by

Pesta Pa’buntingang Rakyat Indonesia

(Foto : Ilustrasi)

Smartcitymakassar.com – Makassar – Terdengar irama syahdu sedikit fals, “braakk…!!” Ternyata sumber suaranya berasal dari kepala seseorang terkena dinding tripleks akibat guntur menggelegar. Sore itu Baraccung berteduh ketika kota Makassar diguyur hujan deras.

Sambil menanti redanya hujan, dia memperhatikan pos ronda, tempatnya berteduh. Bangunan kecil berbentuk persegi panjang dikelilingi papan tripleks yang catnya mulai pudar. Di sudut ruangan itu, tertulis sebuah pesan, “Mari Sukseskan Pesta Demokrasi – Pilpres 2019.”

‘FooterBanner’


“Apa iya pesta demokrasi sama dengan Pilpres?” Tanyanya dalam hati. Sedetik kemudian, pikiran Baraccung bergerak, menyusuri pertanyaan yang membuatnya penasaran. Semua orang tahu, demokrasi merupakan perwujudan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Sementara pesta adalah perjamuan dengan bersuka ria. Lantas, pesta demokrasi, apa yang dijamu atau apa yang dihidangkan? Tentu saja hidangan berupa calon yang akan dipilih.

Pikiran Baraccung semakin menyeruak ibarat air hujan yang menjorok masuk ke dalam tanah. Bila diurai antara kata demokrasi dan pesta dihubungkan dengan Pilpres maka, Pilpres adalah hajatan rakyat untuk memilih calonnya dengan suasana yang gembira.

BACA JUGA:  Yayasan Muslim Mulia Mandiri Gelar Kegiatan Sarapan Jum'at Pagi

“Kalau begitu, pesta demokrasi berarti mirip acara pa’buntingang (pernikahan)?” Gelitik Baraccung. Pesta demokrasi diawali dengan proses lamar-melamar koalisi parpol untuk menentukan calon yang akan diusung. Sama dengan prosesi madduta ketika ingin melamar secara resmi pada adat Bugis-Makassar. Setelah itu, ijab kabul dilakukan untuk mensahkan kedua pasangan atau deklarasi calon pada Pilpres.

Nah, puncaknya saat acara resepsi pencoblosan tahun 2019. Satu hal yang kadang terlupakan, sebuah pernikahan bukanlah perekat kedua mempelai semata. Namun, yang paling utama adalah meleburnya keluarga besar masing-masing pasangan.

Tentu saja, keluarga besar adalah rakyat yang memilih calonnya nanti. Ketika puncak acara resepsi pencoblosan, rakyat yang berseberangan, harusnya bersatu dalam ikatan pernikahan itu yakni, ikatan keluarga besar rakyat Indonesia.

Akhirnya, penantian itu datang, titik-titik air hujan mulai reda. Baraccung merasa girang. Tapi, masih ada yang mengganjal di dadanya, sebuah pertanyaan yang sedikit binal terlintas, “jika Pilpres sama dengan acara pa’buntingang berarti boleh pakai electone dengan latar caddoleng-doleng, cappo?” (Rahmat Mustafa)

‘PostBanner’

Comment