by

Aku Memilih Untuk Menjadi Manusia Merdeka

Keterangan Foto: Ilustrasi

Smartcitymakassar.com – Makassar. Dalam hidup ini, manusia tak pernah lepas dari yang namanya pilihan. Saban hari, pilihan itu terus merecoki pikiran. Ketika disodori kopi atau teh, terserah mau pilih yang mana.

Saat mau makan, ada coto, juga ada konro. Mau berolah raga di sebuah lokasi jogging track, mau lari atau jalan? Atau, mau pilih senam atau yoga? Lagi-lagi, dihadapkan sebuah pilihan.

Pilihan-pilihan di atas itu hanyalah hal yang remeh-temeh saja. Benar atau salah dalam memilih, toh hasilnya enteng saja. Milih kopi, enak. Tidak milih teh, tidak rugi.

Begitu juga makanan dan olah raga. Apapun yang tidak dipilih, tidak mengakibatkan hal yang luar biasa. Kecuali kalau ada pantangan, misalnya tidak boleh makan konro atau tidak boleh lari karena kaki sedang sakit.

Bagaimana dengan hal di luar dari remeh-temeh itu? Misalnya masalah pasangan hidup atau pekerjaan? Ketika hendak memilih, perlu pertimbangan yang sangat ketat.

Saya tidak persoalkan masalah, apakah salah atau benar dalam memilih. Yang saya persoalkan adalah bagaimana proses memilih itu hingga sampai pada penentuan pilihan (eksekusi).

Memang perlu masukan dari hal di luar diri kita, ketika hendak memilih. Misalnya pasangan hidup, bisa minta masukan dari keluarga atau sahabat dekat.

Sama halnya dengan pekerjaan, juga minta masukan dari pihak di luar diri kita.

Nah, setelah ada masukan-masukan tadi, kemudian mempertimbangkan melalui pikiran sendiri. Pointnya, Pilihan itu ada dalam genggaman kita.

Ketika segala sesuatunya sudah dianalisa dengan cermat melalui tahapan yang ketat seperti, menggabungkan antara simulasi pilihan (cost-benefit, analisis SWOT, dll) dengan intuisi maka, proses eksekusi akan dilakukan.

Baca Juga:  Sekjen PDIP: Upaya Pemakzulan Gubernur Sulsel Tak Berdasar

Sebelum eksekusi pilihan, tahap akhir adalah melaporkan segala sesuatunya kepada Sang Pencipta. Dialah Sang Penentu dari segala hal yang ada di semesta ini.

Lantas, bagaimana dengan pilihan politik mengenai Pilpres 2019? Kita hanya dihadapkan oleh dua pilihan, dimana masing-masing pilihan itu berasal dari putera terbaik dan pilihan dari bangsa ini.

Pilpres 2019 bukanlah hal yang remeh-temeh. Karena menyangkut kehidupan banyak orang dan impaknya beberapa tahun kedepan, bahkan puluhan tahun akan dirasakan.

Karena bukan remeh-temah, proses memilihnya sama dengan yang dijelaskan di atas. Menggabungkan antara pikiran sendiri dengan referensi dari luar dan melibatkan Sang Pencipta sebelum proses eksekusi dilakukan.

Pikiran sendiri bisa melalui intuisi, bisa juga mengamati realitas yang dialami sekarang.

Referensi dari luar seperti, dengan cara mengamati diskusi-diskusi pihak yang kompeten, membaca artikel-artikel yang sumbernya valid, dan jangan terpengaruh oleh provokasi hoax yang masif berseliweran di media sosial.

Sekali lagi, point pilihannya ada dalam genggaman kita. Tak ada yang bisa intervensi kecuali diri kita sendiri.

Saya teringat seorang penulis muda produktif era tahun 60-an, penulis buku, salah satu pendiri Mapala UI, dan meninggal dunia saat mendaki gunung Semeru.

Soe Hok Gie berseru: “Aku memilih untuk menjadi manusia merdeka”. Ya, merdekalah dalam memilih saat Pilpres 2019 nanti (*Rafa)

‘PostBanner’/

Comment