by

Bencana Politik

Ket. Foto: Ilustrasi

Smartcitymakassar.com – BAGAIMANAPUN, pada akhirnya, politik adalah bagaimana cara menjejak kekuasaan. Memang dalam langgam langkahnya kadang berbeda; ada yang menyeru pada kesejahteraan, keadilan, kebebasan atau persamaan. Namun titik akhir dari semua itu adalah kekuasaan an sich.

Kerepotan terbesar kita dalam meletakkan nilai-nilai politik pada arasnya adalah ketika yang menjadi prasyarat tumbuhnya tidak terpenuhi. Dengan kata lain, cara yang ditempuh untuk menjejak kekuasaan itu tidak lagi memuat nilai-nilai yang menjadi prasyarat eksistensinya sehingga dapat disebut berpolitik secara sehat dan rasional.

Nilai-nilai inilah yang saat ini mengalami dekadensi dan terkesan porak-poranda dalam tataran politik kekuasaan di Indonesia. Di sana politik menjadi ruang bising dan riuh yang tak lagi mengindahkan sikap rasionalistik, meminjam bahasa filsuf Eric Fromm, politik tidak lagi dipandang sebagai proses nilai yang terus ‘menjadi’ tapi telah menjelma menjadi sikap ‘memiliki’.

Dengan sikap ‘memiliki’ ini, maka yang hadir dalam ruang relasi politik kita adalah sikap irasional dan menggelembungnya watak serakah, takut kehilangan kekuasaan, paranoid serta waham kekuasaan. Sikap irasional dari karakter ‘memiliki’ ini semakin diperparah oleh paradigma masyarakat yang menilai kekuasaan sama sebangun dengan kekayaan, kesuksesan, hak istimewa (privelege) serta kemasyuran.

Baca Juga:  FSI Jabar: Santri 1000 Persen Dukung Jokowi-Ma'ruf Amin

Maka, tujuan politik untuk kekuasaan lebih bernuansa saling jegal, saling menegasikan dan saling memperlebar jurang antara kami di sini dan mereka di sana. Kekuasaan kemudian ‘membeku’ dalam tabung tabula rasa tanpa etika, estetika apalagi moral. Padahal yang menjadikan politik dengan tujuan kekuasaan itu dikatakan bertumbuh sehat (baca: menjadi) adalah nilai yang dikandungnya.

Inilah yang koyak-moyak di ranah politik Indonesia. Bukan seperti anggapan banyak ahli yang menilai hancurnya politik di Indonesia karena kekuasaan telah menjadi tujuannya. Karena bagaimana pun politik memang selalu hadir untuk kekuasaan. Yang hilang di negeri ini adalah nilai-nilai etika, estetika dan moral dalam politik dan kebanyakan politisi kita. Ini sebuah bencana poltik. (*MG)

‘PostBanner’/

Comment