by

(Opini) Kecebong, Kampret, dan Kepinding


(Foto: Ilustrasi)

Oleh: Rahmat M.

‘FooterBanner’



Sebutan kecebong dan kampret tidak asing lagi bagi warganet. Istilah ini sering wara-wiri di media sosial dan diigunakan untuk menyebut pendukung Capres tertentu.

Kecebong adalah tahap pra dewasa dalam daur hidup amfibia. Kampret adalah kelelawar kecil pemakan serangga.

Keduanya merupakan hewan yang berada pada tahap pertumbuhan masih kecil atau belum dewasa. Jadi, istilah ini digunakan untuk mencibir salah satu kubu yang berseteru. Seolah-olah istilah yang disematkan itu seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

Kecebong dan kampret adalah impak dari Pilpres 2014, dimana kala itu hanya ada dua kontestan yang berhadapan.

Bagaimana dengan Pilpres 2019 tahun depan, jika yang muncul bukan dari dua kontestan. Tapi, ada muncul kontentan lain. Katakanlah muncul satu calon hingga menjadi tiga calon Pilpres 2019.

Apakah ada istilah baru yang muncul, seperti kecebong dan kampret itu? Jika ditelisik, kecebong mewakili binatang yang habitatnya dua alam atau amfibi. Karena binatang ini tahap awal berkembang di dalam air, maka bisa disebut mewakili binatang di air.

Sementara kampret, binatang yang bisa terbang atau bisa dikatakan mewakili binatang di udara. Nah, istilah baru itu tidak mewakili air, pun tidak mewakili udara. Tapi mewakili binatang di darat.

Kira-kira istilah apa gerangan? Bisa jadi, istilah itu adalah kepinding atau kutu busuk yang habitatnya di darat.

Kepinding adalah binatang yang tinggal dan bertelur di lipatan tempat tidur atau bantal dan tempat-tempat tersembunyi lainnya. Gigitan kepinding tidak terasa, namun gigitannya berupa bentol dan terasa gatal serta panas pada korbannya.

Tentu saja istilah kepinding ini termasuk cibiran, seakan-akan disematkan kepada pihak yang tidak ada gunanya.** (Penulis adalah Pimpinan Umum SmartcityMakassar Online)

Comment