by

Open Ship KRI Dewaruci di Makassar

Foto: Rahmat Mustafa, Smartcity Magazine & Online News and Information®, 2016

Smartcitymakassar.com. –Makassar- Semua kapal perang TNI Angkatan Laut didahului dengan singkatan KRI yang berarti Kapal Perang Republik Indonesia. Salah satunya adalah KRI Dewaruci yang namanya diambil dalam kisah pewayangan Jawa – Dewa Ruci. Kapal ini terdiri dari 3 tiang utama yaitu tiang Bima, Yudhistira, dan Arjuna serta memiliki 16 layar.

KRI Dewaruci yang berukuran 58,5 meter, lebar 9,5 meter, kecepatan penuh 10,5 knot dengan mesin, 9 knot dengan layar, dan berbobot mati 847 ton, bertugas sebagai kapal latih yang melayari kepulauan Indonesia dan juga ke luar negeri, Meski menginjak usia 63 tahun, KRI Dewaruci merupakan kapal latih tertua di Asia Tenggara dan masih laik untuk berlayar.

Segudang prestasi telah diraihnya dan mengharumkan nama bangsa Indonesia di arena internasional. Salah satunya adalah, KRI Dewaruci mengelilingi dunia sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 1964 dan 2012.

Kapal latih TNI AL yang dibuat sejak tahun 1953 kini berada di kota Anging Mammiri. Tepatnya di Pelabuhan Dermaga Layang Mako Lantamal VI, Makassar, Sulawesi Selatan. Dengan mengusung kegiatan “Asean Cadet Sail 2016” KRI Dewaruci berlayar dengan rute Surabaya-Mataram-Bali-Makassar-Balikpapan-Semarang-Surabaya.

Kegiatan ini merupakan latihan dan praktek pelayaran yang pesertanya berjumlah empat perwakilan cadet atau calon perwira terbaik Angkatan Laut dari sejumlah negara Asean yaitu, Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei, Filipina, Vietnam, Thailand, Kamboja, dan Myanmar. Tujuannya untuk menjalin persahabatan sejak dini, antar kekuatan militer di negara-negara Asean.

Selama berada di Makassar hingga Jumat nanti, KRI Dewaruci menggelar open ship untuk masyarakat umum. Seperti terlihat sore tadi (20/9/2016), antusiasme warga begitu besar, mulai dari anak-anak, siswa-siswa sekolah, para taruna akademi pelayaran, hingga orang tua, datang untuk melihat dan menaiki kapal yang mampu mengukir tinta emas di pentas dunia.* (Rahmat Mustafa)

Comment