak hanya berhenti pada hapalan semata, namun nyunsep menyelam dalam lautan hidup dengan segenap luapan badainya. 

Di warkop, semua paradigma, cara pandang, perspektif, anutan madzhab keilmuan kita difasifikasi, dikritisi, dianulir bahkan di mentahkan oleh realitas empirik yang memang ada di depan hidung. Seluruh sistem berpikir, prasangka, stigma dan kecenderungan pola pikir kita diaduk dalam dialektika ala filsuf Baudrilard yang pernah mengatakan “kebenaran adalah hal yang patut ditertawakan”.

Para ‘intelektual’, ‘master’ dan ‘doktor’ jebolan Warkop pastilah memahami bahwa apa yang dinamakan ilmu, paradigma, keyakinan adalah produk samping dari ‘pergulatan’ kehidupan. Tidak hanya berhenti sebatas teori namun menjadi bagian dari gerak napas perilaku kita. “Orang yang berilmu itu adalah orang yang tidak tahu apa-apa”, kata Sokrates. Dan seorang kawan menambahl, orang berilmu itu adalah orang yang terus menerus ditonjok rasa kebingungan. Karenanya dia terus mencari kebenaran sejati yang ironisnya dia pun tahu bakal tak dapat diperoleh sepanjang kita masih terikat dalam ruang, waktu dan berdiri dalam sebuah konteks.

Baca Juga:  (Video) Aksi Peduli Komunitas Rumah Dongeng, Komunitas Jalan-Jalan Seru dan Polisi Literasi pada Dunia Pendidikan di Pelosok Sulsel

Ini memang semacam kutukan Sisyphus dalam mitologi Yunani yang menceritakan bagaimana dia dikutuk dewa untuk mengerek sebongkah batu besar ke atas bukit, namun sesampainya di puncak, dia menggelindingkannya kembali ke bawah dan turun lagi untuk mengerek lagi batu tersebut ke puncak. Berulang-ulang, terus menerus tak henti. Ini pekerjaan sia-sia? Absurd? Tergantung dari pojok mana kita menilainya. Karena keabsurdan yang ada memang menjadi bagian inhern dari hidup kita dan hadir sebagai wujud paradoksnya kehadiran manusia di jagad bumi ini. 

Itulah mengapa para ‘intelektual’ jebolan Warkop tetap saja terus menerus mendatangi ‘kampus’nya untuk terus saja belajar, bergelut dan mungkin bertengkar sesama ‘sarjana’. Itu pulalah sebabnya, mengapa mereka, pada umumnya, lebih terlihat sebagai orang kebingungan dalam berbagai pertemuannya dengan hidup. Kegaggapan mereka, bukan karena hilangnya energi hidup namun justru mereka kelebihan energi untuk terus mencari dan mencari. Di kampus Warkop inilah mereka paham hidup tak perlu selalu dihadapi dengan tingkat ‘kengototan’ yang kaku namun dijalani dengan mencoba berdamai bersama segala keabsurdan hidup. (MG)

‘PostBanner’/

Comment