by

Heboh Istilah ’Enak Jamanku Toh’, Ini Perbandingan Daya Beli PNS Tahun 1993 dan 2018

Foto:Ilustrasi

Smartcitymakassar.com – Makassar. Masih ingat istilah populer ”Enak Jamanku Toh?”. Istilah ini pernah mencuat dan menjadi populer karena dibarengi dengan foto Presiden ke 2 RI, Soeharto yang sedang tersenyum dan melambaikan tangannya. Makna yang ditangkap publik dengan istilah ini yakni pada zaman kekuasaan Soeharto atau era Orde Baru kehidupan masyarakat Indonesia lebih enak, sejahtera dan bahagia.

Di Tahun politik jelang Pilpres 2019, istilah “Enak Jamanku Toh” kembali marak di telinga publik. Apalagi setelah keluarnya pernyataan Titiek Soeharto yang ingin mengembalikan era bapaknya, Soeharto, jika salah satu Paslon yang dia dan partainya dukung kelak menang yaitu pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

‘FooterBanner’


Tapi benarkah era Soeharto atau Orba masyarakat memang lebih sejahtera dari sisi ekonomi? Mari bandingkan dengan data yang diperoleh Smartcitymakassar.com terkait pendapatan dan daya beli PNS golongan terendah terhadap bahan bakar minyak (BBM) dan beras sebagai kebutuhan vital masyarakat

Namun, patut dicatat, perbandingan ini hanyamembandingkan apple to apple antara  tahun 1993 dan tahu 2018.

Berikut perbandingannya: Pada tahun 1993, gaji PNS terendah adalah Rp.78.000 sedangkan di tahun 2018, gaji terendah PNS adalah Rp.1,486,000.

BACA JUGA:  Di Tengah Jadwal Menlu Retno ke Myanmar, Jakarta Bantah Klaim Indonesia Sepakat Pemilu Ulang di Myanmar

Harga BBM di tahun 1993 yang berjenis premium Rp.700 per liter, sedang di tahun 2018, harga BBM jenis pertalite Rp.8000 per liter.

Maka di tahun 1993 bila seluruh gaji terendah PNS tersebut dikonversikan dengan harga BBM premium, maka mereka mampu membeli maksimal 111 liter bensin premium. Sedangkan di tahun 2018, dengan model yang sama mampu membeli maksimal BBM 181 liter pertalite atau setara dengan 230 liter premium.

Demikian halnya dengan beras. Di tahun 1993, harga beras sebesar Rp.750 per liter, sedang di tahun 2018 harga beras Rp.10,00 per liter.

Bila dikonversikan dengan seluruh gaji terendah PNS tersebut, maka di tahun 1993, seorang PNS mampu membeli maksimal 104 liter beras. Sedangkan di tahun 2018, dengan model yang sama PNS mampu membeli maksimal 148 liter beras.

Walau pun perbandingan ini tidak menggambarkan variabel lain, namun bisa dijadikan rujukan terkait daya beli dan tingkat kesejahteraan di Indonesia, khususnya PNS. (Ipul/Yushar)

‘PostBanner’

Comment