by

Janette Sadik-Khan: Pejalan Kaki, bukan Mobil, yang Menggerakkan Ekonomi

(Foto: Dokumen Smartcity Magazine & Online News and Information®, 2016)


Smartcitymakassar.com. –Makassar- Frommer’s, salah satu usaha jasa perjalanan wisata terpadu, memberikan tips atau kiat bagi yang hendak menikmati kehidupan kota Munich. Nikmati Munich dengan berjalan kaki. Misalnya, di siang hari, susurilah kota Munich dari English Garden, kawasan taman publik yang luas di pusat kota menuju timur laut, sebelum singgah meneguk segelas bir di Chinesischer Turm atau Chinese Tower.

Bagi yang berniat membawa cenderamata, window shops, Frommer’s menyarankan berjalan melintasi Kaufinger Strasse melewati tempat yang terkenal, Marienplatz, ‘jantung’ kota dan pusat bagi wisatawan luar dan lokal. Dari Marienplatz lalu diteruskan berjalan menuju Maximilian Straße, tempat khusus gerai desainer. Arsitektur yang hebat dan mengagumkan, taman yang sangat luas, serta sejumlah tempat menarik untuk berbelanja adalah gambaran pusat kota Munich.

Memang pusat kota Munich banyak memiliki lokasi yang sangat ramah bagi pejalan kaki (very pedestrians-friendly). Pemanfaatan lahannya tertata baik yang berlokasi saling berdekatan satu sama lain. Hal ini menciptakan pengalaman aktif bagi para pejalan kaki. Hampir di setiap jalan berjajar toko, café, museum dan bar; lokasi yang memberikan banyak pilihan untuk berbelanja, makan dan menikmati budaya Munich.

Begitu juga disarankan ketika mengunjungi kota Florence di Italia, Paris, Amsterdam, dan Dubrovnik di Kroasia. Menurut majalah versi online Time, jika Anda berada atau menetap pada salah satu kota di Washington DC, New York City atau Boston, maka moda transportasi utamanya adalah kaki.  Ketiga kota tersebut memang menempati urutan tiga teratas dalam kategori kota yang ramah bagi para pejalan kaki.

Para pejalan kaki menjadi perhatian penuh bagi pemerintah kota ataupun para desainer kota masa depan. Desain kota masa depan pun menempatkan para pejalan kaki sebagai salah satu unsur utama kota. Sebutlah misalnya car free city di Tiongkok, yang akan membangun pusat kota baru bagi 80,000 warga di luar kota Chengdu, yang keseluruhan areanya dapat diakses dengan berjalan (Walkable).

Kota Masdar di Abu Dhabi, yang mengklaim sebagai kota Metropolis paling sustainable di seluruh dunia, atau World’s first zero-carbon city, tidak akan memberikan ruang bagi mobil. Transportasinya menggunakan transportasi rapid transit system yang digerakkan oleh energi matahari, angin dan panas bumi. Di kota Wina dan Stockholm bahkan memperluas wilayah bagi pejalan kaki seperti di trotoar di sisi jalan.

Kota masa depan atau smart city menurut Alexander Ståhle dari KTH Royal Institute, Swedia, adalah kota yang diperuntukkan bagi pejalan kaki atau walkability. Kota yang inovatif adalah yang mempunyai kerapatan atau kepadatan (density) seperti pada pemanfaatan lahan atau land use. Kerapatan yang baik berarti baiknya ruang publik, dan menghubungkan tempat-tempat interaksi. Kondisi bagi pejalan kaki memerlukan kerapatan ini. Kerapatan ini tidak bergantung pada kendaraan atau mobil. Semakin tinggi kerapatan, semakin kurang penggunaan mobil, sebaliknya semakin tinggi penggunaan sepeda, transportasi publik, dan pejalan kaki.

Dari kerapatan ini Ståhle menjelaskan bahwa kota yang cerdas, atau bahkan lebih cerdas atau smarter, adalah yang memiliki kota yang mempunyai tempat interaksi yang tinggi dengan biaya lebih rendah (low cost high interaction). Tempat interaksi paling tinggi adalah di tempat kerja, lalu rumah, kemudian di tempat pejalan kaki dan paling rendah di daerah jalan raya. Interaksi yang memerlukan biaya paling rendah adalah di tempat pejalan kaki dan sepeda, menyusul tempat kerja atau kantor, dan paling tinggi di jalan raya dan stasiun kereta.

Berangkat dari kriteria low cost high interaction di atas, Ståhle mengurutkan 10 teknologi bagi kota cerdas. Tiga teknologi terbawa adalah masing-masing mobil robot, drone (pesawat tanpa awak) dan kereta kecepatan tinggi. Sementara pertama adalah sidewalk atau trotoar atau ruang pejalan kaki tepi jalan. “Adalah pejalan kaki, bukan mobil, yang menggerakkan ekonomi”, kata Janette Sadik Khan dari NYC DOT, dan “trotoar yang berkualitas merupakan elemen dasar sebuah kota demokratis”, menurut Enrique Penalosa dari ITDP, sebagaimana dikutip oleh Alexander Ståhle.

Tidaklah mengherankan jika kota-kota besar dunia menyadari dan saling berlomba guna membuat kotanya betul-betul dianggap sebagai kota pejalan kaki. Stockholm bertransformasi dari kota industri (1910), kota trem (1945), kota metro (2010), menjadi kota de-industrialisasi (2010), untuk menjadi kota pejalan kaki, Walkable city, di 2025 nanti.

Bahkan di Amerika, Kanada dan Australia sama-sama menetapkan walk score untuk memicu kota-kota mereka menjadi ramah bagi pejalan kaki. Organisasi nirlaba Walk21, yang bertujuan menghubungkan pemerintah kota, masyarakat, dan warga bersama mencapai masa depan yang ramah bagi pejalan kaki, mendeklarasikan International Charter for Walking. Piagam ini telah ditandatangani sekitar lebih dari 4,000 orang dan organisasi termasuk sejumlah pemerintah dan walikota.

Kota yang mendorong dan memberikan kepada warganya pilihan dan dapat berjalan kaki sebagai caranya untuk melakukan perjalanan ataupun kegiatan lainnya, untuk menjadi sehat, dan untuk bersantai adalah tempat yang tepat terciptanya inovasi yang lebih cepat, pertumbuhan ekonomi lebih baik, lingkungan yang lebih sehat, dan hidup. Kota ini bakal diceritakan oleh dunia. Kota dunia.* (Riad Mustafa) 

‘PostBanner’

Comment