by

Smart City sebagai “Walkable City”, Surga Pejalan Kaki

Kota Stockholm, Swedia (Foto: Courtesy of Travel & Adventure Blog)

Smartcitymakassar.com. –Makassar- Jeff Loux, seorang turis, mengagumi kota Stockholm. Tidak untuk cuacanya; yang kadang berubah. Dengan cuaca demikian, warganya yang berjalan kaki tetap ramai. Ini mengherankannya, sekaligus membuatnya ingin tahu, membuatnya mengayun langkahnya menyusuri kota ini.

Ada kegembiraan di jalanan, temuannya. Jalannya luas, menyambung ke jalan-jalan lebih kecil, menghubungkan ruang-ruang publik serta sejumlah tempat menarik bagi pelancong. Rasa aman yang tinggi selama berjalan didapatinya. Pencahayaannya tampak tertata baik. Ruang-ruang “biru” dimana-mana; ada pelabuhan, terdapat dermaga dengan kapal-kapal tua dan baru, dan tepi laut.  Jalan-jalan “mengundang”nya.

Selama berjalan kaki, Jeff menemukan banyak bangunan bersejarah dengan beragam warna namun konsisten dalam pola dan gaya. Bahkan ada bangunan yang menurut Jeff tampak berbeda dari yang lainnya, “salah” bangun, namun tetap kelihatan konsisten. Tetap “menggaetnya” untuk menikmati kota ini.

Nuansa pembauran dalam fungsi lahan, sebagaimana ditemukan di kota-kota dunia, antara toko, restaurant, café, museum, bangunan pemerintah dan perkantoran, semakin membuat setiap sela persinggahannya terus menarik perhatiannya.

Adalah manusianya, warganya, adalah inti dari pengalaman Jeff. Ruang kota yang rapat atau ‘dense’ dengan segala keunikan daya tariknya. Terlihat geliat kegiatan ekonomi. Jalan-jalan yang beragam nan “hidup”. Inilah “undangan”, menurut Jeff, bagi para pejalan-kaki untuk, dengan bauran rasa ingin tahu serta gelora untuk menikmati daya tarik, terus menyusuri blok atau wilayah berikutnya, lalu blok berikutnya, hingga keseluruhan blok. “Undangan” yang tetap “hidup”.

Benih Stockholm sebagai kota pejalan-kaki, atau “walkable city”, adalah kebijakan Vision Zero. Desain kebijakan ini ditujukan bagi mobil pribadi dan pengemudinya agar menjadi lebih aman berkendara di jalan-jalan utama dan wilayah di luar kota. Dalam perkembangannya, kebijakan ini merubah budaya berjalan warganya. Budaya yang menciptakan suasana kota yang bersemangat, tenang, dan hangat. Kehangatan budayanya digambarkan bagaimana lumrahnya ketika para pejalan kaki saling berbagi bekal makanan di atas meja lipat yang ditempatkan di sepanjang jalan. Walkable City adalah rencana kota Stockholm untuk warganya.

Kehangatan, ketenangan, suasana yang bersemangat kota, Walkable City, membawa pengaruh langsung bagi kualitas hidup warganya. Kota semakin kaya dengan interaksi manusianya. Lingkungan yang lebih sehat tercipta; kebisingan berkurang, lebih bersih, dan lebih aman bagi penduduknya dari semua usia.

Menurut Linda Kummel dari Spacescape, konsultan perencanaan kota di Stockholm, anak-anak dapat dengan aman bermain di jalan; tidak ada kerisauan mereka akan tertabrak oleh mobil. Walkable City adalah rencana kota masa depan Stockholm, menempatkan derajat warganya, manusianya, di atas kendaraan.

Alexander Ståhle, dari konsultan perencanaan kota, menunjukkan bahwa pertimbangan faktor jarak-tempuh berjalan kaki (walking distance factor) ternyata memiliki nilai moneter tertentu dihubungkan dengan toko, restaurant, budaya, perhentian ataupun transit, jalan, konektivitas, lahan parkir dan tepi laut.

Pasar properti atau tanah digerakkan oleh faktor tersebut, walking distance. Sisi ekonomi dari rencana kota Walkable City Stockholm sangat menguntungkan. Sementara keuntungan sosial dan lingkungan adalah bonusnya, imbuh Ståhle.* (Riad M)

‘PostBanner’

Comment