by

Kisah Para ‘Pahlawan’ Kebersihan

(Foto: Istimewa)

Smartcitymakassar.com – Makassar – Pagi masih buta. Kota Makassar belum siuman benar. Jalan-jalan masih bergerak lamban. Di sudut jalan di Kecamatan Mariso, Makassar, pria muda itu terlihat tekun melaksanakan tugasnya; menyapu dan membersihkan punggung jalan. Pria itu adalah salah seorang satgas kebersihan kota.

Untuk sebuah kota, pemandangan seperti terasa sudah lazim. Orang yang mulai lalu lalang di jalan, jelas tak memedulikan dia. Kehadirannya tak terasa. Antara ada dan tiada.

‘FooterBanner’


Barangkali, dia hanya sebuah sekrup kecil dalam roda mesin yang disebut kota. Tak ada yang spesial di sana. Hidup mengalir dan pria muda pembersih jalan itu juga terus mengalir di antara uap debu jalan dan penduduk kota yang nyaris tak mengenalnya.

Namun pagi tadi, dia, pria pembersih jalan itu tak nampak. Mungkin dia sakit, atau ada halangan lain. Sebenarnya tak ada orang yang benar-benar sadar apakah dia hadir atau tidak di jalan itu. Tapi tumpukan sampah yang mulai menggangu pemandangan, kantong kresek plastik yang teronggok, gelas plastik bekas minuman air mineral yang berserak dan debu jalan yang menggunung menjadi sebuah pembeda yang memberi tanda tentang ketidakhadirannya.

BACA JUGA:  Perayaan Anniversary ke-6, Dalton Makassar Gelar Donor Darah dan Bagi Masker Serta Handsanitizer

Beberapa orang sudah mulai mengeluh. Pedagang bakso keliling yang biasa mangkal di sekitar area itu bersungut-sungut kecil. Tenyata pelanggannya enggan singgah karena merasa selera makan mereka lenyap menyaksikan tumpukan sampah tersebut. Warung makanan di pojok jalan tersebut juga terlihat sepi, debu yang beterbangan membuat orang mendadak merasa malas mengunjunginya.

Pria pembersih jalan itu, sontak terasa sangat dibutuhkan. Ketidakhadirannya membikin perputaran ekonomi dari rakyat kecil ini sangat terganggu. Dia mungkin hanya sebuah ‘sekrup’ kecil yang kerap tak dihargai, namun kehilangannya jadi musibah ekonomi yang cukup besar bagi kebutuhan perut masyarakat sekitarnya.

Kadang, kita memang tak menghargai sesuatu ketika dia hadir. Namun ketika dia menghilang, barulah terasa betapa penting dan cemerlang kehadirannya. Dan kita, para warga kota kerap menyepelekan hal tersebut. (Makmur Gazali)

Comment