by

Coretan Redaksi: Dostoyevsky, Sastra dan Kerumitan Manusia

Ket. Foto: Dostoyevsky/Ist

Smartcitymakassar.com – SASTRAWAN besar Rusia, Fyodor Mikhlailovich Dostoyevsky atau lebih kenal sebagai Dostoyevsky pernah menulis novel pendek dengan judul “Catatan Bawah Tanah”. Kisah tentang sosok seorang pria yang tinggal sendiri di gudang ruang bawah tanah rumahnya dan memiliki jiwa demikian kompleks. 

Novel Dostoyevsky ini memang berbau genre sastra psikologi yang menukik jauh ke dalam sisi paling ‘kelam dan tersembunyi’ dalam jiwa seseorang. Namun seperti karya besar sastra lainnya, Dostoyevsky tidak bertindak sebagai hakim yang menentukan perbuatan seseorang itu salah atau benar. Dia tidak meletakkan diri sebagai seorang moralis yang menunjuk hidung tokoh utamanya sebagai baik atau buruk. Segalanya mengalir apa adanya dengan segala kerumitan jiwa manusia. Sisi gelap kemanusiaan kita yang hadir dalam keterpojokan digambarkannya dengan nada yang demikian liris. 

Sebuah sastra besar memang selalu hadir dalam dimensi utuh kemanusiawian kita. Tak ada penghakiman di sana. Tokoh utama dalam novel Dostoyevsky memang diletakkan dalam bingkai besar kemanusiaan dengan segala sifat dan watak tersembunyi yang mengiringinya. 

Barangkali, memang demikianlah sifat sebuah karya sastra yang besar. Dia menyedot kita dalam kubangan pertarungan dahysat sisi kemanusiaan kita. Kebaikan, moralitas, kejujuran, kebohongan, keburukan, keagungan dan keindahan menyatu diri sesorang. Sebuah pertarungan abadi yang tak pernah berakhir. Dan di sana, sastra meletakkan kita bukan dalam dimensi menyalahkan atau membenarkan sifat dan perbuatan seseorang tokoh. Namun mengangkat kita untuk setidaknya memancing sifat sublimatif kita untuk lebih memahami betapa rumitnya jiwa seseorang. 

Membaca karya sastra besar menjadikan kita mengerti mengapa sesorang kadang melakukan perbuatan di luar nalar dan akal sehat. Mengapa sesorang bisa tampil demikian tak terduga serta luput dari semua pisau analisa ilmu psikologi. Dostoyevsky tidak mengajar kita, tapi membikin kita tak kesusu menghakimi seseorang. Tak keburu mengarahkan telunjuk untuk menghujat. Karena pada akhirnya seorang manusia memiliki sebuah medan pertarungannya sendiri. Dan di sana kita belajar untuk paham dan bahkan merasa simpatik dengan konflik batin mereka. (*MG)

‘PostBanner’/

Comment