by

Coretan Redaksi: Politik Pilpres Indonesia, ‘Wajah Buruk Cermin Dibelah’

Ket. Foto: Ilustrasi cermin retak

Smartcitymakassar.com. MEMBINCANGKAN politik jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) Indonesia tak ubahnya membincangkan aib orang lain”. Pernyataan ini bukan sekadar bagian dari menyokong atau tidak menyokong salah satu kandidat yang ikut dalam kontestasi pilpres, khususnya di Pilpres 2019 mendatang. Faktanya an sich memang demikian. Setiap jelang Pilpres, bahkan jauh sebelum atmosfir politik pilpres mengelantung di langit Indonesia, yang terjadi adalah sebuah proses ‘pembusukan’ karakter bangsa yang sangat dilumpuri oleh sengatan kebencian. 

Politik Indonesia bahkan bisa disebut hanya memiliki konfigurasi ‘hitam-putih’. Dengan kata lain, kalau Anda bukan kawan berarti Anda adalah lawan! Polarisasi politik model Indonesia ini memang bukanlah hal yang luar biasa. Sejarah panjang politik negeri ini memang senantiasa dibayang-bayangi oleh demikian mengerasnya kutub politik yang saling membelah dalam berbagai aliran. Seorang pemikir antropologi kebudayaan ternama, Clifford Geertz bahkan pernah mengambarkan bila politik Indonesia sangat beroriantasi pada apa yang diistilahkannya sebagai ‘politik aliran’. 

‘FooterBanner’


Namun yang membedakan dengan suasana politik di masa 1955 yang banyak diklaim para pengamat sebagai masa ‘keemasan’ politik demokrasi Indonesia dengan model perilaku politik zaman now ini adalah politk aliran di tahun 1955 sangat kental dengan basis ideologi yang kuat. Hampir semua perdebatan dan pertarungan wacana di masa itu sangat diwarnai dengan adu gagasan, adu argumentasi intelektual berbasis ideologi. 

Sedangkan wajah politik saat ini -apalagi menjelang pilpres- justru sangat didominasi oleh kegaduhan yang sangat artifisial, bahkan dapat dikatakan hanya dibaluri oleh intrik, gosip murahan dengan polesan hasutan untuk mengajak masyarakat membenci secara emosional. 

Berbicara tentang politik akal sehat dan nalar intelektual di zaman model politik semacam ini memang hanya seperti berbicara dengan diri sendiri. Yang menggumpal dalam udara politik Indonesia saat ini adalah politik caci maki, hujatan, janji bombastis dan intrik rekayasa untuk membuka aib kontestan lain. 

BACA JUGA:  Tanggapi Nota Keuangan dan RAPBD Tahun 2020, Fraksi PPP DPRD Sulsel Soroti Ini

Terus terang, saya kurang tahu sejak kapan kecenderungan politik model seperti ini mulai menghegemoni cara kita meraih kekuasaan. Saya juga tak ingin menimpahkan seluruh ‘salah asuh’ politik ini pada zaman Orde Baru. Namun bagaimanapun tak ada yang menafikan bila otoritarianisme era Orde Baru sangat berkontribusi besar dalam ikut mendangkalkan karakter politik bangsa ini.

Di era orde baru rakyat sama sekali tak diasupi oleh pendidikan politik yang sehat, selain digiring dalam mentalitas ‘ketakutan’ dan mentalitas budak. Para politisi kita saat itu tak ubahnya ‘ornamen’ iklan yang dipajang dalam etalase kaca dengan indoktrinasi ‘asal bapak (baca: Soeharto) senang’. Model demokrasi ‘seolah-olah’ -meminjam istilah Gus Dur- memang demikian kuat tertanam dalam relung paling dalam masyarakat kita. 

Buah hasil pendidikan mental politik yang ditanamkan orde baru kini kita rasakan betul dijelang Pilpres. Ajang yang seharusnya menjadi bagian paling penting dalam konstruksi demokrasi kita, ternyata hanya memperlihatkan kegaduhan yang memiriskan hati. Fitnah, hasutan, caci maki, berita bohong lebih mengemuka dibanding adu program dan perdebatan mencari solusi. 

Politik pilpres kita tak ubahnya seperti -meminjam sebuah pepatah- seperti “muka buruk cermin dibelah”. Di sana kita benar-benar kehilangan orientasi kebangsaan. Naluri Keindonesiaan kita tersesat dalam belantara syahwat kekuasaan. Kita mengutuk, mencaci maki dan mengharcurkan cermin yang sebenarnya merupakan wajah kita sendiri yang buruk tapi menganggap cerminlah yang busuk. (MG)

‘PostBanner’

Comment